Translate this written according your language!

Kamis, 05 Mei 2016

SAINS ISLAM : SEBUAH TANGGUNGJAWAB INTELEKTUAL


Wacana  yang  paling  jelas,  komprehensif  dan  mendalam yang ditemukan di dalam al-Quran adalah konsep ilmu. Tentu, dalam kedudukannya yang penting ini, ilmu hanya merupakan turunan dari tauhid (mengesakan) yang merupakan tema sentral dan konsep dasar al-Quran. Sebagai bukti bahwa di dalam al-Quran kedudukan ilmu sangat penting, al-Quran menyinggung akar kata ilmu dan derivasinya sebanyak 800 kali. Ide tentang ilmu inilah yang membedakan pandangan dunia (worldview) Islam dengan semua paham dan ideologi dunia. Tidak ada pandangan lain yang dapat menyebabkan pencarian pengetahuan sebagai kewajiban individu dan kolektif serta memberikan tuntutan moral dan religius sebagai ibadah, selain pandangan Islam. Oleh karena itu, bagi Anes  ilmu menjadi ciri kebudayaan dan peradaban muslim. Dalam  sejarah  perdaban  muslim,  konsep  ilmu diresapoleh semua lapisan masyarakat dan terimplementasikan di dalam seluruh kerja keras intelektual. Tidak ada peradaban lain dalam sejarah yang telah merangkul konsep pengetahuan dengan sedemikian erat dan mencarinya dengan sepenuh tenaga.

Konsep al-Qur’an mengenaiilm, yang biasanya diterjemahkan menjadi ilmu pengetahuan secara orisinil telah membentuk ciri-ciri utama peradaban muslim dan menuntunnya ke arah puncak kejayaannya. Waktu itu, sebagaimana halnya sekarang, ilmu telah menciptakacara  berpikir  dan  menyelidikyang  khas Islam.  Ilmu membimbing bagaimana kaum muslimin memahami realitas dengan sebaik-baiknya, dan bagaimana pula membentuk dan mengembangkan suatu masyaratakat yang adil. Ilmu adalah perekat yang mengikat masyarakat muslim dengan lingkungannya sehingga memberikan bentuk yang dinamis dan hidup kepada Islam. Kendatipun demikian, sementara sarjana-sarjana dan intelektual- intelektual muslim klasik telah mengakui bahwa ilmu adalah konsep yang di dalamnya terdapat  fondasi-fondasi pokok peradaban Muslim, dan bahwa ia merupakan sebuah nilai yang begitu pervasive.
Sarjana- sarjana kontemporer baik yang modernis maupun yang tradisionalis tampak mengesampingkan peranan kunci yang bisa dimainkan oleh epistemologi dalam membangun masyarakat. Ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat telah memberikan kontribusi bagi penyingkapan rahasia-rahasia alam. Hal-hal yang pada awalnya dianggap mustahil bagi akal, kini dengan kasat mata dapat dibuktikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sumbangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran dapat dilihat melelui rekayasa genetika,  bayi tabung  dan cloning.  Namun demikian, epistemologi sains  moderjuga telah memproduksi beberapa  akibat  yang  dapat menyengsarakan. Desakan  untuk   menola pertimbanga nilai  dalam  rangka memperoleh ilmu  pengetahuamenyebabkan  sains  memperlakukan objek penelitian (manusia maupun bukan manusia) sebagai benda mati yang dapat dieksploitasi, dimanipulasi, dibedah, bahkan disiksa atas nama sains. Penekanannya yang menyeluruh   pada penguasaan dan dominasi telah menghasilkan krisis ekologi yang telah megancam tempat kediaman manusia di bumi ini. Metodologinya telah mereduksi sains dalam proses tanpa akhir untuk memecahkan, membekukan atau mematirasakan seorang subyek ketika mempelajari; dan kemudian menempatkannya  pada suatu jarak ketika mengevaluasi.
Dala bentukny yan lebi ekstrim,    misalnya dalam reduksionisme  biologis,  sains telah dirasuki oleh apa  yandisebut Erich Fromm  necrophilia, gairah membunuh. Bahwa sains secara tak terelakkan telah bergandengan dengan penindasan dan dominasi; bukanlah suatu kebetulan belaka; ia merupakan produk langsung dari epistemologi rasionalistik, sebagaimana Newton, Darwin, Freud, B.H. Skinner dan Edward Wilson adalah produk-produk dari epistemologi yang sama.
Dalam konteks di atas, Fazlur Rahman (1993) mengemukakan bahwa persoalan  yang  timbul  sekarang  ialah  bagaimana  manusia bertanggung jawab? Ini masalah mendasar yang kita maksudkan sebagai islamisasi ilmu  pengetahuan.  Kita merasakan bahwa dunia modern saat ini telah berkembang dan terbangun atas pengetahuan yang tak dapat dianggap Islami. Yang kita maksud ialah bahwa dunia modern telah menyalahgunakan ilmu pengetahuan, sementara tidak ada masalah dengan ilmu pengetahuan. Kita membutuhkan sains untuk pembangunan paradaban sebagai suatu sistem objektif untuk memecahkan masalah-masalah yang terkerangka sesuai dengan paradigmanya sendiri. Sains Islam harus muncul dari nilai-nilai dan konsep-konsep   Islam yang abadi. Tanpa sains Islam, masyarakat muslim hanya akan menjadi bagian dari peradaban Barat. Sains Islam, tentu saja harus berangkat dari pandangan dunia yang Islami.
 Karena, semua nilai dan tindakan manusia, sadar atau tidak, merupakan refleksi atas keyakinan-keyakinan metafisis atau pandangan dunianya tertentu. Bidang pengetahuan dan pendidikan merupakan dua bidang yang secara organis berakar pada pandangan dunia itu, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh kajian filsafat dan sosiologi pengetahuan dan pendidikan. Pandangan dunia Islam dapat didefinisikan dalam dua tingkat. Tingkat pertama, adalah seluruh penafsiran manusia terhadap dunia, dan kedua adalah tentang kehidupan kita di dunia ini, yaitu seluruh nilai yang dengannya seseorang hidup, dan ini membentuk suatu problem etika.
Di dalam Islam, lingkaran nilai-nilai dan konsep-konsep seperti tauhid, khalifah, akhirat, ibadah, ilm dan istislah, individu-individu dan masyarakat akan bebas mengekspreksikan individualitasnya dan memenuhi  kebutuhan-kebutuhannya sesuai dengan apa yang mereka inginkan sejauh daerayantelah diterangkaoleh  nilai-nilai dan konsep-konsep abadi itu bisa dipetakan. Sepanjang sejarah Islam, kita dapat melihat bahwa berbagai masyarakat muslim telah memanifestasikan nilai-nilai tersebut melalui berbagai cara sesuai dengan kondisi sejarah dan lingkungan mereka.
Dengan mekanisme seperti inilah, peradaban Islam senantiasa berubah pada kenyataannya, semangat ilmiah para ilmuwan dan sarjana muslim mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Tak diragukan lagi, asal-usul dan  perkembangasemangat  ilmiah  dalam  Islam berbeda dengan asal-usul dan perkembangan hal yang sama di Barat. Orang-orang Islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam secara serius pada abad ketiga Hijriah (abad kesembilan Masehi). Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap dan kerangka ilmiah yang diwarisi dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektivitas, penghormatan  terhadap  buktempiris yang memiliki dasar yang kuat, serta analisis yang tajam dapat kita temukan dalam kajian-kajian jurisprudensi (fiqh) dan hadis Nabi.
Masyarakat muslim kontemporer memiliki kebutuhan-kebutuhan dan kondisi khusus yang perlu disesuaikan dengan pandangan dunia Islam.  Beberapa  dari  kebutuhan-kebutuhan  itu,  sepertsandang- pangan berlaku sama bagi setiap orang. Namun kebutuhan-kebutuhan lainnya, seperti perlunya melepaskan ketergantungan dan eksploitasi teknologi, merupakan produk situasi sejarahnya yang khusus. Yang lainnya merupakan hasil dari kebudayaan muslim itu sendiri; tipe tempat tinggal yang cocok dengan way of life Islam. Meski  hampir  sebagian  besar  hasil-hasil  ilmu  pengetahuan modern sesuai dengan pernyataan al-Qur’an, bahkan sebagian dari kita yang optimis dengan berani menyatakan bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan modern hanya akan memverifikasikan kandungan al-Qur’an namun umat tak dapat menutup mata bahwa anak yang terlantar ini harus dikembalikan kepada ibu kandungnya; ibu yang bijaksana  untuk segera dibersihkan dari noda-noda sekularisme yang melekat kuat pada padannya.
 Ilmu pengetahuan harus terbuka pada konteksnya, dan Islam kita itulah yang menjadi konteksnya, yang akan mengarahkan ilmu pengetahuan menuju tujuan hakikinya; yakni memahami realitas alam, untuk memahami eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakekat penciptaan dirinya, dan sama sekali bukan mengarahkan ilmu pengetahuan melulu pada praksis, pada kemudahan-kemudahan material duniawi. Dalam tradisi intelektual Islam, ada suatu hirarki dan kesalinghubungan antar-berbagai disiplin ilmu yang memungkinkan realisasi kesatuan (tauhid) dalam kemajemukan, bukan hanya dalam wilayah iman dan pengalaman keagamaan, tetapi juga dalam dunia ilmu pengetahuan.
Kekacauan yang mewarnai kurikulum pendidikan modern di kebanyakan Negara Islam, menurut Nasr, dalam banyak hal disebabkan oleh hilangnya visi hirarkis pengetahuan seperti yang dijumpai dalam tradisi Islam klasik. Konseepistemologi   dalam   Islam   pad hakekatny tidak terlepas dari dimensi teologisnya yang bercorak tauhid. Dalam konsep epistemologi Islam ilmu pengetahuan dipandang sebagai perpanjangan dari ayat-ayat Allah dalam semua ciptaan-Nya. Di sinilah arti penting apa yang disebut dengan islamisasi ilmu pengatahuanyakni mengembalikan ilmu pengetahuan kepada jalur yan semestinya,   sehingga   menjadi  berkah  dan  rahma kepada manusia dan alam, bukan malah sebaliknya membahwa mudarat.  Tulisan yang disarikan dari berbagai referensi. Lebih lanjut tulisan ini bisa di baca di bukunya, Asyarie, Musa. 1999. Filsafat Islam tentang Kebudayaan. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI). Baca juga buku, Bakar, Osman. 1991. Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science. Terjemahan oleh Yuliani Liputo. Bandung: Pustaka Hidayah. Dan lihat juga, Sardar, Ziauddin. 1998. Jihad Intelektual: Merumuskan Parameter- parameter Sains Islam. AE. Priyono (Ed.) Cet. I. Surabaya: Risalah Gusti. Sekian. Babadan, Bangun Tapan, Bantul, Yogyakarta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar