Wacana
yang paling jelas,
komprehensif
dan
mendalam
yang ditemukan di
dalam al-Qur’an
adalah konsep ilmu. Tentu, dalam kedudukannya yang penting ini, ilmu hanya merupakan turunan dari tauhid (mengesakan) yang merupakan tema sentral
dan konsep dasar
al-Qur’an. Sebagai bukti bahwa di dalam al-Qur’an kedudukan ilmu
sangat penting, al-Qur’an menyinggung akar kata ilmu dan derivasinya
sebanyak 800 kali. Ide
tentang ilmu inilah yang membedakan pandangan dunia (worldview)
Islam
dengan semua
paham dan
ideologi
dunia. Tidak ada pandangan lain yang dapat menyebabkan pencarian
pengetahuan
sebagai kewajiban individu dan kolektif serta memberikan
tuntutan moral
dan religius sebagai
ibadah, selain
pandangan Islam. Oleh karena itu, bagi Anes ilmu menjadi ciri kebudayaan dan peradaban muslim. Dalam sejarah perdaban
muslim,
konsep
ilmu
diresapi oleh
semua lapisan masyarakat dan
terimplementasikan
di dalam
seluruh kerja
keras intelektual. Tidak ada
peradaban lain dalam sejarah yang telah merangkul
konsep “pengetahuan” dengan sedemikian erat dan mencarinya dengan sepenuh tenaga.
Konsep al-Qur’an mengenai‘ilm, yang
biasanya diterjemahkan menjadi ilmu pengetahuan secara orisinil telah membentuk ciri-ciri utama peradaban muslim dan menuntunnya ke arah puncak kejayaannya. Waktu itu, sebagaimana halnya sekarang, ilmu telah menciptakan cara
berpikir dan
menyelidiki yang khas Islam.
Ilmu
membimbing bagaimana kaum muslimin memahami
realitas dengan sebaik-baiknya, dan bagaimana
pula membentuk dan mengembangkan suatu masyaratakat yang adil. Ilmu adalah perekat yang mengikat
masyarakat muslim
dengan lingkungannya sehingga memberikan bentuk yang dinamis dan hidup kepada Islam. Kendatipun demikian, sementara sarjana-sarjana dan intelektual- intelektual muslim klasik telah mengakui bahwa ilmu adalah konsep yang di dalamnya terdapat fondasi-fondasi pokok peradaban Muslim,
dan bahwa ia merupakan
sebuah
nilai
yang begitu pervasive.
Sarjana- sarjana
kontemporer baik yang modernis maupun yang
tradisionalis
tampak mengesampingkan peranan
kunci yang bisa dimainkan oleh epistemologi dalam membangun masyarakat. Ilmu
pengetahuan
yang berkembang di Barat telah memberikan
kontribusi bagi penyingkapan rahasia-rahasia alam. Hal-hal yang pada
awalnya dianggap mustahil bagi akal, kini dengan kasat mata dapat
dibuktikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sumbangan ilmu pengetahuan di
bidang kedokteran
dapat dilihat melelui
rekayasa
genetika,
bayi tabung
dan cloning. Namun demikian, epistemologi sains
modern juga telah memproduksi beberapa akibat
yang
dapat menyengsarakan. Desakan untuk menolak pertimbangan nilai
dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan menyebabkan sains
memperlakukan
objek penelitian (manusia maupun bukan manusia) sebagai benda mati yang dapat dieksploitasi, dimanipulasi, dibedah, bahkan
disiksa atas
nama sains. Penekanannya yang menyeluruh
pada penguasaan dan dominasi telah menghasilkan krisis ekologi yang telah megancam
tempat kediaman manusia di bumi ini. Metodologinya telah mereduksi sains dalam proses tanpa akhir untuk memecahkan, membekukan
atau mematirasakan seorang subyek ketika mempelajari; dan kemudian
menempatkannya pada suatu jarak ketika mengevaluasi.
Dalam bentuknya yang lebih ekstrim, misalnya, dalam reduksionisme
biologis,
sains telah dirasuki oleh apa yang disebut
Erich Fromm necrophilia, gairah membunuh. Bahwa sains
secara tak
terelakkan telah bergandengan
dengan
penindasan dan
dominasi; bukanlah suatu kebetulan belaka; ia merupakan
produk langsung dari
epistemologi
rasionalistik, sebagaimana Newton, Darwin, Freud, B.H. Skinner dan Edward Wilson adalah produk-produk dari
epistemologi yang sama.
Dalam konteks di atas, Fazlur Rahman (1993) mengemukakan bahwa persoalan
yang timbul
sekarang
ialah
bagaimana manusia bertanggung jawab?
Ini
masalah mendasar yang kita maksudkan
sebagai islamisasi ilmu pengetahuan.
Kita
merasakan bahwa dunia
modern saat ini telah berkembang dan
terbangun atas pengetahuan yang tak dapat dianggap Islami. Yang kita maksud ialah
bahwa dunia
modern telah menyalahgunakan ilmu pengetahuan, sementara tidak
ada
masalah dengan ilmu pengetahuan. Kita membutuhkan sains untuk pembangunan paradaban sebagai suatu sistem objektif untuk memecahkan masalah-masalah yang
terkerangka sesuai
dengan
paradigmanya sendiri. Sains Islam harus
muncul dari nilai-nilai dan konsep-konsep Islam yang abadi. Tanpa sains Islam, masyarakat muslim hanya akan menjadi bagian
dari
peradaban Barat. Sains Islam, tentu saja harus berangkat dari pandangan dunia yang Islami.
Karena, semua nilai dan
tindakan manusia, sadar atau
tidak, merupakan refleksi atas keyakinan-keyakinan metafisis atau pandangan dunianya tertentu. Bidang pengetahuan
dan pendidikan
merupakan dua bidang yang secara organis berakar pada pandangan dunia itu, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh
kajian filsafat dan
sosiologi pengetahuan dan pendidikan. Pandangan dunia Islam dapat
didefinisikan dalam dua tingkat. Tingkat pertama,
adalah seluruh penafsiran manusia terhadap dunia, dan kedua adalah
tentang
kehidupan kita di
dunia ini, yaitu seluruh nilai
yang dengannya
seseorang hidup, dan ini membentuk suatu problem etika.
Di dalam Islam, lingkaran nilai-nilai dan konsep-konsep seperti tauhid, khalifah, akhirat, ibadah, ilm dan istislah, individu-individu
dan masyarakat akan bebas mengekspreksikan individualitasnya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sesuai dengan
apa
yang mereka
inginkan sejauh daerah yang telah diterangkan oleh nilai-nilai dan
konsep-konsep abadi itu bisa dipetakan. Sepanjang sejarah
Islam, kita dapat melihat bahwa berbagai masyarakat muslim
telah
memanifestasikan nilai-nilai tersebut melalui berbagai cara sesuai
dengan kondisi
sejarah
dan
lingkungan mereka.
Dengan mekanisme seperti inilah, peradaban Islam senantiasa berubah pada kenyataannya, semangat ilmiah para ilmuwan dan sarjana muslim mengalir dari
kesadaran mereka akan tauhid. Tak diragukan lagi, asal-usul dan perkembangan semangat ilmiah dalam Islam
berbeda dengan asal-usul
dan
perkembangan hal yang sama di Barat. Orang-orang Islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam
secara serius pada abad ketiga Hijriah
(abad kesembilan Masehi). Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap dan kerangka ilmiah
yang diwarisi
dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan
objektivitas, penghormatan terhadap
bukti empiris yang memiliki
dasar yang kuat, serta analisis yang tajam dapat kita
temukan dalam kajian-kajian jurisprudensi (fiqh) dan hadis Nabi.
Masyarakat muslim kontemporer memiliki kebutuhan-kebutuhan dan
kondisi khusus yang perlu disesuaikan
dengan
pandangan dunia Islam. Beberapa dari kebutuhan-kebutuhan itu, seperti sandang- pangan berlaku sama bagi
setiap orang. Namun kebutuhan-kebutuhan
lainnya, seperti perlunya melepaskan ketergantungan dan eksploitasi
teknologi, merupakan produk situasi sejarahnya yang khusus. Yang lainnya merupakan hasil dari kebudayaan muslim itu sendiri; tipe
tempat tinggal yang cocok dengan way of life Islam. Meski hampir
sebagian besar hasil-hasil ilmu pengetahuan
modern
sesuai dengan
pernyataan al-Qur’an, bahkan sebagian dari kita
yang optimis dengan berani menyatakan
bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan modern hanya akan memverifikasikan kandungan al-Qur’an namun
umat tak dapat menutup mata bahwa “anak yang
terlantar ini” harus dikembalikan kepada ibu kandungnya; ibu yang
bijaksana untuk segera dibersihkan dari noda-noda sekularisme yang
melekat kuat pada padannya.
Ilmu pengetahuan harus terbuka pada konteksnya, dan Islam
kita itulah yang menjadi konteksnya, yang akan mengarahkan ilmu pengetahuan menuju tujuan hakikinya; yakni memahami realitas alam, untuk memahami
eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan
hakekat penciptaan dirinya, dan
sama sekali bukan mengarahkan ilmu
pengetahuan melulu pada
praksis, pada
kemudahan-kemudahan
material duniawi. Dalam tradisi intelektual Islam, ada suatu hirarki dan
kesalinghubungan antar-berbagai
disiplin ilmu yang memungkinkan realisasi
kesatuan (tauhid) dalam kemajemukan, bukan hanya dalam wilayah iman dan pengalaman keagamaan, tetapi juga dalam dunia ilmu pengetahuan.
Kekacauan yang mewarnai
kurikulum
pendidikan modern di kebanyakan Negara Islam, menurut Nasr, dalam banyak hal disebabkan oleh hilangnya visi hirarkis
pengetahuan seperti yang dijumpai dalam tradisi Islam klasik.
Konsep epistemologi
dalam Islam pada hakekatnya tidak terlepas dari dimensi teologisnya yang bercorak tauhid. Dalam konsep epistemologi Islam ilmu pengetahuan dipandang sebagai perpanjangan
dari ayat-ayat Allah dalam semua ciptaan-Nya. Di sinilah arti
penting apa yang disebut dengan islamisasi ilmu pengatahuan, yakni mengembalikan ilmu pengetahuan kepada jalur yang semestinya, sehingga menjadi
berkah
dan
rahmat kepada manusia dan alam, bukan malah sebaliknya membahwa mudarat. Tulisan yang disarikan dari berbagai
referensi. Lebih lanjut tulisan ini bisa di baca di bukunya, Asy’arie, Musa. 1999. Filsafat Islam
tentang Kebudayaan. Yogyakarta:
Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI). Baca juga buku, Bakar, Osman. 1991.
Tawhid and Science: Essays on the History
and Philosophy of Islamic Science. Terjemahan
oleh Yuliani Liputo. Bandung: Pustaka Hidayah. Dan lihat juga, Sardar, Ziauddin. 1998. Jihad Intelektual:
Merumuskan Parameter- parameter Sains Islam. AE. Priyono (Ed.) Cet. I. Surabaya: Risalah Gusti.
Sekian. Babadan, Bangun Tapan, Bantul, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar