Sebenarnya tulisan ini akan saya bukukan, dan masih dalam proses, namun, alangkah baiknya saya kasih bocoran sedikit. Tulisan ini saya dapatkan dari
hasil “Wawancara
bersama Ustadz Shobah Di P.P. Terpadu Al-Ma’ruf, Pare Kampung Inggris, Kediri
Jawa Timur”.
Ustadz Shobah, bagaimana
itu bisa terjadi ?
Apa penyebab ketidak lulusan mereka Ustadz ?
1.
Niat dari awal mungkin sudah
salah,
2. Sudah putus asa duluan dengan
peraturan akademis yang ada disana
3.
Suka sakit-sakitan, karena cuaca
kurang mendukung bahkan setiap mau ujian suka mengeluh bahkan ada yang sampai
semaput didalam kelas.
4. Kebanyakan dari mereka kurang
modal, lemahnya kecerdasan artinya tidak kuat menerima perartuan pelajaran yang
berlaku di sana dan
5.
Kurang telaten dan kurang memanfaatkan
waktunya dengan baik
6. Sehingga jika kita gagal dalam
ujian maka konsekuensi yang harus diterima memang sangat berat banget, ayo
tebak apa coba...Di denda atau di pulangkan ke negara aslanya masing-masing.
7.
Untuk masalah denda : setiap mata
pelajaran yang tidak lulus maka didenda : 125 Dolar sama artinya dengan Rp :
1.500.000. tinggal dikali saja berapa mata pelajaran yang diajarkan, dan itu
belum termasuk Bea siswa kuliah yang di
cabut selama 1 th.
Ustadz
Shobah, bagaimana pengalaman menarik Anda disana ?
1.
Menjadi (Imam Masjid Du’an )
Tempat lahir Habib rizieq
2.
Menjadi Imam di Masjid “Jamalul
Lail” masjidnya kampus Al-Ahghaf University. Selama 3 tahun.
Ustadz
Shobah, Bagaimana kegiatan Masyarakat Tarim disana ?
1.
Setiap waktu sholat semuaanya
berjama’ah di masjid.
2. Setiap masjid di Tarim selalu
terdengar suara Al-qur’an dari berbagai arah dan ceramah agama setiap waktu
apalagi kalau di bulan Romadlon maka Sholat Tarwih dan bacaan Al-qur’an tidak
akan putus sampai waktu sahur.
3. Setiap masjid, pasti ada
pengajiannya yang di isi langsung oleh para ulama’ dan Habaib. Jadi kurang
lebih tidak ditemukan kegalauan disana...!!!
4. Karena adat yang sudah sesuai
syariat, maka setiap wanita semuanya harus tertutup artinya berjilbab harus
bercadar jika tidak maka akan dikucilkan oleh masyarakat dan wanita tidak boleh
keluar rumah kecuali ada kepentingan yang paling penting.
Ustadz
Sobah, Apa pesan Anda untuk para pelajar Indonesia ?
1. Niat kita harus benar-benar yaqin dan mantap, bukan
karena paksaan dari orang tua atau yang lainya
2.
Persiapannya harus matang
3.
Kalau sudah di sana harus bisa
menjaga adab (etitut), karena disana banyak para wali.
4. Cari teman-teman yang baik artinya yang bisa membawa
kita kepada semangat belajr dalam mencari ilmu.
5.
Bagi yang sudah mampu menguasai
materi di kuliah hendaknya istifadah ke para haba’ib dan ulama’ yang ada di
sana.
Ustadz Sobah, boleh kami tahu sedikit cerita dan
pengalaman Anda ketika masih menjadi mahasiswa Univ. Al-Ahqaff ?
Saya tercatat menjadi mahasiswa di
fakultas syari’ah universitas Al Ahqaff semenjak tahun 2008 hingga akhir 2013.
Saat itu jumlah mahasiswa Indonesia masih sedikit, sekitar 500 orang. Kami
merasa sangat dimanja oleh pihak lembaga, setiap ada kegiatan yang diadakan
oleh kampus Al Ahqaff, kami –mahasiswa Indonesia- selalu diposisikan istimewa.
Pada awal kedatangan, sebenarnya saya agak shock dengan kondisi propinsi
Hadramaut.
Sebelumnya saya membayangkan
Hadramaut seperti Dubai atau Arab Saudi, dimana infrastruktur bangunannya
sangat tinggi dan megah dan merupakan kota besar. Tapi ternyata realitasnya
sangat jauh berbeda, atau bahkan berbalik 180
derajat. Bangunan rumah yang ada di sana masih banyak dari tanah liat murni
alias tanpa semen.dan listrik juga masih sering mati.
Tapi
Sejalan dengan putaran waktu, akhirnya saya merasakan enjoy dengan suasana
Hadramaut, khususnya kota Tarim. Ada nuansa religi yang khas di kota
para wali ini, nuansa yang –saya kira- sulit ditemukan di tempat lain.
Keberkahan kota Tarim dan kesejukan petuah para ulamanya membuat saya lupa
kampung halaman, asyik dengan aktivitas kuliyah, sehingga waktu 5 tahun di kota
Tarim seakan hanya dilewati dalam beberapa minggu saja.
Menurut Anda, bagaimanakah sistem pembelajaran di
Universitas Al-Ahqaff?
Dulu pendidikan S1 di Al Ahqaff
ditempuh selama 4 tahun,tapi ada peraturan baru yang menetapkan bahwa jenjang
S1 harus ditempuh selama 5 tahun.
Ada nilai plus dari sistem perkuliyahan Al Ahqaff jika
dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Negara Arab, yaitu masih
diterapkannya sistem pengkajian kitab-kitab muqorror (buku panduan mata
kuliyah) secara harfiyah. Maksud
harfiyah di sini adalah mengkaji secara detail lafadz per-lafadz, masalah
per-masalah, pasal per-pasal dan bab per-bab. Sehingga para mahasiswa dapat
menguasai substansi keilmuan (mata kuliyah), bukan sekedar kulitnya saja.
Di samping itu, pendidikan di Al
Ahqaff juga mengedepankan unsur amaliyah (aplikasi ilmu), para mahasiswa
diarahkan untuk menjadi sosok yang Alim (pakar) dan Amil (Aplikator), bukan
sarjana yang hanya kaya intelektualitas namun miskin moralitas. Dalam hal ini, kita selalu
meneladani interaksi keseharian para civitas akademika Al Ahqaff juga para
habaib dan masyayikh kota Tarim yang selalu mengedepankan akhlakul karimah.
Ustadz adalah salah satu contoh sukses alumni Ahqaff
di Indonesia, apakah ada rahasia sukses belajar di balik keberhasilan Ustadz?
Saya menganggap diri saya masih
sangat jauh dari kata “sukses” yang anda sematkan, namun jika yang dimaksud
dengan “sukses” adalah berhasil menyelesaikan pendidikan di Al Ahqaff, maka
saya termasuk kriteria, karena banyak juga mahasiswa dari Indonesia dan non
Indonesia yang tidak mampu menyelesaikan penidikan di Al Ahqaff, sehingga
mereka harus drop-out dan pulang ke tanah air di tengah proses pendidikan.
(Al hamdulillah, waktu itu saya
adalah termasuk mahasiswa Indonesia yang meraih predikat Jayyid jiddan karena
dibantu dengan hafal Al-Qur’an). Prinsip saya dalam mengarungi dunia pendidikan
adalah; Man Jadda Wajada (orang yang bersungguh-sungguh pasti akan meraih
targetnya), ungkapan ini cukup sederhana namun sangat sulit diaplikasikan. Maka
untuk mengaplikasikannya kita harus mengawal prinsip tadi dengan tiga hal,
yaitu: kedisiplinan, konsisten dan kesabaran.
Sebagai penutup, mohon Ustadz memberikan pesan dan
motivasi bagi kami untuk lebih fokus dengan studi dan cara menatap masa
depan...
Kita harus menguasai khazanah kitab
turots (Kuning) Ulama Shalafunas sholih, setelah itu kita berusaha menjadikan
pesan-pesan turots sebagai spirit dalam meniti kehidupan. Dengan demikian kita
akan menjadi generasi yang mampu mendialogkan antara teks dan konteks, mampu
menjembatani antara sejarah dan realita. Bagaimanapun juga “Al Insan Ibnu
Zamanihi” artinya : (Manusia dipengaruhi oleh zamannya)
Sampai jumpa, dilain waktu, semoga kita selalu istiqomah dalam menuangkan
ide kita setiap hari. Rumah Peradaban, Bangun Tapan, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar