Judul Buku : Filsafat Pendidikan Islam
Penerbit : Remaja Rosda Karya, Bandung
Tahun Terbit : 2010
Saya berusaha semaksimal mungkin untuk meresum
buku-buku pendidikan filsafat Islam, buku Filsafat Pendidikan Islam yang
ditulis oleh Prof. Ahmad Tafsir membahas pandangan filsafat dalam dunia
pendidikan Islami. Namun demikian, bukan berarti penulis hanya menukil
pandangan filsafat dari tokoh-tokoh Islam. Untuk memperkuat tulisannya, penulis
tetap memandang filsafat dari semua sudut pandang tokoh. Baik tokoh klasik
maupun modern. Baik tokoh Barat maupun tokoh dunia Islam. Dalam bukunya,
Penulis mengakui bahwa buku tersebut tidak ditulis berdasar urutan pembahasan
layaknya sebuah buku filsafat. Tetapi ditulis berdasarkan urutan alur berfikir
terhadap cara memandang persoalan pendidikan melalui pendekatan deduktif-induktif.
Dimulai dari pembahasan tentang hakikat manusia baru kemudian membahas hakekat
pendidikan dilanjutkan dengan beberapa kritik terhadap kebijakan pendidikan di
Indonesia dilihat dari sudut pandang filsafat. saya melihat buku ini
berdasarkan urutan bab. Oleh karenanya, perlu kiranya diketahui bahwa buku
Filsafat Pendidikan Islam ini tersusun dari 10 bab.:Bab satu Pendahuluan, Bab dua Hakikat
Manusia, Bab tiga Hakekat
Pendidikan, Bab empat Dasar
Pandidikan, Bab lima Tujuan Pendidikan, Bab enam Kurikulum
Pendidikan, Bab tujuh Peserta Didik, Bab delapan Lembaga
Pendidikan, Bab sembilan Proses
Pendidikan, Bab sepuluh, Pengembangan Pendidikan.
Dari
urutan bab di atas, terlihat bahwa penulis menyusun buku ini seperti sebuah
bunga rampai tulisan. Dan sejatinya memang diakui oleh penulis bahwa buku ini
merupakan kumpulan makalah-makalah yang telah beliau sampaikan untuk bahan
perkuliahan selama beliau berkecimpung sebagai doses filsafat. Namun demikian
tulisan ini justru memiliki kekuatan sendiri dalam memandang persoalan
pendidikan di Indonesia dan sangat pantas untuk dibaca. Semoga resume ini
dapat memberikan cakrawala berfikir yang baru dalam memandang pendidikan
sebagai sebuah proses yang semestinya penuh dengan semangat perubahan. Bahwasanya
pendidikan mengutip dari istilah dalam buku ini sebuah usaha untuk menolong
manusia untuk memanusiakan dirinya.
Bahwa kualitas kepribadian
anak didik kita belakangan ini kian memprihatinkan. Maraknya tawuran antar
remaja di berbagai kota ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang cenderung
anarkis, meningkatnya penyalahgunaan narkoba, dan suburnya pergaulan bebas di
kalangan mereka adalah bukti bahwa pendidikan kita telah gagal membentuk akhlak
anak didik. Pendidikan kita selama ini memang telah melahirkan alumnus
yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan formal yang diikutinya. Akan
tetapi, pendidikan yang ada tidak berhasil menanamkan nilai-nilai kebajikan.
Kita lihat berapa banyak lulusan pendidikan memiliki kepribadian yang justru
merusak diri mereka. Tampak dunia pendidikan di Indonesia masih dipenuhi
kemunafikan karena yang dikejar hanya gelar dan angka.
Bukan
hal mendasar yang membawa peserta didik pada kesadaran penuh untuk mencari ilmu
pengetahuan dalam menjalani realitas kehidupan. Pendidikan semacam itu tidak
terjadi di negeri ini sebab orientasinya semata-mata sebagai sarana mencari
kerja. Kenyataannya yang dianggap sukses dalam pendidikan adalah mereka
yang dengan sertifikat kelulusannya berhasil menduduki posisi pekerjaan yang
menjanjikan gaji tinggi. sementara nilai-nilai akhlak dan budi pekerti menjadi
`barang langka’ bagi dunia pendidikan. Melalui buku Filsafat
Pendidikan Islami ini, Ahmad Tafsir menggugat pendidikan kita yang masih
menghasilkan lulusan berakhlak buruk seperti suka menang sendiri, pecandu
narkoba dan hobi tawuran, senang curang dan tidak punya kepekaan sosial, atau
gila harta dan serakah. Menurut penulis yang sehari-hari mengajar filsafat
di Universitas Islam negeri Bandung ini, kegagalan pendidikan bukan hanya
diukur dari standar pemenuhan lapangan kerja. Masalah yang lebih besar adalah
pendidikan kita belum bisa menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia.
Ahmad
Tafsir menegaskan, bangsa-bangsa yang dimusnahkan Tuhan bukan karena tidak
menguasai iptek atau kurang pandai, namun karena buruknya akhlak. Karena
itu, mengutip kata-kata bijak para filosof, pendidikan sejatinya ditujukan
untuk membantu memanusiakan manusia. Pendidikan tersebut harus mencakup unsur
jasmani, rohani dan kalbu. Implementasi ketiga unsur itu dalam format
pendidikan niscaya menghasilkan lulusan dengan nilai kemanusiaan yang
tinggi. Hanya saja, kita melihat pendidikan di Indonesia sangat jauh dari
yang diharapkan bahkan jauh tertinggal dengan Negara-negara berkembang lainnya.
Hal ini setidaknya dapat dilihat dari rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan.
Pendek kata, pendidikan kita belum mampu mengantarkan anak didik pada kesadaran
akan dirinya sebagai manusia. Padahal, manusia adalah pelaku utama dalam
proses pendidikan. Untuk itu penulis membuka kajiannya dengan penjelasan
mengenai hakekat manusia. Penjelasan soal ini dibagi dalam tiga bagian yakni
penjelasan tentang manusia menurut manusia. Pada bagian ini banyak dikutip
pendapat para filosof yang memaparkan unsur-unsur manusia. Bagian kedua
memuat penjelasan Allah tentang manusia.
Di
sini diungkap beberapa ayat Alquran yang merinci faktor-faktor penentu bagi
kehidupan manusia. Misalnya. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka
bumi dengan banyak kelebihan. Manusia juga dilengkapi banyak kelemahan yang
tidak dimiliki makhluk lain. Bahasan seputar manusia ditutup dengan bagian
terakhir, yaitu inti manusia. Penjelasan soal inti manusia didasarkan pada
hadis qudsi yang menerangkan bahwa ada tujuh kulit yang melingkupi inti
manusia. Pembahasan tentang inti manusia ini tidak bisa dipisahkan dari dunia
pendidikan. Sebab pendidikan yang sejati adalah untuk manusia. Selain
mengurai hakikat manusia, penulis juga menjelaskan soal hakikat pendidikan,
tujuan pendidikan, dan pengembangan pendidikan sebagai usaha membangun manusia
seutuhnya.
Saya
menyadari tulisan ini masih sangat jauh dari baik, maka kritik dan saran sangat
diharapkan agar pemahaman filsafat pendidikan dapat lebih ditingkatkan serta
sebagai praktisi pendidikan kita lebih menjiwai pendidikan. Sampai jumpa besok.
Diresum buku selanjutnya. De kandang, Bangun Tapan, yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar