Translate this written according your language!

Sabtu, 30 April 2016

KECANTIKAN SOSIAL (Sebuah Realitas Di Negeri Ini)


Tentu, dengan menulis ini, saya tak sedang bersikeras bahwa persoalan simbol kecantikan lebih penting dibincangkan ketimbang, misalnya, upah buruh, pengangguran, biaya pendidikan, pemilu, atau konflik berdarah. Ya, kecantikan memang tak berkaitan dengan perkara “hidup-mati”. Tapi hidup memang bukanlah sebuah daftar pilihan tindakan yang disusun dalam skala prioritas dan mesti dilaksanakan secara linier. Hidup bukannya, seperti kata sebuah iklan susu, “ini dulu, baru itu”. Kadang ada banyak hal yang, mau tak mau, harus dikerjakan dan dipikirkan serentak dan paralel.
Lagi pula perbincangan tentang sisi-sisi lain kenyataan, yang tak politis-radikal revolusioner, bisa jadi semacam variasi yang cukup rekreatif. Dan seperti yang akan coba dibuktikan dalam tulisan ini, perdebatan soal kecantikan bukannya tanpa guna sama sekali. Selain sebagai intellectual exercise yang rekreatif, diskusi ini juga akan menunjukkan bahwa dalam kecantikan ada mekanisme tersembunyi yang sifatnya sosial. Al-Hasil, jika kecantikan saja yang  kerap diyakini sebagai obyektif dan mutlak ternyata socially constructed, maka pelbagai institusi dan klaim kebenaran lainnya bisa dicurigai juga sebagai hasil bentukan sosial yang mungkin sarat dominasi dan kekerasan dan karenannya bisa dan harus dibongkar.

MENGUNJUNGI ANGKRINGAN "POSTMO" ?

Saya menyebut istilah "Posmodernisme" itu semacam hantu, bisa saja, nama posmo di taruh di berbagai materi termasuk angkringan posmo, lalu apa itu mengunjugi angkringan posmo itu sendiri ? kalau saya berpendapat namanya mengunjungi, ya semacam mengenalkan, mengantarkan, ya refleksi posmodernisme hari ini. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh soal angkringan, tapi lebih pada pengantar apa itu posmodernisme. Orang bisa ngotot menganggapnya tidak ada dan omong kosong. Meskipun orang bisa juga bersikukuh menganggapnya kenyataan paling real hari ini. Orang bisa bilang bahwa itu mode intelektual yang sudah mati, atau malah keguguran sebelum lahir. Akan tetapi, bisa juga sebaliknya: paradigma yang baru saja lahir dan sedang berkembang kini. Istilah itu menyandang demikian banyak nuansa yang campur aduk, sehingga argumentasi apa pun sepertinya bisa saja diterima.

Jumat, 29 April 2016

KARAKTER PEMIMPIN YANG SANGAT LUAR BIASA



Menarik sebetulnya jika membahas  pemimpin yang tentu tidak akan ada habinya untuk dibicarakan, pemimpin yang dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat sangat sulit untuk didapatkan, karena segala yang dijalankan pemimpin hanya berhubungan untuk mengendalikan, mengontrol, menata dan mengatur kehidupan yang terjadi. Pada suatu negara sangat dibutuhkan pemimpin yang selalu mampu mempertanggung-jawabkan seluruh kebijakannya, entah dalam pemilihan kebijakan terjadi kesalahan kecil atau terdapat hal-hal baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan bermasyarakat, adil dan makmur.
Senantiasa pemimpin selalu memiliki beban tanggung jawab yang berat untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, terkadang pada saat menentukan kebijakan sering terjadi kesalahan, mungkin ada kebingungan atau ketidakpastian sewaktu menganalisa sebuah permasalahan dan pencarian atas solusi dari tiap permasalahan. Beberapa kriteria pemimpin yang dibutuhkan guna meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat diantaranya : pertama, memiliki orientasi yang jelas “adanya perencanaann, proses dan kinerja yang professional”. Kedua, mengelola, mengatur dan melestarikan sumber daya secara transparan “adanya laporan yang detail pada setiap kinerja”. Ketiga, melalu menjaga nilai-nilai keadilan “tidak membeda-bedakan stratifikasi sosial, politik dan keagamaan”. Keempat, mampu menganalisa tiap permasalahan dan meninjau solusi yang tepat, tanpa terjadi sedikit kesalahan dalam melaksanakan kinerjanya.

Rabu, 27 April 2016

RAHASIA SUKSES YANG JARANG DI KETAHUI ?

Dalam istilah bahasa inggris dikatakan bahwa : If you want to get manything  finally you get nothing!  Demikian nasihat banyak tokoh yang sudah mendalami entrepreneur unggulan di negeri ini. Intinya, mereka semua ingin menekankan pentingnya kekuatan fokus. Memang, dalam hidup ini kita tidak bisa menggapai semua hal sekaligus. Logika sederhananya, jika kita mengejar sepuluh ekor kelinci pada saat bersamaan, hampir bisa dipastikan kita tidak akan memperoleh satu pun. Sebaliknya kalau kita memfokuskan perhatikan kepada salah satu dari sepuluh ekor tadi, niscaya kita akan lebih mudah menangkapnya.

Selasa, 26 April 2016

TERNYATA ADA ULAMA PEREMPUAN ?

 
            Perbincangan dan pembahasan tentang pemberdayaan perempuan dalam doktrin Islam telah banyak dilakukan. Di tengah arus gencarnya perdebatan “Al-Quran dan Hadis” sebagai obyek kajian normative maupun historis dalam studi keislaman di era modern dan zaman IPTEK (science and technology era), perempuan merupakan sosok yang tidak pernah tertinggalkan. Kajian tentang gender, feminisme, poligami dan lain-lain menambah hangat perdebatan-perdebatan tersebut.
Bagaimana Islam dengan teks-teks normatifnya memandang perempuan yang menurut sebagian masyarakat, kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat Islam agak menyedihkan. Mereka dijauhkan pada sesetengah majlis syarahan agama, dikenakan beberapa peraturan yang ketat, atau disifatkan lebih rendah daripada kaum lelaki. Mereka menjadi mangsa keganasan lelaki, mangsa dalam perceraian, mangsa yang digantung tidak bertali, atau mangsa yang sanggup membuang bayi yang dilahirkannya dengan banyak kepayahan. Kemelut ini berpuncak dari kejahilan yang terbit dari input yang tidak sempurna dalam didikan agama. Input yang dimaksudkan ialah ajaran dari pada Allah yang terkandung di dalam al-Qur’an.

Senin, 25 April 2016

DEKONSTRUKSI WACANA PEREMPUAN NISCAYA DI AJUKAN



Perdebatan-perdebatan tentang ketidak adilan, diskriminasi peran dan pelanggaran-pelanggaran hak-hak wanita merupakan salah satu diskursus yang selalu hangat untuk di bicarakan, karena menghiasi peta pemikiran Islam di Inedonesia. Ia merupakan bagian yang inhern dengan wacana perempuan lebih tepatnya  gender. Disatu sisi kelompok pemikiran yang menganggap perempuan sebagai system hubungan laki-laki dan perempuan didalam struktur masyarakat saat ini telah sesuai dengan ajaran Islam. Karenanya, tidak perlu diemansipasi lagi. Golongan ini, sering disebut sebagai kelompok yang menikmati dan diuntungkan oleh struktur dan system hubungan laki-laki yang ada, sehingga usaha-usaha untuk melanggengkannya sebagai yang diutamakan.

Minggu, 24 April 2016

INDONESIA HARUS TERBANG TINGGI MELEWATI BATAS-BATAS KEINDONESIAAN

 
Harus dimulai dari manakah pembicaraan tentang sejarah masyarakat Indonesia diawali? Indonesia sendiri adalah konsep yang sampai saat ini tidak kunjung usai diperdebatkan asal-usul kemunculannya. Bisa saja sebagai konsep geopolitik ia sudah selesai tapi dalam konteks kultural-historis? jawabannya mungkin bisa apa saja, seperti yang digaungkan oleh Moh. Yamin bahwa Indonesia sudah ada semenjak Sumpah Palapa-nya Gadjah mada di tahun 1331, ataupun nostalgia-nostalgia terhadap kejayaan Majapahit dan Sriwijaya. Kesamaan akan kolonialisme pun dipakai untuk membingkai negara-kebangsaan kita

Sabtu, 23 April 2016

KRISIS FILOSOFI HIDUP DALAM NEGERI INI (Refleksi Pendidikan Kritis)


Wacana tentang Pendidikan kritis melalui pendidikan seolah tidak ada habisnya untuk diperbincangkan oleh para pemikir pendidikan hingga saat ini. Dan topik itu sendiri hingga menjalar kedalam pendidikan ditanah air. Jika diamati lebih dalam, saya kira tidak lebih dari apa yang disebut dengan pabrik intelektual.Sedangkan hakikat pendidikan seutuhnya seakan terabaikan begitu saja. Mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai sejatinya. Digantikan dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan watak dan wawasan para intelektual kita yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

KARTINI YANG TERLUPAKAN ?

Setiap tahun, perbincangan kartini akan terus hangat di bicarakan,  di sini kita lihat bahwa kartini adalah sebuah contoh ambivalensi dalam wacana kolonial. kita tahu, kolonialisme (atau imperialisme) adalah puncak kapitalisme pada zaman itu. kapitalisme sendiri merupakan buah dari pencerahan, yaitu ide manusia sebagai subyek yang mandiri, yang mengalahkan alam dan yang di luar diri, yang membawa kemajuan, seperti yang digambarkan dalam manifesto komunis, akan tetapi juga penjajahan. ketika si kolonialis berada di negeri jajahan, dia bertemu dengan “yang lain”, pihak yang dijajah yang di luar dirinya. harus diapakankah orang-orang ini? karena semangat pencerahan adalah membawa kemajuan maka salah satu proyek kolonialisme adalah pendidikan. di hindia belanda itu dicerminkan dalam “politik etis,” untuk menularkan semangat kemajuan dan pencerahan pada yang lain.

Kamis, 21 April 2016

PEMERINTAHAN KITA : JUDGMENT MORAL GOOD ATAU BAD


Kali ini saya akan membahas persoalan yang agak sedikit rumit, karena banyaknya tafsir soal pemerintah yang diwacanakan sebagai sarang inefisiensi, korupsi dan dan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Derasnya arus pewacanaan tentang korup pemerintah, diam-diam berkembang asumsi bahwa eksponen non-pemerintah lebih bisa diandalkan. Dibalik pelucutan peran birokrasi pemerintah diam-diam berkembang asumsi bahwa penyelesaian kepentingan publik lebih lebih baik dilakukan dengan mengandalkan mekanisme pasar. Penyelesaian kepentingan publik yang menggunakan logika komando dan kontrol (command and control) perlu digantikan oleh penganan masalah berbasis transaksi suka-sama-suka dalam mekanisme pasar. Untuk menandai siginifikansi dari itu semua, kita semua diajak melakukan migrasi intelektual dengan sesedikit mungkin menggunakan istilah government dan mempopulerkan istilah governance.


Rabu, 20 April 2016

"INILAH AKU" bukan “INILAH AYAHKU”




Kita semua tahu bahwa Indonesia, negeri yang kaya dengan corak nilai rasa, karya, dan karsa. Termanifestasi dalam setiap budaya, tradisi, dan adat istiadatnya. Semua itu, kini lambat laun mulai kehilangan subtansialnya. Semangat patriotisme dan optimistis pemuda tidak terasa lagi dalam semangat pemuda abad 21 ini. Akhirnya, bentangan panjang impian negeri yang aman, makmur, adil, dan sejahtera tidak kunjung terwujud di negeri ini. Realita ini bukanlah hal yang berjalan alami dan baik-baik saja (Natured). Guncangan perubahan ini terjadi tidak lepas dari by design dan control kolompok tertentu dengan akses kekuasaan dan kepentingan yang mereka miliki. Semua itu tidak lain adalah untuk melemahkan peran pemuda pada wilayah tertentu.  Dan apa yang menjadi perubahan akan perkembangan ini, sangat erat kaitannya dengan istilah Modernitas.

MANAJEMEN KONFLIK SEBAGAI SUATU PROSES

Jakarta

Berbicara manajemen konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing- masing. Subtantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan dan prosedur, dan pembagian jabatan pekerjaan. Sedangkan emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi (personality clashes).

Senin, 18 April 2016

EVALUASI KRITIS TERHADAP “ISLAMIC STUDIES” KITA ?


Meminjam istilahnya Hassan Hanafi, bahwa kita perlu membangun kembali tradisi dengan menganggap berbagai khazanah keilmuan tersebut sebagai sesuatu yang berubah-ubah dan bersifat historis agar dapat diapresiasikan dengan modernitas. Hassan Hanafi menunjuk sejumlah ilmu-ilmu atau pemikiran Islam klasik seperti Ilmu Kalam, Filsafat (al-Hikmah), Tasawuf, Usul Fiqh, Fiqh, Ilmu Tafsir, dan Ilmu Hadis, Ia menjelaskan bahwa pemikiran Kalam Klasik terlalu teoritis, teosentris,elitis, dan konsepsional yang statis. Sedangkan Hanafi menghendaki Ilmu Kalam itu bersifat antroposentris, praktis, populis, transformatif, dan dinamis. Untuk mentransformasikan ilmu-ilmu serta pemikiran klasik menjadi ilmu atau pemikiran yang bersifat kemanusiaan, Hanafi memberikan penawaran dengan beberapa langkah berikut ini.

DILEMA ISLAMIC STUDIES ATAUKAH ISLAMIC DOCTRINE ?

Add caption

Para mahasiswa dan juga para dosen, seringkali, masih sulit membedakan secara tegas-proporsional di mana wilayah keilmuan dan di mana wilayah keagamaan. Sifat keilmuan yang lebih menuntut sikap kritis, analitis, metodologis, rasional, historis dan empiris serta penonjolan sikap sebagai “pengamat”, berbeda dengan sikap keagamaan yang lebih menuntut pada pemihakan subyektif-sepihak (involved), taqlidiyyah, amalan-amalan praktis dan penonjolan sikap sebagai “aktor”. Adanya dilemma dan sekaligus ketegangan tersebut, sebenarnya, tidak perlu terlalu dirisaukan lantaran sebenarnya di dalamnya terkandung dinamika internal yang secara dialektis-timbal balik memberi manfaat bagi kedua sisi tuntutan tersebut.

Masing-masing mempunyai fungsi dan perannya sendiri-sendiri, tanpa harus mengetepikan yang satu dan lainnya. Jika salah satu sisi tuntutan tersebut mencoba mendominasi dan lebih-lebih menyingkirkan yang lain, maka ketegangan yang semula bersifat kreatif tersebut berubah menjadi “dominasi” yang mematikan kreatifitas. Para agamawan yang committed dan involved akan kurang apresiatif terhadap kegiatan keilmuan dan begitu pula sebaliknya, para ilmuan dalam wilayah “Islamic Studies” bisa jadi kurang apresiatif terhadap nilai-nilai norma keagamaan yang bersifat eksistensial-substansial dan sekaligus fungsional.
Berbeda dari aktifitas dan ruang gerak apa yang sering disebut “Religious Studies” atau “Comparative Study of Religions” atau History of Religions” (Religion-wissenschaft), sikap mental dan metodologi kritis-historis-fenomenologis jauh lebih ditekankan, maka kinerja “Islamic Studies” (Dirasat lslamiyah) di lAIN, STAIN,UIN dan PTKIN, selama ini secara umum, agaknya, masih jauh lebih banyak terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis, apologis sehingga kadar muatan analisa kritis, metodologis, historis-empiris, terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah-naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan, kecuali dalam lingkungan para peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.
Sampai kapanpun pertanyaan bagaimana bentuk hubungan yang proporsional antara sifat keilmuan Islamic Studies atau Dirasat Islamiyyah di lAIN, STAIN,UIN atau  PTKIN di satu pihak, dan sifat lembaga keagamaan Islam di lain pihak akan selalu timbul-tenggelam sepanjang masa. Sekali waktu formulasi pertanyaan tersebut kadang malah lebih menyudutkan apakah ada manfaatnya mengkaji Islam as a living tradition hanya sekedar dimaksudkan untuk memuaskan kehausan intelektual, dalam arti, kurang begitu terkait dengan aspek amalan dan normatifitas-moralitas keagamaan? Bukankah Islam, aturannya, memang tidak perlu dikaji secara kritis-historis seperti model kajian Islamic Studies di Barat lantaran Islam banyak cukup untuk diamalkan saja dan tidal perlu  dikaji dan dikupas secara kritis-historis?

Sabtu, 16 April 2016

DIALEKTIKA PESANTREN DENGAN MODERNISME

One Day One Knowledge
Bahwa pesantren, sebagai institusi pendidikan asli Indonesia yang lebih tua dari Indonesia itu sendiri, adalah 'legenda hidup' yang masih eksis hingga hari ini. Dalam pandangan Dr. Nurcholish Madjid, eksistensi pesantren ini lebih dikarenakan pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi karakteristik eksistensialnya mengandung arti keaslian Indonesia(indigenous). 

Jumat, 15 April 2016

SIKAP MODERAT, NETRAL DAN TOLERAN DALAM KESEHARIAN


Kita menyadari bahwa peran pesantren dalam upaya menjaga kesimbangan antara dimensi-dimensi ekstrimitas sikap keislaman dengan  mayoritas umat Islam di Indonesia yang bersikap tasamuh (moderat, toleran) masih sangatlah kuat, sehingga pesantren menjadi basis organisasi masyarakat Islam Nahdhatul Ulama yang berhaluan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Aswaja). Hal ini disebabkan bahwa pesantren menjadi basis tradisionalis yang selalu menjunjung tinggi hak umat Islam di Indonesia yang memiliki prinsip ta’adul (tidak memihak kepada siapapun), tasamuh (toleran, moderat), tawassuth (memilih jalan tengah), tawazun (menjaga keseimbangan), sehingga keberadaan pesantren menjadi sangat penting dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang plural. NU senantiasa memelihara keberadaan pesantren yang mampu menjadi budaya Islam tradisonal di Indonesia.  Ahlussunnah wal Jama'ah yang dikembangkan oleh NU memiliki prinsip-prinsip dasar yang menjadi rujukan bagi tingkah laku sosial dan pemahaman keagamaan warga NU terutama di Pesantren.

ANTARA KITAB PUTIH & KITAB KUNING

Saya yakin anda semua tahu bahwa istilah kitab kuning memang akrab dengan dunia pesantren, terutama pesatren yang  salaf, karena memang di sana dibahas dan dikaji kitab kuning.
  Meskipun definisi tentang kitab kuning itu sendiri belum baku, dan umumnya  dikonotasikan dengan kitab-kitab klasik yang disusun oleh para ulama Timur tengah pada abad pertengahan,  dan kebanyakan berupa kitab fiqh, aqaid, tafsir, dan tasawuf. 

Rabu, 13 April 2016

Berpikir Sosiologis ? TERHADAP SEBUAH MASALAH


Hal tersulit dalam mempelajari sosiologi bukanlah menghafalkan, memahami ataupunmenerapkan teori-teori atau paradigma sosiologi yang ada, melainkan bagaimana berpikir sosiologis ketika bertemu pada suatu masalah, apapun itu. 
Makanya disini saya pagi ini meminjam istilahnya Macionis (1997) untuk menawarkan tiga kerangka berpikir sosiologis, yaitu:
Pertama, Melihat keseluruhan melalui sebagian. Berpikir sosiologis ibarat seorang ilmuwan mikrobiologi yang mengguna-kan mikroskop dalam melihat DNA untuk mengetahui asal-usul seorang manusia. Jadi, sosiolog tidak perlu melihat keseluruhan. Karena tidak mungkin kita akan meneliti semua anggota masyarakat. Dalam metodologi cara berpikir macam ini diturunkan menjadi teknik sampling. Cara melihat semacam ini jarang dilakukan oleh disiplin lain. Antropologi, misalnya, hanya melihat pada ‘sebagian’ itu secara mendalam. Psikologi pun cenderung melakukan hal serupa. Sosiologi berusaha melakukan generalisasi, inilah ciri khas sosiologi, sekaligus kelemahannya;

Selasa, 12 April 2016

HOWEVER...! APA HUBUNGAN SOSIOLOGI DENGAN KEHIDUPAN NYATA ?

Tidak sedikit mahasiswa baru sosiologi, bahkan yang lama sekalipun bertanya-tanya tentang apa guna ilmu yang dipelajarinya? Apa hubungan sosiologi dengan kehidupan nyata, alias dunia profesi yang akan dihadapinya. Tulisan ini dibuat untuk meningkatkan motivasi pribadi dan sekaligus nilai-nilai sosial pendukung setiap maha-siswa sosiologi dalam mempelajari ilmunya. Bahwa ternyata cukup banyak hal yang bisa dilakukan setelah mempelajari sosiologi, tentu dengan usaha serius. Setidaknya saya memberikan gambaran mahluk apakah sosiologi itu ? dan apa jenis kelaminnya ?
adapun asal mula ‘sosiologi’, sudah banyak tokoh yang mencoba mengamati manusia dan masyarakat. Mulai Konfusius (551-479 SM) di Cina; Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) di Yunani; Ibn Kaldun (1332-1406) di Arab; bahkan sastrawan ternama dari Inggris William Shakespeare (1564-1616) pun telah membuat refleksi tentang kehidupan manusia pada jamannya masing-masing. Namun, tokoh-tokoh tersebut masih lebih tertarik untuk membayangkan masyarakat yang ideal atau masyarakat yang seharusnya, tanpa melihat masyarakat sebagai apa adanya. Suatu pendekatan yang positivis memang, namun itu adalah lajur yang mungkin harus ditempuh untuk mencapai pada tahap-tahap selanjutnya.

Senin, 11 April 2016

SOCIAL NEEDS AND DEMAND : Mensinergikan Tradisionalisme Pesantren Dengan Modernitas Dalam Konteks Praktek Pengajaran

Mengenang kembali guru saya al-Magfurlah KH Imam Yahya Mahrus (Al-Marhum), dimana saya pernah belajar kepadannya. Beliau KH. Imam Yahya adalah pengasuh pondok pesantren al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri. Beliau pernah mengatakan dalam acara Haflah Akhirusannah kepada seluruh santri bahwa pesantren-pesantren tradisional atau salaf diharapkan untuk  tetap mempertahankan  tradisinya misalnya sorogan kitab, bandongan, halaqah, sholat jama’ah, istighotsah, manakib, dibaiyyah, hadroh dan  tradisi salafi lainnya. Pesan itu menjadi penting dan mendesak mengingat saat ini tradisi-tradisi salafi diserang dari berbagai penjuru. selain oleh arus budaya global, tradisi-tradisi pesantren salaf setidaknya terancam  punah oleh dua hal  yang nampak di depan mata, yakni tuntutan untuk memperoleh ijazah yang setara dengan pendidikan umum dan peran aktif pesantren dalam kancah politik praktis.

Minggu, 10 April 2016

CARA MEMAHAMI KERANGKA BERFIKIR SESEORANG DENGAN ANALISIS TEORI SOSIAL

Analisis sosial secara sederhana dapat kita sebut sebagai sebuah alat, yang selanjutnya bisa disebut sebagai metode untuk memahami realitas sosial-lingkungan sekitar, global maupun lokal. Dalam studi ilmu-ilmu sosial, untuk menganilisis kondisi sosial maka kita harus berpijak dalam empat paradigma yang didasarkan pada perbedaan anggapan metateori tentang sifat dasar ilmu sosial dan sifat dasar dari masyarakat. Empat paradigma tersebut yang dibangun atas pandangan-pandangan yang berbeda mengenai dunia sosial satu dengan yang lain adalah humanis, strukturalis, fenomenologis dan fungsionalis.
Untuk menuju ke metode seperti apa yang layak dimbil, maka kita harus berangkat dari asumsi dasar yaitu ontologis, epistemologis, kecenderungan dasar manusia (human nature) dan metodologi. Asumsi tentang ontologis dalah berawal dari pertanyaan “apa”. Jadi asumsi ontologis ini adalah apakah kenyataan diteliti sebagai sesuatu di luar yang mempengaruhi atau merusak di dalam seseorang ataukah kenyataan itu justru hasil dari kesadaran seseorang. Sedangkan asumsi epistimologis berawal dari pertanyaan “bagaimana”. Jadi bagaimana seseorang mulai memahami dunia sosial dan mengkomunikasikanya sebagai pengetahuan kepada orang lain.

Sabtu, 09 April 2016

SUKSES: DISITULAH KEMUDIAN DISIPLIN ITU HADIR (Isi hari-harimu dengan menginspirasi banyak orang)

#OneDayOneKnowledge
SUKSES: DISITULAH KEMUDIAN DISIPLIN ITU HADIR
(Isi hari-harimu dengan menginspirasi banyak orang)

Kemaren saya berkunjung kerumah prof. Musya As’ari di yogyakarta, salah satu resep sukses beliau adalah soal disiplin waktu, maka nya pagi ini saya akan menjelaskan seputar disiplin versi saya. Bahwa waktu berganti begitu cepat, dia tak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu gunakan selalu waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan waktu berlalu dari hal-hal yang kurang bermanfaat. Jangan biarkan waktu meninggalkanmu tanpa rekam jejak yang gemilang.
Bila anda seorang guru, maka berilah contoh atau keteladanan soal waktu. Peserta didik anda akan melihat bagaimana anda memanfaatkan waktu. Bila anda tak mampu memberikan contoh yang baik, lebih baik mundur saja menjadi guru. Pilih saja profesi lainnya yang anda sukai. Waktu itu bagaikan pedang. Dia bisa membunuh siapa saja. Namun kalau kita mampu memanfaatkannya, maka waktu akan melindungi kita dari kemalasan diri. Siapa yang malas, tak akan pernah naik kelas.
Disiplinlah dengan waktu. Atur waktu sebaik mungkin. Mulai dari tidur sampai hendak tertidur lagi, manfaatkan waktumu untuk bermanfaat buat orang banyak. Isi hari-harimu dengan banyak menginspirasi orang banyak. Penulis masih teringat pesan orang tua saya. Jika kamu memanfaatkan waktu dengan baik, maka kamu akan menjadi manusia yang sukses di duniadan akhirat. Kesuksesan itu akan terlihat seiring dengan kedisiplinanmu soal waktu. Jangan pernah sia-siakan waktumu hanya untuk melakukan hal-hal yang tiada berguna. Setiap menit dalam hidupmu sangatlah berharga.
Bermalas-malasan adalah musuh utamamu. Waktu terus bergerak dari detik ke menit, lalu dari menit ke jam. Dari jam akan terus berganti hari. Ketika waktu yang diberikan Tuhan untukmu selama 24 jam kau gunakan dengan baik, maka akan ada keajaiban kau temui. Akan ada kedahsyatan kau lihat, dan akan ada rezeki yang terus mengalir seperti mata air yang tak pernah habis diambil airnya. Keajaiban waktu akan kau temukan ketika engkau disiplin soal waktu. Lakukan berbagai pekerjaan atau aktivitasmu dengan disiplin yang tinggi. Usahakan selalu tepat waktu. Apalagi bila engkau mendirikan sholat 5 waktu. Jangan pernah terlambat untuk sholat berjamaah di Rumah Allah. Masjid/musholla  harus menjadi tempat dimana kita mengadu kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.
Wahai para guru ! Disiplinlah soal waktu. Ajari peserta didikmu untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ajarkan mereka dengan keteladananmu dan berilah contoh tanpa harus banyak bicara. Isilah hari-harimu dengan senyuman, agar dunia terlihat indah dan menyenangkan. Jam karet, jam waktu Indonesia berubah (WIB) mungkin hampir semua manusia Indonesia sering melakukannya, dan lebih celakanya hal ini telah menjadai tradisi dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik dalam melakuakan rutinitas, pekerjaan dan kegiatan peribadatan. Yah mungkin ada benarnya juga kata-kata yang sering dengar bahkan sering kita ucapkan “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.
Seandainya setiap pekerjaan bisa kita lakukan dengan tepat waktu, betapa kita dapat menghemat tenaga dan pikiran kita untuk pekerjaan yang lainnya tanpa harus terkuras pada satu pekerjaan saja. “Time’s Money” istilah yang sering kita dengar atau yang sering kita utarakan dari mulut kita sendiri, yang berasal ungkapan masyarakat Barat. Memang kedengarannya seperti matrealistis, tapi khan dalam hidup ini kita butuh uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Celakanya lagi lelet atau dalam bahasa indonesianya lambat, telah mendarah daging pada diri kita dari pekerjaan yang sepele hingga yang rumit.
Contohnya saja begini seorang mahasiswa/pelajar pada umumnya akan lebih sibuk belajar pada saat menjelang ujian, bahkan rela belajar semalam suntuk utuk mengejar atau mendapatkan nilai yang sempurna. Seandainya saja didalam dirinya itu sudah terbiasa untuk berdisiplin dalam belajar akan lain ceritanya. Bisa kita ibaratkan mahasiswa itu sebuah teko yang akan di isi langsung dengan ember, pasti air dalam ember itu akan banyak yang tumpah di banding yang masuk dalam teko tersebut. Berbeda jika kita masukkan air kedalam teko dengan menggunakan gayung dan corong. Secara rasio otak manusia itu tak akan bisa memasukkan sesuatu informasi yang banyak dalam waktu yang singkat. Sudah saatnya kita mencoba mempraktekan dalam kehidupan kita sehari-hari ini untuk berdisiplin, karena dengan disiplin kita bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tepat waktu dan hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.
Sebenarnya, saya menulis ini buat menjadi bahan pengembangan diri bagi saya bisa jadi bagi anda juga. Karena sebenarnya yang benar itu adalah, bahwa tuntutan hidup itu, suka atau tidak suka sudah menanti kita, hidup ini demikian terpola, dan tidak bisa kita ubah seenaknya kita, itu kalau kita ingin hidup kita mengalami peningkatan kualitas. Misalnya begini ya, saat kecil seorang bayi selalu dibangunkan oleh ayah atau ibu pada pagi hari untuk dimandikan kemudian disusui dan dibuai lagi hingga terlelap, 2-3 jam kemudian kemudian disusui lagi agar si bayi ini tidak merasakan lapar dan kekurangan gizi yang menunjang pertumbuhannya, lalu bayi ini tertidur lagi, dan demikian selanjutnya hingga sore hari dan sibayi di mandikan lagi oleh orang tuanya. Hal ini dilakukan oleh hampir setiap orang tua agar bayi kesayangan mereka sehat dalam masa pertumbuhannya. Sadar atau tidak, orang tua si bayi tadi begitu disiplin menjalankan pola tersebut, karena jika sedikit saja pola hidup sibayi tadi diabaikan, mereka khawatir akan berdampak negatif pada si bayi.
Maka disiplin menurut hemat saya adalah bentuk tanggung jawab, tanggung jawab terhadap sebuah komitmen yang kita hadirkan dalam hidup, sengaja ataupun tidak, sadar ataupun tidak. Disiplin disini erat kaitannya dengan waktu, atau yang lazim disebut disiplin waktu, misalnya disiplin dalam menjalankan ibadah tepat waktu, disiplin masuk sekolah tepat waktu, disiplin hadiri perkuliahan tepat waktu, disiplin masuk kantor tepat waktu, dan lain sebagainya. Karena aktifitas yang kita lakukan itu beragam, maka disiplin pun saya katakan kondisional, tergantung aktifitas kita apa, yang jelas ada waktu yang harus ditepati disetiap aktifitas kita, di situlah kemudian DISIPLIN itu hadir.
Bukankah kita sering diajarkan untuk disiplin dalam hidup. Disiplin dalam menepati janji, disiplin berlalu lintas, disiplin bangun pagi, dan sederet kewajiban dan pakem lainnya. Sekarang pengen ngebahas tentang disiplin kita untuk memenuhi kewajiban kita memenuhi kebutuhan diri sendiri. Realita sekarang orang melulu mementingkan tanggung jawabnya terhadap pekerjaan, orang lain, rasa tidak enak terhadap sesama. Bagaimana dengan kebutuhan diri untuk beristirahat? Kebutuhan diri untuk berbahagia? Disiplinlah. jangan membawa pekerjaan dan masalahnya ke rumah/kos. Ketika pulang tinggalkan semua beban pekerjaan anda di kantor/dikampus. kita punya kewajiban untuk beristirahat pikiran agar bebas dari stress dan istirahat badan. Ini juga bentuk tanggung jawab anda terhadap pekerjaan agar kita dapat 100% ketika memulai hari, kita memulai hari kita dengan pikiran dan badan yang fresh.
Berliburlah, geluti hobby, kembangkan minat itu kewajiban kita terhadap diri kita. Hidup tidak melulu tentang uang dan pekerjaan ada nilai-nilai yang lebih penting daripada itu apalagi kalau bukan keluarga dan teman. Ketika pekerjaan boleh pergi, kejayaan hilang, kecantikkan rupa pudar siapa yang masih ada untuk kita selain keluarga dan teman-teman yang setia? Jadi hendaklah kita memberikan waktu dan perhatian kita 100% ketika kita memiliki kesempatan untuk bersama dengan mereka. Jadi, mulai saat ini disiplin diawali dari diri anda. Perpustakaan Graha Pratama, 10-04-2016.


Jumat, 08 April 2016

DAMPAK LIBERALISASI PENDIDIKAN (Sebuah kultur yang semakin menambah deret kelam modernisasi)

Kampus bisa menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan aktualisasi dan apresiasinya sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini merupakan sisi positif yang dimiliki mahasiswa. Kesempatan seperti ini tentu tidak dimiliki mereka yang tidak sempat belajar di kampus. Sebagai bagian dari elemen mahasiswa, saya memandang sangat vital keberadaan kampus, tidak hanya semata-mata untuk tempat pembelajaran, tetapi juga sebagai wahana untuk menempa dan mengembangkan bakat potensi (skill) yang dimiliki para mahasiswanya. Dan Repotnya, kalau Kuliah tapi enggak paham esensi kuliah maka penting dibahas apa itu kampus ?  apa itu akademik? Kenapa liberalisasi pendidikan ? Bagaimana modernisasi kampus terjadi ?  Dan lain-lain.
Berbicara soal dunia kampus boleh dikatakan miniatur negara. Di dalamnya ada politik dan budaya yang bermacam-macam. Kampus tidak dapat difahami hanya sebagai gelanggang akademis dan ilmu pengetahuan, karena nyatanya memang tidak demikian. Kampus terlibat dalam proyek dan pembangunan melalui pemberian legitimasi ‘ilmiah’. Sementara mahasiswa sebagaimana kemaren saya tulis memiliki model yang beragam, dari mahasiswa religius, hedonis, aktivis, study-oriented dan lain sebagainya. Sebagai sebuah gelanggang semi terbuka, kampus merupakan tempat potensial bagi seluruh organisasi untuk mengasah mental dan pengalaman kepemimpinan melalui pengenalan mendalam terhadap kehidupan nyata kampus.
Istilah kampus, berasal dari bahasa Latin; campus yang berarti "lapangan luas", "tegal". Dalam pengertian modern, kampus berarti, sebuah kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas atau perguruan tinggi. Bisa pula berarti sebuah cabang daripada universitas sendiri. Misalnya, Universitas  Islam Negeri yang dering disebut kampus Sapen, Universitas Indonesia di Jakarta, yang memiliki 'kampus Salemba' dan 'kampus Depok', atau Universitas Diponegoro yang memiliki 'kampus Pleburan’ dan ’kampus Tembalang’.
Kampus juga terkadang menyediakan asrama untuk mahasiswa. Di Indonesia hal-hal seperti ini kadang-kadang ada pula, terutama di tempat akademi militer, dan sekarang mulai dilakukan pula oleh beberapa kampus besar seperti UI, Undip, dan UIN, dengan mendirikan asrama di sekitar kampus akan membuat mahasiswa lebih banyak mengabiskan waktunya untuk studi dan mudah dikontrol oleh pihak kampus.
Kampus merupakan tempat belajar-mengajar berlangsungnya misi dan fungsi perguruan tinggi. Dalam rangka menjaga kelancaran fungsi-fungsi tersebut, Upaya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengembangkan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, memerlukan penyatuan waktu kegiatan beserta ketentuan-ketentuan di dalam kampus.
Dalam hubungannya dengan mahasiswa, rektorat membentuk sistem yang mengatur posisinya dengan mahasiswa, dari mulai stuktural, birokrasi sampai kepada norma-norma yang diciptakan sesuai dengan kondisi sosial yang ada, misalnya pada kampus berlatar Islam tentunya ada adat-adat yang harus bernafaskan Islam, dan lain sebagainya. Dan, begitu pula halnya pada hubungan antara mahasiswa dengan mahasiswa.
Norma akademik (etika kampus),  adalah ketentuan, peraturan dan tata nilai yang harus ditaati oleh seluruh mahasiswa Upaya berkaitan dengan aktivitas akademik. Adapun tujuan norma akademik adalah agar para mahasiswa mempunyai gambaran yang jelas tentang hal-hal yang perlu dan seharusnya dilakukan dalam menghadapi kemungkinan timbulnya permasalahan baik masalah-masalah akademik maupun masalah-masalah non akademik.
Masalah akademik adalah masalah yang berkaitan langsung dengan kegiatan kurikuler, Masalah non akademik adalah masalah yang terkait dengan kegiatan non kurikuler. Sedangkan Pelanggaran adalah perilaku atau perbuatan, ucapan, tulisan yang bertentangan dengan norma dan etika kampus. Etika kampus adalah ketentuan atau peraturan yang mengatur perilaku atau tata krama yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa Upaya. Etika kampus meliputi 2 hal penting yaitu ketertiban dan tata krama.
Setiap lembaga pendidikan atau kampus biasanya mempunyai menentukan norma akademik (etika kampus) masing-masing sesuai dengan status kampusnya, misalnya, kampus negeri umum yang menginduk ke Dirjen Dikti Diknas RI, di samping terikat oleh aturan yang dibuat oleh Dirjen Dikti tersebut. Demikian juga kampus yang dalam koordinasi Dirjen Dikti Agama Islam Depag seperti kampus UIN, IAIN dan STAIN, juga mengikuti aturan ketentuan norma akademik yang dibuat oleh Depag. Sama halnya dengan kampus swasta milik NU seperti UWH atau STAINU, UNU yang berada dalam koordinasi APTINU (Asosiasi Perguruan Tinggi NU) juga mengikuti aturan norma akademik diatur oleh APTINU, di samping juga mengikuti aturan Dirjen Dikti dan aturan internal kampus yang biasanya disusun oleh pimpinan kampus.
Dalam kehidupan perkuliahan, mahasiswa cenderung memiliki sikap aktualisasi dan apresiatif. Yakni sikap atau tindakan unjuk kemampuan dan kehebatan sesuai bakat serta karakter pribadinya masing-masing. Hal ini merupakan sisi positif yang dimiliki oleh seorang mahasiswa. Sehingga diperlukan adanya sebuah sarana dan prasarana dalam menyalurkan bakat dan kreatifitas mereka dan nantinya diharapkan menjadi suatu hal yang produktif dalam meningkatkan pembangunan dan pendidikan negeri ini. Aktualisasi ini bisa berupa bidang olahraga dan seni, kepemimpinan, religi, hingga dana usaha yang mendukung perekonomian kampus menuju kampus yang mandiri. Sumber daya ini begitu sia-sia ketika pihak birokrat kampus tidak memanfaatkannya dengan baik, bahkan melakukan tindakan ‘pembunuhan karakter’ kepada mahasiswa. Padahal SDM seperti inilah yang nantinya mampu melakukan akselerasi pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Paling tidak, negara secara tidak langsung diuntungkan dengan berbagai macam potensi anak-anak bangsa yang artinya kaya dengan SDM.
            Selain itu, saya kira anda paham liberalisasi pendidikan hari ini telah menyuguhkan watak glamor di dunia kampus. Geliat pembangunan kampus bukanlah berangkat dari kebutuhan untuk penyediaan akses dan peningkatan kualitas pendidikan seperti yang diharuskan dalam konstitusi, tetapi lebih berorientasi pada tuntutan neoliberal, yakni tuntutan bisnis. Bisnis itu membutuhkan kerelaan untuk mengakomodasi budaya baru yang diciptakan neoliberalisme. Gagasan liberalisasi pendidikan lahir dari teori modernisasi yang telah dipraktikkan di negara-negara bersistem kapitalis, di mana negara mengakui bahwa negara berjalan linear dari tradisional menuju ke arah modernisasi. Oleh beberapa pemikir, modernisasi ini dicapai dengan beberapa cara.
 Dari sini jelas ada kecenderungan negara melepas tanggung jawab untuk membiayai pendidikan tinggi, telah berdampak makin sulitnya orang miskin untuk mengakses pendidikan tinggi karena tidak kuat bayar.  Sementara menurut Darmaningtyas, ada beberapa alasan mengapa pemerintah melepaskan tanggung jawabnya dalam pengelolaan pendidikan dan menyerahkan ke publik. Pertama, adanya tekanan dari IMF untuk mengurangi subsidi bidang pendidikan maupun kesehatan. Kedua, perubahan cara pandang negara terhadap pendidikan dari sebagai hak asasi yang melekat pada diri setiap warga menjadi sebuah kapital yang dapat diperdagangkan dan menguntungkan.
Apa dampak dari UU BHP tersebut? Akibat kebijakan itu, sudah menjadi rahasia umum kalau biaya pendidikan semakin mahal. Tentu saja akan membuat biaya kuliah lebih mahal akan sangat merugikan rakyat. Padahal dalam UUD 45 dinyatakan bahwa negara berkewajiban memberikan pendidikan yang layak kepada warga negara. Ditambah lagi dengan dibukanya jalur-jalur khusus di luar SPMB dan PMDK atau jalur mandiri universitas. Wacana jual beli pendidikan pun merebak di mahasiswa. Namun, wacana itu terus mengempis seiring dengan semakin mapannya diskursus modernisasi. Mahasiswa seakan tidak boleh lari dari arus itu.
Dengan fasilitas yang lebih lengkap dan canggih, serta regulasi-regulasi baru, semakin dijadikan pembenaran atas terciptanya kultur kosmetik di kampus. Sebuah kultur yang semakin menambah deret kelam modernisasi. Apakah itu? Yang sangat konkret dapat kita lihat dari mode dan tren budaya teranyar yang dikenakan mahasiswa baru. Budaya itu meliputi orientasi, SDM, serta tindakan ekonomi. Mahasiswa, misalnya, sebagian ada yang menjadikan kuliah sekadar untuk prestise, atau kongkow-kongkow mencari teman, atau pamer pakaian dengan model terbaru. Di kalangan aktivis, budaya glamor juga ditunjukkan dengan semakin banyaknya rapat-rapat aktivis di hotel, kafe, atau restoran bersama para elite politik atau bahkan dengan pengambil kebijakan. Dengan kesejatian realitas itu, apakah kita masih optimistis dengan modernisasi kampus? Di situlah kritik saya terhadap dampak UU BHP ? Semoga bermanfaat, sampai jumpa besok lagi.
                               di tempat salah satu angkringan Jogja, 08-04-2016.



Kamis, 07 April 2016

KETIKA MAHASISWA ‘MATI’ BERSAMA CITA-CITA PERUBAHANNYA.



Kampus adalah miniatur negara. Tentu hal ini tidaklah berlebihan, kita bisa melihat dari segi penyebaran mahasiswa, kampus menghadirkan peserta didik dari berbagai unsur suku, ras dan agama yang ada di negara ini. Dari segi intelektualitas, kampus juga menghadirkan ribuan calon pemimpin yang akan mengisi kursi-kursi kosong kepemimpinan bangsa ini. Bisa diibaratkan, kampus adalah ruang kaderisasi bangsa. Masa depan nasib bangsa ditentukan oleh kampus karena di situlah banyak dididik berbagai pengetahuan dan skil (termasuk karakter dan mentalitas) generasi muda bangsa yang kelak menjadi pemimpin di tengah–tengah masyarakat. Sebagai miniatur negara yang dimana didalamnya terdapat banyak perangkat yang satu sama lain saling mendukung, maka di dalam kampus juga memiliki pemerintahan dan rakyat, baik itu antara rektorat dengan mahasiswa ataupun antara mahasiswa dengan mahasiswa.
Oleh karenanya, anda akan menemukan berbagai kelompok yang ada akan selalu bertaruh dalam memperebutkan eksistensinya di dalam kampus. Dari level rektorat, dekanat, dosen, pegawai akademik, mahasiswa hingga tukang sapu akan terlibat dalam arena perebutan kekuasaan. Bisa dikatakan kampus adalah miniatur basis produksi, distribusi dan pertarungan negara. Benturan-benturan ideologi antar gerakan mahasiswa pun akan terjadi di kampus sehingga menjadikan kehidupan kampus menjadi sangat kondusif bagi kontentasi semua kelompok sehingga keberadaannya akan merepresentasikan iklim demokrasi di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa perubahan-perubahan mendasar di negara ini juga berangkat dari komunitas-komunitas intelektual kampus. Hal inilah yang kemudian melabelisasi kampus sebagai laboratorium demokrasi Indonesia.
Sistem pemerintahan dibangun berdasarkan kebutuhan dimasing-masing kampus. Keberadaan BEM (Badan Ekskutif Mahasiswa) atau Senat Mahasiswa dengan menempatkan Presiden Mahasiswa-nya (Presma) atau istilah lain (karena tiap kampus berbeda) sebagai mahasiswa nomor satu di kampus adalah salah satu cerminan dari penataan sebuah kehidupan (kampus). Maka, sangat tidak menarik apabila sebuah kampus hanyalah dijadikan tempat perkuliahan, kalau begitu apa bedanya dengan SD, SMP ataupun SMA? Berarti mahasiswa akan semakin jauh dengan hal-hal yang bersifat sosial, kondisi real yang akan di hadapi oleh mahasiswa selepas kuliah. Semangat ini pula yang kemudian dimaknai oleh gerakan mahasiswa sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi-aspirasi mereka dengan ikut aktif berpartisipasi dalam, misalnya, PEMIWA (Pemilu Mahasiswa, atau istilah lainnya), untuk memilih pemimpin kampus (BEM/DEMA/SEMA). Pemiwa akan menjadi momentum mengakselerasi perubahan-perubahan yang dianggap penting oleh gerakan mahasiswa dengan segala karakteristik perjuangannya.
Saat ini, sistem Pemiwa di beberapa kampus dilakukan dengan pemilihan langsung. Ada di antaranya dengan cara mengharuskan mahasiswa membentuk partai mahasiswa sebagai kendaraan politik untuk mengajukan calon-calon mereka duduk di lembaga eksekutif atau lembaga legislatif mahasiswa (BEM/DEMA/SEMA/DPM). Partai mahasiswa yang diharapkan merupakan representasi dari kepentingan-kepentingan komunal mahasiswa yang harus diperjuangkan. Partai mahasiswa tidak sekadar menjadi syarat administratif untuk bisa berpartisipasi dalam Pemiwa yang hadir ketika Pemiwa akan berlangsung, tetapi juga bisa menjalankan fungsi-fungsi partai yang seharusnya untuk memberikan pendidikan dan pencerdasan politik bagi mahasiswa umum sebagaimana tertuang dalam AD/ART partai mahasiswa. Mereka yang terpilih sebagai pimpinan BEM/DEMA/SEMA/DPM harus bisa merepresentasikan kepentingan mahasiswa umum sebagai konstituen di suatu daerah pemilihannya (biasanya tiap fakultas atau jurusan). Jangan sampai ketidakprofesional pimpinan lembaga intra kampus membuat mahasiswa jenuh terhadap sistem yang berlangsung di kampus. Karena itu, perlu adanya dinamisasi sistem dengan membuka ruang kesempatan bagi siapa saja untuk berpatisipasi dalam pengembangan kehidupan lembaga intra kampus.
Sebagai miniatur negara, di samping berisi lembaga politik intra kampus, juga terdapat berbagai lembaga pengembangan bakat minat yang dikenal Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti lembaga penerbitan, lembaga olahraga, lembaga seni budaya, lembaga bahasa, lembaga pecinta alam, lembaga perekonomian koperasi mahasiswa, dan lain-lain. Keberadaan Pers Mahasiswa menjadi pelengkap yang ikut mencerminkan sebuah Negara (miniatur negara). Pers bisa melakukan kritik dan pencerdasaan mahasiswa dengan wacana dan informasi yang disampaikan. Atas berbagai komponen dan dinamisasi yang ada tersebut itulah maka kehidupan kampus sepenuhnya bukan hanya terpaku pada kegiatan akademik, seperti perkuliahan ataupun aplikasi-aplikasi lain yang berkaitan dengan kuliah.
Adanya demonstrasi ataupun perebutan kekuasaan di kampus bukanlah hal yang harus dipertentangkan, karena dengan adanya dinamika seperti itu mencerminkan bahwa mahasiswa peka terhadap berbagai realitas yang ada. Mahasiswa tidak harus manut-manut di hadapan dosennya walaupun ada kesalahan dalam kinerja sang dosen. Mahasiswa tidak mesti berdiam diri ketika melihat ataupun mendengar sebuah ketidak beresan dalam lingkungannya. Demonstrasi atas kenaikan BBM, tarif dasar listrik, dll adalah bukti bahwa Mahasiswa juga adalah bagian dari masyarakat. Kampus yang dikenal sebagai miniatur negara, merupakan tempat berkumpulnya pemuda dari pelosok daerah dengan segala perbedaan dan bentuk sosial, tentunya juga beragam potensi. Ketimpangan sosial yang terjadi dalam kampus adalah cerminan dari kesenjangan sosial di masyarakat. Berhasil tidaknya ideologi yang diterapkan negara dapat dilihat di kampus. Begitu juga ketika kita harus mensensus seberapa besar kepedulian masyarakat terhadap kondisi negara, maka lihatlah di kampus kita masing-masing, sejauh apa mahasiswa turut andil dalam dinamisasi pergerakan lembaga kemahasiswaan.
Mahasiswa yang dikatakan sebagai sumber cadangan pemimpin masa depan bangsanya, kini menjadi tumpuan masyarakat dalam pengolahan dan manajemen kekayaan negara. Tidak hanya itu, tanggung jawab penuh juga diserahkan kepada mahasiswa dalam melakukan pengawasan jalannya roda pemerintahan. Karena disamping fungsi kontrol dan pressure terhadap pemerintah, mahasiswa tentunya dituntut mampu memberikan solusi dari berbagai permasalahan bangsa. 
Dewasa ini, keberadaan lembaga intra kampus seolah-olah meredup seiring mulai stabilnya kondisi pemerintahan secara struktural. Nyatanya di lapangan masih saja terdapat kesenjangan sosial yang terjadi di tingkatan masyarakat umum, seperti data yang di laporkan oleh Menko Kesra Aburizal Bakrie beberapa tahun yang lalu yang menunjukkan bahwa sekitar 60% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan perkapita dibawah Rp. 500.000,-, yang dengan anggaran tersebut mereka harus mampu menghidupi keluarga serta kebutuhan hidup lainnya.
Meskipun lembaga kemahasiswaan tidak memiliki wewenang khusus dalam menangani masalah ini namun perlu disadari bahwa lembaga inilah yang nantinya berperan dalam mengelola potensi SDM dalam memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat. Untuk itu, lembaga-lembaga ini perlu sekiranya mendapat perhatian khusus oleh pemerintah dan birokrat kampus khususnya oleh mahasiswanya sendiri. Paling tidak bentuk perhatiannya bisa berupa pemberian fasilitas yang mendukung dan diserahkan sepenuhnya terkait pengelolaan kepada mahasiswa. Hingga berupa pembinaan secara intensif terkait hal-hal yang dianggap mampu menunjang peningkatan skills mahasiswa. Karena dikhawatirkan ketika hal ini tidak dilakukan akan terjadi “Lost Generation”, akhirnya menyebabkan stagnasi gerakan mahasiswa. Dimana saat pemain veteran sudah meninggalkan dunia kampus, akhirnya tidak ada yang meneruskan perjuangan perubahan oleh mahasiswa baik dalam struktural maupun olah pemikiran.
Bagaimana mungkin dinamisasi kampus akan terjadi tanpa adanya peran aktif dari mahasiswa. Sementara lembaga ini didirikan dan difasilitasi untuk mahasiswa,ironisnya justru mahasiswa yang buta dalam pengelolaan lembaga ini, kelak akan menjadi fenomena gerakan mahasiswa khususnya internal kampus ketika mahasiswa ‘mati’ bersama cita-cita perubahannya. Salam mahasiswa, semangat terus ya...semoga bermanfaat.
                                                                            Perpustakaan Graha Pratama, 08-04-2016.