Praktek-praktek
tasawuf praktis, seperti sholat, dzikir, tafakur (meditasi), ternyata tidak
sekedar ritual tanpa makna. Akan tetapi praktik-praktik sufi tersebut,
tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit-penyakit yang tidak bisa
disembuhkan oleh dunia kedokteran modern, seperti kanker, stroke, dan
jenis-jenis penyakit mental dan psikologis. Pengobatan dalam dunia sufi
cenderung menggunakan untaian-untain doa yang disusun oleh terapis dengan
menyesuaikan jenis penyakitnya. Doa-doa tersebut diambil dari ayat-ayat Al
Quran dan tuntunan doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Kekuatan dari Al Quran
itu bekerja pada manusia di luar bidang ilmu pengetahuan, yaitu yang diterapkan
dalam pengobatan Nabi (Tibbun Nabawi).
Banyak ayat
Al-Qur’an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena Al-Qur’an itu sendiri
diturunkan sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin. “Dan kami
menurunkan Al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang mukmin”.
“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhan mu
dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman”. dan lain sebagainya.
Di Indonesia,
praktik pengobatan dengan menggunakan doa terbilang sangat banyak. Biasanya
pengobatan dengan doa menggunakan media yang bervariasi. Ada yang dengan
meminum air yang sudah dicampur dengan kertas bertuliskan ayat-ayat Al Quran,
ada pula yang menggunakan perantara ayam untuk mendeteksi sebuah penyakit, ada
pula yang meminum air yang sudah dibacakan doa oleh Kyai dan kemudian pasien
mendapat amalan-amalan doa untuk dibaca.
Praktik
pengobatan tradisional ini terbukti ampuh dalam menyembuhkan segala macam
penyakit. Oleh karenanya praktek tersebut semakin hari semakin menarik tingkat
perhatian masyarakat. Efek dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap
metode pengobatan ini adalah semakin banyak pula kyai yang membuka praktik
pengobatan sufis. Kekuatan yang berasal ayat Al-Quran dan amalan doa dari
Rasulullah menjadi dasar kuat kepercayaan masyarakat Indonesia yang mempunyai
kultur religius untuk mengambil jalur pengobatan ini, tentunyadi samping faktor
ekonomis.
Seperti halnya
di Kabupaten Purworejo, antusias masyarakat terhadap pengobatan sufi ini
sangatlah tinggi. Hal itu terbukti dengan banyaknya tokoh agama yang membuka
praktek di rumahnya masing-masing. Media yang digunakan pun berbeda-beda. Kyai
Tarno misalnya, dia adalah seorang tokoh masyarakat yang menggeluti dunia sufi.
Beliau mencoba mengenalkan tasawuf kepada masyarakat dengan cara pengobatan
sufi. Bertempat di sebuah desa Cangkrep Lor Rt 02 rw 07, Purworejo, pengobatan
ini selalu dipenuhi oleh pasien yang datang dengan segala macam jenis penyakit.
Pengobatan di Kyai Tarno telah teruji. Banyak masyarakat dengan
penyakit-penyakit kronis tersembuhkan dengan perantara beliau. Dari mulut ke
mulut, masyarakat semakin banyak yang datang berobat di tempat praktik beliau.
Salah satu
media penyembuhan yang digunakan oleh Kyai Tarno adalah air. Baginya, air
mempunyai kekuatan tersendiri dalam mempengaruhi dimensi internal manusia.
Apalagi air menjadi komposisi utama dalam tubuh manusia. Tercatat kurang lebih
60% tubuh kita terisi oleh air. Sehingga air menjadi elemen penting dalam
perubahan maupun pembentukan sistem tubuh manusia. Metode yang ditempuh oleh Kyai Tarno adalah
membacakan air dengan doa-doa kemudian memberikan amalan-amalan tertentu yang
harus dibaca dan diamalkan oleh pasien. Selain itu pasien juga diberikan resep
ramuan herbal untuk menjadi penunjang kesembuhannya. Menariknya, jika pasien
tidak dapat hadir di tempat, beliau melakukan pengobatan jarak jauh dengan
syarat yang mewakili membawa foto dari pasien, kemudian beliau mentransfer doa
kepada yang sedang menderita sakit.
Dalam proses
pengobatannya dapat digambarkan sebagai berikut: pasien datang dan menyampaikan
jenis penyakitnya dan keluhan-keluhannya. Kyai Tarno mengajak pasien berdoa
bersama meminta pertolongan dari Allah untuk menyembuhkan penyakit yang
diderita. Kemudian Kyai meniupkan bacaan doanya ke air botol yang dibawa
pasien. Kemudian pasien diberi amalan doa yang disarikan dari surah-surah Al
Quran seperti Al-Fatihah, surah Al-Ikhlas dan doa-doa tahlil seperti istighfar,
serta asmāul husnā dengan jumlah tertentu. Beliau juga menulis resep
obat herbal dari tumbuh-tumbuhan alami kepada pasien.
Selain
pengobatan medis yang dilakukan oleh dokter, ternyata pengobatan sufi menjadi
alternatif yang ampuh dalam mengobati beberapa jenis penyakit. Selain itu,
pengobatan ini juga disinyalir dijadikan sebagai media syi’ar atau
dakwah Islam kepada khalayak masyarakat sekitar. Sehingga tujuan dari
pengobatan tersebut adalah tidak hanya money oriented namun justru
kental dengan unsur-unsur missonary oriented.
Dalam
pengobatan sufi ini selain mendapatkan kesehatan, pasien juga disinyalir
mendapatkan pengaruh positif dari doa-doa yang dibacakan atau diberikan
kepadanya. Sehingga, amalan doa yang diberikan Kyai kepada pasien menjadi
langkah untuk meningkatkan spiritualitasnya. Ketika amalan tersebut dibaca
berulang-ulang dan terus-menerus, maka dengan perlahan pasien mampu mendalami
hakikat penyakit dan mampu merubah mindset-nya terhadap penyakit menjadi
sebuah “berkah”, bukan having a disease tapi having a blessings.
Unsur-unsur spiritualitas itulah yang dipandang mampu merubah mental dan
karakter seseorang. Dan inilah yang tidak ditemukan dalam dunia medis secara
umum.
dalam hal ini menganggap penting adanya eksplorasi antara
budaya sufi dengan budaya lokal. Sebab dalam titik inilah terjadi fenomena
sintesis antara dua budaya yang umumnya menghasilkan corak keunikan tersendiri.
Dan antara dunia sufi dan lokalitas Jawa merupakan dua entitas yang cukup
berdekatan karena keduanya mempunyai nilai-nilai spiritualitas yang bisa
dipadukan. Dalam kerangka inilah penelitian tentang spiritualitas dan
kebudayaan menjadi penting untuk digalakan. Sampai jumpa besok, semoga berkah. Semoga
selalu istiqomah dalam menulis. Sapen, Seknas Gusdurian, Jogjakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar