![]() |
| Jakarta |
Berbicara manajemen konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan
(the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara
dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua
belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang
satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan
tujuan masing- masing. Subtantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok,
pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan dan
prosedur, dan pembagian jabatan pekerjaan. Sedangkan emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak
simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi
(personality clashes).
Konflik yang timbul dalam suatu lingkungan pekerjaan dapat dibagi
dalam empat tingkatan:
pertama, konflik dalam diri individu itu sendiri, konflik dalam diri seseorang dapat timbul jika terjadi kasus
overload jitu dimana ia dibebani dengan tanggung jawab pekerjaan yang terlalu
banyak, dan dapat pula terjadi ketika dihadapkan kepada suatu titik dimana ia
harus membuat keputusan yang melibatkan pemilihan alternatif yang terbaik. Kedua, konflik interpersonal, yang merupakan konflik antara satu individual
dengan individual yang lain. Konflik ini dapat berbentuk substantive maupun emotional, bahkan merupakan
kasus utama dari konflik yang dihadapi oleh para pemimpin dalam hal hubungan interpersonal sebagai bagian dari tugas
manajerial itu sendiri.
Ketiga, konflik intergrup.
Konflik ini merupakan hal yang
tidak asing lagi bagi organisasi manapun, dan konflik ini meyebabkan sulitnya
koordinasi dan integrasi dari kegiatan yang berkaitan dengan tugas-tugas dan
pekerjaan. Dalam setiap kasus, hubungan integrup harus diatur sebaik mungkin
untuk mempertahankan kolaborasi dan menghindari semua konsekuensi disfungsional
dari setiap konflik yang mungkin timbul keempat, konflik interorganisasi.
Konflik ini sering dikaitkan dengan persaingan yang timbul di
antara perusahaan-perusahaan swasta. Konflik interorganisasi sebenarnya
berkaitan dengan isu yang lebih besar lagi, contohnya perselisihan antara serikat buruh dengan perusahaan. Dalam setiap kasus,
potensi terjadinya konflik melibatkan individual yang mewakili organisasi
secara keseluruhan, bukan hanya sub unit internal atau group.
Konflik merupakan proses yang dinamis, bukannya kondisi statis. Konflik
memiliki awal, dan melalui banyak tahap sebelum berakhir. Ada banyak pendekatan
yang baik untuk menggambarkan proses suatu konflik antara lain sebagai berikut :
1.
Felt Conflict
Persepsi berkaitan erat dengan perasaan. Karena itulah jika orang
merasakan adanya perselisihan baik secara aktual maupun potensial, ketegangan,
frustasi, rasa marah, rasa takut, maupun kegusaran akan bertambah. Di sinilah
mulai diragukannya kepercayaan terhadap pihak lain, sehingga segala sesuatu dianggap
sebagai ancaman, dan orang mulai berpikir bagaimana untuk mengatasi situasi dan
ancaman tersebut.
1. Manifest Conflit
Persepsi dan perasaan menyebabkan orang untuk bereaksi terhadap
situasi tersebut. Begitu banyak bentuk reaksi yang mungkin muncul pada tahap
ini; argumentasi, tindakan agresif, atau bahkan munculnya niat baik yang
menghasilkan penyelesaian masalah yang konstruktif.
2. Conflict Resolution or Suppression
Conflict resolution atau hasil suatu konflik dapat muncul dalam
berbagai cara. Kedua belah pihak mungkin mencapai persetujuan yang mengakhiri
konflik tersebut. Mereka bahkan mungkin mulai mengambil langkah-langkah untuk
mencegah terulangnya konflik di masa yang akan datang. Tetapi terkadang terjadi
pengacuan (suppression) dari konflik itu sendiri. Hal ini terjadi jika kedua
beJah pihak menghindari terjadintya reaksi yang keras, atau mencoba mengacuhkan
begitu saja ketika terjadi perselisihan. Konflik juga dapat dikatakan selesai
jika satu pihak berhasil mengalahkan pihak yang lain.
3. Conflict Alternatif
Ketika konflik terselesaikan, tetap ada perasaan yang tertinggal.
Terkadang perasaan lega dan harmoni yang terjadi, seperti ketika kebijaksanaan
baru yang dihasilkan dapat menjernihkan persoalan di antara kedua belah pihak
dan dapat meminimasik konflik-konflik yang mungkin terjadi di masa yang akan
datang. Tetapi jika yang tertinggal adalah perasaan tidak enak dan
ketidakpuasan, hal ini dapat menjadi kondisi yang potensial untuk episode
konflik yang selanjutnya. Pertanyaan kunci adalah apakah pihak-pihak yang
terlibat lebih dapat bekerjasama, atau malah semakin jauh akibat terjadinya
konflik.
Penyelesaian yang efektif dari suatu konflik seringkali menuntut agar faktor-faktor
penyebabnya diubah. Penyebab terjadinya konflik semisal dilihat dari karakteristik individual antar orang-orang yang mungkin dapat melibatkan seseorang dalam
konflik. Misalnya : Nilai sikap dan Kepercayaan (Values, Attitude, and Baliefs), perasaan kita tentang apa yang benar dan apa yang salah, dan
predisposisi untuk bertindak positif maupun negatif terhadap suatu kejadian,
dapat dengan mudah menjadi sumber terjadinya konflik. Nilai-nilai yang dipegang
dapat menciptakan ketegangan-ketegangan di antara individual dan group dalam
suatu organisasi.
Contoh
lagi, kebutuhan dan Kepribadian (Needs and Personality). Konflik muncul karena adanya perbedaan yang sangat besar antara
kebutuhan dan kepribadian setiap orang, yang bahkan dapat berlanjut kepada
perseteruan antar pribadi. Sering muncul kasus di mana orang-orang yang
memiliki kebutuhan kekuasaan dan prestasi yang tinggi cenderung untuk tidak
begitu suka bekerjasama dengan orang lain, karena mereka menganggap prestasi
pribadi lebih penting, sehingga hal ini tentu mempengaruhi pihak-pihak lain alam organisasi tersebut. Contoh konkrit lain semisal : Perbedaan Persepsi (Persptual Differences), persepsi dan penilaian dapat menjadi penyebab terjadinya konflik.
Misalnya saja, jika kita menganggap seseorang sebagai ancaman, kita dapat
berubah menjadi defensif terhadap orang tersebut. Di satu sisi, ia juga
nganggap kita tidak bersahabat, sehingga potensial terjadinya konflik muncul
dengan sendirinya. Konflik juga dapat timbul jika orang memiliki persepsi yang
salah, misalnya dengan men- stereotype orang lain atau mengajukan tuduhan
fundamental yang salah. Perbedaan perstual sering di dalam situasi yang samar.
Kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai suatu situasi mendorong persepsi
untuk mengambil alih dalam memberikan penilaian terhadap situasi tersebut.
Sedangkan jika dilihat
dari faktor situasi terjadinya konflik
disebabkan karena : pertama,
kesempatan dan Kebutuhan Barinteraksi (Opportunity and Need to
Interact). Kemungkinan terjadinya konflik akan sangat kecil jika orang-orang
terpisah secara fisik dan jarang berinteraksi. Sejalan dengan meningkatnya
assosiasi di antara pihak-pihak yang terlibat, semakin mengikat pula terjadinya
konflik. Dalam bentuk interaksi yang aktif dan kompleks seperti pengambilan
keputusan bersama (joint decision-making), potensi terjadinya koflik bahkan
semakin meningkat.
Kedua, kebutuhan untuk Berkonsensus (Need for Consensus). Ada banyak hal di mana para manager dari departemen yang berbeda
harus memiliki persetujuan bersama, hal ini menolong menekan konflik tingkat
minimum. Tetapi banyak pula hal dimana tiap-tiap departemen harus melakukan
konsensus bersama. Karena demikian banyak pihak yang terlibat dalam
masalah-masalah seperti ini, proses menuju tercapainya konsensus seringkali
didahului dengan munculnya konflik. Sampai setiap manager departemen yang
terlibat setuju, banyak kesulitan yang akan muncul.
Ketiga, ketergantungan satu pihak kepada Pihak lain (Dependency of One
Party to Another). Dalam kasus seperti ini, jika satu pihak gagal melaksanakan
tugasnya, lak yang lain juga terkena akibatnya, sehingga konflik lebih sering
muncul. Keempat, perbedaan status (Status Differences). Apabila seseorang bertindak dalam cara-cara yang kongruen dengan
statusnya, konflik dapat muncul. Kelima, rintangan Komunikasi (Communication Barriers). Komunikasi sebagai media interaksi diantara orang-orang dapat
dengan mudah menjadi basis terjadinya konflik. Bisa dikatakan komunikasi oleh
pedang bermata dua: tidak adanya komunikasi dapat menyebabkan terjadinya
konflik, tetapi disisi lain, komunikasi yang terjadi itu sendiri dapat menjadi
potensi terjadinya konflik. Sebagai contoh, informasi yang diterima mengenai
pihak lain akan menyebabkan orang dapat mengindentifikasi situasi perbedaan
dalam hal nilai dan kebutuhan. Hal ini dapat memulai konflik, sebenarnya dapat
dihindari dengan komunikasi yang lebih sedikit.
Kelima, Batas-batas tanggung jawab dan Jurisdiksi yang tidak jelas
(Ambiguous tesponsibilites and Jurisdictions). Orang-orang dengan jabatan dan tanggung ajwab yang jelas dapat
mengetahui apa yang dituntut dari dirinya masing-masing. Ketika terjadi
ketidakjelasan tanggung jawab dan jurisdiksi, kemungkinan terjadinya konflik
jadi semakin besar. Sebagai contoh, departemen penjualan terkadang menemukan
dan memesan material di saat departemen produksi mengklaim bahwa hal tersebut
tidak diperlukan. Bagian produksi kemudian akan menuduh departemen penjualan
melangkahi jurisdiksi mereka, sehingga konflik pun muncul tak henti-hentinya.
Hal ini dapat menyebabkan terlambatnya dipenuhi permintaan pasar, hilangnya
pelanggan, bahkan mogok kerja.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa anda
sudah seharusnya memiliki keterampilan komunikasi dan penanganan konflik yang
tentunya dapat membantu mereka mengimplementasikan keputusan-keputusan untuk
mendukung proses pencapaian tujuan suatu organsiasi. Untuk dapat mencapai hal
ini, anda sebagai pemimpin harus dapat mengenali hambatan-hambatan yang dapat
mengganggu efektivitas komunikasi yang dapat memacu terjadinya konflik. Keterampilan komunikasi yang baik dapat mengklarifikasi konflik yang timbul serta
dapat memperkecil konsekuensi negatif dari konflik itu sendiri terhadap
individual dan organsiasi.
Anda dituntut untuk memahami akar dari sebuah konflik, mendiagnosis situasi
konflik untuk dapat menemukan substansi spesifik dan perbedaan emosional
lainnya yang mendasari terjadinya konflik tersebut sehingga dapat ditemukan
sebab- sebab dari perbedaan ini. Orang menangani konflik dengan berbagai cara, tetapi hanya pendekatan
penyelesaian masalah yang dapat menghasilkan resolusi konflik yang murni.
Berbagai strategi konflik harus diketahui oleh seseorang, sehingga dapat diputuskan strategi mana yang cocok untuk
berbagai macam konflik yang dihadapi.
Pada akhirnya, hubungan interpersonal seseorang menghadirkan kesempatan untuk meningkatkan atau malah
mengurangi kesuksesannya dalam menangani konflik. Terlatihnya seorang seseorang dalam komunikasi dan proses konflik akan menempatkan posisinya
sebagai salah satu titik yang paling penting dalam kesuksesan suatu institusi apapun itu namanya. Convention hall
1, UIN Sunan Kalijaga. Silahkan rekomendasi
bacaan buku pagi ini diantaranya : pertama, bukunya : Schermerhom, Jr, John R., James G. Hunt and Richard N. Osborn, Managing Organizational Behavior, John Wiley & Sons,lnc., New York, 1985. Kedua, Tosi, Henry L. John R. Rizzo,and Stephen J. Carrol. Managing Organizational Behavoir, Ballinger Publishing Company, Cambridge, Massachusetts, 1986. Selamat menikmati.

hbat skarang mah good luck...
BalasHapuspandangan tentang hebat, ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salah...hehehe.. tapi yang pasti disini pernah di arahkan, di bimbing oleh kang didin di MMA dulu. alias (Ncev Asegaf), pokoknya makasih banyak dech.., telah mewarnai pemikiran ezi pada saat itu.
BalasHapus