Translate this written according your language!

Kamis, 05 Mei 2016

RAHASIA SUKSES MAHASISWA INDONESIA KULIAH DI TIMUR TENGAH

Sebenarnya tulisan ini akan saya bukukan, dan masih dalam proses, namun, alangkah baiknya saya kasih bocoran sedikit. Tulisan ini saya dapatkan dari hasil  “Wawancara bersama Ustadz Shobah Di P.P. Terpadu Al-Ma’ruf, Pare Kampung Inggris, Kediri Jawa Timur”. 
Ustadz Shobah,  bagaimana itu bisa terjadi ? 

Apa penyebab ketidak lulusan mereka Ustadz ?
1.      Niat dari awal mungkin sudah salah,
2.      Sudah putus asa duluan dengan peraturan akademis yang ada disana
3.      Suka sakit-sakitan, karena cuaca kurang mendukung bahkan setiap mau ujian suka mengeluh bahkan ada yang sampai semaput didalam kelas.
4.     Kebanyakan dari mereka kurang modal, lemahnya kecerdasan artinya tidak kuat   menerima perartuan pelajaran yang berlaku di sana dan
5.      Kurang telaten dan kurang memanfaatkan waktunya dengan baik
6.  Sehingga jika kita gagal dalam ujian maka konsekuensi yang harus diterima memang sangat berat banget, ayo tebak apa coba...Di denda atau di pulangkan ke negara aslanya masing-masing.
7.      Untuk masalah denda : setiap mata pelajaran yang tidak lulus maka didenda : 125 Dolar sama artinya dengan Rp : 1.500.000. tinggal dikali saja berapa mata pelajaran yang diajarkan, dan itu belum termasuk Bea siswa kuliah  yang di cabut selama 1 th.
Ustadz Shobah, bagaimana pengalaman menarik Anda disana ?
1.      Menjadi (Imam Masjid Du’an ) Tempat lahir Habib rizieq
2.      Menjadi Imam di Masjid “Jamalul Lail” masjidnya kampus Al-Ahghaf University. Selama 3 tahun.
Ustadz Shobah, Bagaimana kegiatan Masyarakat Tarim disana ?
1.        Setiap waktu sholat semuaanya berjama’ah di masjid.
2.    Setiap masjid di Tarim selalu terdengar suara Al-qur’an dari berbagai arah dan ceramah agama setiap waktu apalagi kalau di bulan Romadlon maka Sholat Tarwih dan bacaan Al-qur’an tidak akan putus sampai waktu sahur.
3.     Setiap masjid, pasti ada pengajiannya yang di isi langsung oleh para ulama’ dan Habaib. Jadi kurang lebih tidak ditemukan kegalauan disana...!!!
4.      Karena adat yang sudah sesuai syariat, maka setiap wanita semuanya harus tertutup artinya berjilbab harus bercadar jika tidak maka akan dikucilkan oleh masyarakat dan wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kepentingan yang paling penting.
Ustadz Sobah, Apa pesan Anda untuk para pelajar Indonesia ?
1.    Niat kita harus benar-benar yaqin dan mantap, bukan karena paksaan dari orang tua atau yang lainya
2.      Persiapannya harus matang
3.      Kalau sudah di sana harus bisa menjaga adab (etitut), karena disana banyak para wali.
4.  Cari teman-teman yang baik artinya yang bisa membawa kita kepada semangat belajr dalam mencari ilmu.
5.      Bagi yang sudah mampu menguasai materi di kuliah hendaknya istifadah ke para haba’ib dan ulama’ yang ada di sana.
Ustadz Sobah, boleh kami tahu sedikit cerita dan pengalaman Anda ketika masih menjadi mahasiswa Univ. Al-Ahqaff ?
Saya tercatat menjadi mahasiswa di fakultas syari’ah universitas Al Ahqaff semenjak tahun 2008 hingga akhir 2013. Saat itu jumlah mahasiswa Indonesia masih sedikit, sekitar 500 orang. Kami merasa sangat dimanja oleh pihak lembaga, setiap ada kegiatan yang diadakan oleh kampus Al Ahqaff, kami –mahasiswa Indonesia- selalu diposisikan istimewa. Pada awal kedatangan, sebenarnya saya agak shock dengan kondisi propinsi Hadramaut.
Sebelumnya saya membayangkan Hadramaut seperti Dubai atau Arab Saudi, dimana infrastruktur bangunannya sangat tinggi dan megah dan merupakan kota besar. Tapi ternyata realitasnya sangat jauh berbeda, atau bahkan berbalik 180 derajat. Bangunan rumah yang ada di sana masih banyak dari tanah liat murni alias tanpa semen.dan listrik juga masih sering mati.
Tapi Sejalan dengan putaran waktu, akhirnya saya merasakan enjoy dengan suasana Hadramaut, khususnya kota Tarim. Ada nuansa religi yang khas di kota para wali ini, nuansa yang –saya kira- sulit ditemukan di tempat lain. Keberkahan kota Tarim dan kesejukan petuah para ulamanya membuat saya lupa kampung halaman, asyik dengan aktivitas kuliyah, sehingga waktu 5 tahun di kota Tarim seakan hanya dilewati dalam beberapa minggu saja.
Menurut Anda, bagaimanakah sistem pembelajaran di Universitas Al-Ahqaff?
Dulu pendidikan S1 di Al Ahqaff ditempuh selama 4 tahun,tapi ada peraturan baru yang menetapkan bahwa jenjang S1 harus ditempuh selama 5 tahun.
Ada nilai plus dari sistem perkuliyahan Al Ahqaff jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Negara Arab, yaitu masih diterapkannya sistem pengkajian kitab-kitab muqorror (buku panduan mata kuliyah) secara harfiyah. Maksud harfiyah di sini adalah mengkaji secara detail lafadz per-lafadz, masalah per-masalah, pasal per-pasal dan bab per-bab. Sehingga para mahasiswa dapat menguasai substansi keilmuan (mata kuliyah), bukan sekedar kulitnya saja.
Di samping itu, pendidikan di Al Ahqaff juga mengedepankan unsur amaliyah (aplikasi ilmu), para mahasiswa diarahkan untuk menjadi sosok yang Alim (pakar) dan Amil (Aplikator), bukan sarjana yang hanya kaya intelektualitas namun miskin moralitas. Dalam hal ini, kita selalu meneladani interaksi keseharian para civitas akademika Al Ahqaff juga para habaib dan masyayikh kota Tarim yang selalu mengedepankan akhlakul karimah.
Ustadz adalah salah satu contoh sukses alumni Ahqaff di Indonesia, apakah ada rahasia sukses belajar di balik keberhasilan Ustadz?
Saya menganggap diri saya masih sangat jauh dari kata “sukses” yang anda sematkan, namun jika yang dimaksud dengan “sukses” adalah berhasil menyelesaikan pendidikan di Al Ahqaff, maka saya termasuk kriteria, karena banyak juga mahasiswa dari Indonesia dan non Indonesia yang tidak mampu menyelesaikan penidikan di Al Ahqaff, sehingga mereka harus drop-out dan pulang ke tanah air di tengah proses pendidikan.
(Al hamdulillah, waktu itu saya adalah termasuk mahasiswa Indonesia yang meraih predikat Jayyid jiddan karena dibantu dengan hafal Al-Qur’an). Prinsip saya dalam mengarungi dunia pendidikan adalah; Man Jadda Wajada (orang yang bersungguh-sungguh pasti akan meraih targetnya), ungkapan ini cukup sederhana namun sangat sulit diaplikasikan. Maka untuk mengaplikasikannya kita harus mengawal prinsip tadi dengan tiga hal, yaitu: kedisiplinan, konsisten dan kesabaran.
Sebagai penutup, mohon Ustadz memberikan pesan dan motivasi bagi kami untuk lebih fokus dengan studi dan cara menatap masa depan...
Kita harus menguasai khazanah kitab turots (Kuning) Ulama Shalafunas sholih, setelah itu kita berusaha menjadikan pesan-pesan turots sebagai spirit dalam meniti kehidupan. Dengan demikian kita akan menjadi generasi yang mampu mendialogkan antara teks dan konteks, mampu menjembatani antara sejarah dan realita. Bagaimanapun juga “Al Insan Ibnu Zamanihi” artinya : (Manusia dipengaruhi oleh zamannya)
Sampai jumpa, dilain waktu, semoga kita selalu istiqomah dalam menuangkan ide kita setiap hari. Rumah Peradaban, Bangun Tapan, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar