Translate this written according your language!

Minggu, 08 Mei 2016

AGAMA SEBAGAI MOTIVASI SOSIAL

Saya melihat dari setiap golongan sosial mempunyai kebiasaan-kebiasaan sosial yang disebut dengan budaya kelompok (custom). Budaya tersebut memberikan cirri tertentu pada kelompok tersebut sehingga dapat dibedakan dengan kelompok sosial lainnya. Cirri osial itu juga berlaku pada setiap aspek kehidupan anggota kelompok, termasuk aspek keberagamaan mereka. Contohnya, kelompok masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani, baik di lading maupun di sawah, yang sangat bergantung pada pergantian musim, penghujan atau kemarau. Karena datangnya musim tersebut tidak teratur, terkadang mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda, dan kadng menyebabkan krugian yang tidak terkira, nasibnya sangat bergantung pada musim yang tidak dapat dikontrol oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu, pengharapan dan ketergantungan pada Yang Maha kuasa sangat kuat dan dalam keberagamaan, mereka sangat totalitas.
Berbeda dengan kelompok masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pedagang yang dapat menghitungkan jual belinya itu dengan logika dan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, memperoleh keuntungan dan kerugian pun dapat diprediksikan dan dirasionalisasikan, maka kehidupan ekonomi mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada Yang Maha kuasa. Oleh karena itu, pedagang dalam menghayati agama lebih rasional dan tidak selalu totalitas. Demikian pula halnya dengan karakteristik keberagaman kalangan militer yang berbeda dengan kalangan cendekiawan, keberagaman kalangan buru berbeda dengan kalangan eksekutif. 
Yang dimaksud dengan tindakan sosial adalah segala kegiatan individu dalam masyarakat yang disengaja dan berpola, yang kemampuan melakukan tindakan tersebut diperoleh dari hasil belajar, dan tindakan tersebut mengandung implikasi budaya pada anggota masyarakat yang lainnya. Sebagaiman diketahui bahwa agama merupakan sumber nilai bagi sistem budaya suatu masyarakat yang dapat dijadikan pedoman bagi tindakan terpola bagi anggota masyarakat tersebut sehingga mereka dapat melakukan tindakan yang terkontrol.
Oleh karena itu, berbagai kegiatan masyarakat yang menurut sifatnya merupaka sebuah tindakan sosial sebenarnya banyak dimotivasi oleh keyakinan agama yang mereka anut. Seseorang akan dapat membedakan antara tindakan sosial murni dan mana tindakan sosial yang berasal dari keyakianan agama. Anggota masyarakat yang menolong korban Lumpur Panas (lapindo brantas) di Kabupaten Sidoarjo dapat diidentifikasi sebagai suatu tindakan sosial sebagai sesama anggota masyarakat, namun dapat juga diidentifikasi sebagai tindakan agama karena masyarakat tersebut adalah masyarakat yang beragama. Oleh karena itu, pendefinisian berbagai tindakan agama semakin sulit dilakukan apabila masyarakat  tersebut bukan "masyarakat agama"  
Pembangunan masyarakat sebagai sebuah bentuk perubahan sosial yang direncankan banyak melibatkan unsur-unsur sosial, termasuk di dalamnya para pemeluk agama. Mereka berperan sebagai subjek maupun sebagai objek pembangunan. Keterlibatan dapat terjadi dalam proses perencanan, pelaksanaan, maupun pemanfaatan hasil-hasil pembangunan, yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat. Umat beragama selalu mempertanyakan sah atau tidaknya suatu perubahan kepada para pemimpin agam mereka.
Apalagi bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan, ketika agama masih dijadikan sebagai referensi utama bagi tindakan-tindakan mereka. Mengenai boleh tidaknya mereka berprtisipasi dalam perubahan sosial tersebut bergantung kepada ajaran agama yang mereka yakini. Sebagai contoh adalah dalam kasus keikutsertaan mereka dalam pelaksanaan program Keluaga Berencana (KB). Mereka bertanya, "apakah keluarga berencana itu halal atau tidak? Alat kontrasepsi apa yang diperbolehkan oleh hukum agama? Dan bagaimana hukum bagi orang yang memutuskan alat reproduksi?
Perlu kita ketahui bahwa, fungsi sosial agama adalah mendukung dan melestarikan masyarkat yang sudah ada (emile durkheim). Agama, menurut mereka bersifat fungsional terhadap persatuan dan solidaritas sosial. Dari beberapa penulis Amerika: Yinger, O'Dea, Berger dan luckman mereka membandingkan pendapat Marx dan Freud, yang kedua-duanya juga menekankan keharusan fungsional dalam agama pada sebagian besar, walau tidak semua, masyarakat manusia. Cirri umum yang dimilki oleh orang Amerika itu adalah pandangan mereka bahwa karena kepercayan dan peribadatan keagamaan itu bersifat universal, maka kedua-duanya juga hanya dapat dijelaskan dengan sifat-sifat  universal kehidupan manusia, baik dalam arti individual maupun sosial. Mereka semua sependapat untuk menentang pendapat positivis lama yang menyatakan bahwa agama muncul dalam kondisi-kondisi kebodohan dan ketidakcakapan intelektual tertentu yang tidak akan bisa bertahan selama-lamanya mereka ingin menunjukan bagaimana sifat-sifat kemanusiaan esensial tertentu seharusnya muncul dalam gejala-gejala keagamaan, dan untuk melakukan hal ini mereka menyatakan bahwa agama-agama berfungsi mendukung nilai-nilai dan aturan sosial.
Pendapat Yinger yang terpenting adalah bahwa semuam orang memerlukan nilai-nilai mutlak untuk pegangan hidup, dan bahwa nilai-nilai ini merupakan jawaban terhadap pesoalan-persoalan terakhir mengenai hidup dan mati. Beberapa agama memberikan jawaban terhadap kebutuhan ini, padahal pengetahuan empirik maupun pengetahuan sains (ilmu pengetahuan) tidak dapat memberikannya. Sebenarnya perkembangan ilmu pengetahuan pada saat sekarang mencakup juga penelitian seksama terhadap berbagai metode dan cakupan ilmu pengetahuan yang memberikan penjelasan tentang keterbatasab-keterbatasannya dalam memberikan jawaban terhadap berbagai kecemasan dan frustasi manusia.
 Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa manusia tidak bisa lepas dari agama, karena agama mampu memberikan nilai-nilai untuk pegangan hidup. Kebutuhan manusia terhadap agama dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat akan semakin melegitimasi manusia sebagai mahluk yang memilliki akal, pikiran dan etika meskipun dalam berbagai aspek manusia mempunyai persamaan dengan binatang antara lain : Petama, baik manusia maupun binatang mempunyai naluri makan dan minum, keduanya adalah materi yang membutuhkan materi juga dan makn minum termasuk masalah primer untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Kedua, manusia dan binatang mempunyai naluri untuk mempertahankan diri, tidak ada yang sukarela mengorbankan diri secara konyol dari setiap ancaman bahaya. Ketiga, manusia dan binatng mempunyai naluri keturunan yang mengakibatkan terjaminnya kelanjutan jenis. Selain itu, naluri takut dan benci juga selalu menyertai manusia dalam kehidupannya sebagaimana adanya pada binatang-binatang.
Perbedaannya dalam persoalan naluri tersebut terletak pada factor volume. Manusia mampu mengembangkan dan mengarahkan naluri-naluri tersebut (dinamis), sedangkan binatang bersifat tetap dan tidak berubah (statis). Perbedaan yang fundamental antra manusia dengan binatang terletak pada adnya norma-norma, etika, moral atau tepatnya disebut dengan kode etik, yang mampu memberikan nilai mutlak dan absolut, mengangkat martabat manusia, serta mampu membedakan dari seluruh jenis binatang. Sehingga agama merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Manusia bukan hanya jasmani sebagaimana ia bukan hanya rohani, tetapi manusia merupakan resultan dari dua komponen, jasmani dan rohani. Di sinilah peran agama sebagai pedoman bagi perkembangan dan pertumbuhan yang harmonis lagi sehat bagi jasmani dan rohani.
Selain itu, Yusuf al-Qardhawi, menjelaskan faktor-faktor kebutuhan terhadap agama dan perannya terhadap kehidupan manusia, di antaranya: Pertama, Kebutuhan Akal Terhadap Pengetahuan Tentang Hakikat Terbesar dan Tunggal. Kebutuhan manusia terhadap agama mulanya timbul dari kebituhannya untuk mengetahui dirinya dan untuk mengetahui hakikat eksistensi alam semesta di lingkungannya, juga untuk mengetahui jawaban pasti mengenai pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul bahkan menyibukkan pikrannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntut jawaban yang memuaskan dan menentrmkan jiwanya. Kedua, Kebutuhan Fitrah Manusia . Akal adalah salah satu potensi rohani yang dimiliki oleh manusia. Di samping akal manusia mempunyai potensi lain yang disebut dengan roh dan insting atau naluri, atau biasa juga disebut fitrah.
Secara fitri, manusia tidak akan merasa puas dengan ilmu pengetahuannya dan tidak akan merasa kenyang dengan kegemarannya terhadap seni, sastra, dan lainnya. Ia tetap akan merasa kebimbangan dalam jiwanya, kelaparan rohaninya dan hidupnya pasti akan mengalami kekurangan, kebimbangan, keraguan, ketakutan, keresahan, dan kegelisahan.
 Pertama. Kebutuhan Akan Kesehatan dan Kekuatan Jiwa. Manusia dalam hidupnya membutuhkan tiang untuk bersandar, tonggak untuk bergantung padanya, di saat kesengsaraan meliputinya, bencana menimpanya, atau ketika ia menghadapai apa yang tidak disukainya atau gagal dalam mencapai apa yang diharapkannya atau terjadi sesuatu yang ia takutkan. Di sinilah hadir peran agama yang akan memberinya sebuah kekuatan, harapan dan kemauan atas rasa optimis dalam hidup, serta memberi ketabahan di saat mengalami kesempitan dan penderitaan. Kedua, Kebutuhan Moral. Kebutuhan lain manusia terhadap agama adalah kebutuhan yang bersifat sosiologis. Kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan masyarakat terhadap sebuah motivasi yang mendorongmasing-masing individu anggota masyarakat untuk bermoral atau melakukan kebaikan dan menghargai hak-hak orang lain. Dalam kata lain, peran agama dapat memotivasi seseorang untuk mematuhi aturan dan ketentuan yang telah ditetapkannya, sebabaturanlah yang dapat menciptakn suasana hidup berdisiplin dan harmonis.
 Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap agama bukanlah merupakan kebutuhan sekunder atau sampingan, melainkan sebuah kebutuhan primer yang erat hubungannya dengan substansi kehidupan, misteri alam wujud dan hati nurani manusia yang paling dalam. Oleh karena itu, agama dalam kehidupan manusia memainkan peran aktif dan tampak jelas fungsinya dalam berbagai interaksi dan hubungan, baik hubungan yang bersifat vertical maupun hubungan yang bersifat horizontal.
 Baca lebih lanjut, bukunya, Scharf, Betty R. Sosiologi Agama, Jakarta : Media Grafika, 2004., juga baca bukunya, Kahmad, Dadang. Metode Penelitian Agama, Bandug: Pustaka Setia, 2000. Dan juga baca bukunya, Yusuf, Anwar Ali. Studi Agama Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003. Sampai jumpa di analisis bacaan buku selanjutnya. Semoga berkah, sampai jumpa besok. De Kandang, Bangun Tapan, Lkis, Yogyakarta.


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar