One Day One Knowledge: KARAKTER PEMIMPIN YANG SANGAT LUAR BIASA: Menarik sebetulnya jika membahas pemimpin yang tentu tidak akan ada habinya untuk dibicarakan, pemimpin yang dapat memberikan kesej...
Blog ini adalah tempat saya menuliskan berbagai ilmu pengetahuan keseharian saya (sesekali esai atau opini ringan). Artikel-artikel di blog ini tentu melalui bacaan-bacaan buku atau reaksi terhadap isu-isu yang hangat. semoga artikel yang saya tulis bisa nyaman dan menarik untuk dibaca oleh semua pihak.
One Day One Knowledge
Blog ini adalah tempat saya menuliskan berbagai ilmu pengetahuan keseharian saya (sesekali esai atau opini ringan). Artikel-artikel di blog ini tentu melalui bacaan-bacaan buku atau reaksi terhadap isu-isu yang hangat. semoga artikel yang saya tulis bisa nyaman dan menarik untuk dibaca oleh semua pihak. Blog yang berisi materi-materi kuliah keseharian yang tidak ada di kampus namun bisa di dapat di blog ini setiap hari. Selamat datang di Universitas kehidupan.
Jumat, 30 Desember 2016
Kamis, 14 Juli 2016
KHUTBAH CINTA : MEMBUDAYAKAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA
MEMBUDAYAKAN TOLERANSI
ANTAR UMAT BERAGAMA
Oleh :
Muhamad Abdul Aziz
Mahasiswa Pascasarjana
Pendidikan Islam
UIN Sunan Kalijaga
Khutbah 1
اَلْحَمْدُلِلّهِ
حَمْدًاكَثِيْرًاكَمَااَمَرَ. وَاَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّللهُ وَحْدَه
لاَشَرِيْكَ لَهُ. اِرْغَامًالِمَنْ جَحَدَبِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُاْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَااتَّصَلَتْ
عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ اَمَّا
بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ
مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ
وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَفِيْهِ
بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا:
اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ
آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ
عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. في
ِالْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dimulyakan Allah
Saya jadi teringat tahun 1979, di kota Vatikan Roma, diadakan konferensi
internasional yang dihadiri oleh seluruh tokoh dan pembesar agama dunia. Dalam konferensi tersebut
terungkap, Indonesia merupakan negara percontohan dalam kehidupan toleransi antar
umat beragama. Bahkan Paus Paulus II pun mengatakan, “Indonesia meskipun terdiri dari beragam suku bangsa, bahasa, adat
istiadat dan agama, namun hidup dalam kerukunan dan keramahtamahan.”
Namun penulis merasa, kekaguman dunia internasional tersebut kini sudah
tinggal kenangan, sebab perbedaan suku, bangsa, adat istiadat, dan agama kini
sering menjadi pemicu dan pemacu lahirnya fanatisme buta, persaingan tidak
sehat, perselisihan, dan perpecahan, bahkan gontok-gontokan yang mengikis habis
nilai-nilai toleransi.
Jika saya perhatikan bahwa kerusuhan demi kerusuhan akhir-akhir ini
muncul diberbagai daerah, laksana cendawan dimusim hujan, seperti Sambas,
Sampit, Ambon, Timor-Timor, Poso dan lainnya. Ternyata menurut para pengamat
para sosial semua itu bersumber dari masalah SARA terutama agama. Pertanyaanya,
apakah ada agama yang mengajarkan umatnya bermusuhan ? tentu tidak ada.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dirahmati Allah
Oleh karena itu, agar perbedaan agama tidak melahirkan permusuhan, kita
harus membudayakan toleransi antar umat beragama. Mengingat betapa penting hal
tersebut sebagaimana diungkapkan dalam QS al-Kafirun ayat 1-6 yang artinya :
قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ
أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ
أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣
وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ
أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ
Artinya : “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan
menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu
tidak pernah (pula) menjadi penyembah tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu
dan untukkulah agamaku.”
Menurut pembacaan saya,
sababun nuzul ayat tersebut, sebagaimana ditafsiri oleh Imam as Syuti dalam
“Lubabun Nuqul Fi Asbab al-Nuzul” adalah berkenaaan dengan ajakan kafir Quraisy
kepada Rasul untuk bergantian menyembah Tuhan masing-masing. Satu tahun
menyembah Allah, satu tahun lagi menyembah berhala. Maka turunlah ayat diatas,
dengan menolak keras ajakan tersebut.
Islam, mempunyai konsep yang jelas dan tegas dalam masalah kehidupan
beragama. Dalam masalah muamalah kita boleh bertoleransi. Tapi dalam akidah dan
ibadah, Islam dengan tegas mengatakan : “Tidak ada tuhan selain Allah” bahkan
sampai tetes darah penghabisan tetap “Tidak ada tuhan selain Allah”, namun
demikian, Islam tidak pernah menganggu aqidah agama lain.
Dalam amatan saya,
sejarah membuktikan, bahwa agama Akhaton masuk ke Mesir dengan menghancurkan
tempat-tempat ibadah “Amon”, agama Kristen masuk ke Mesir dengan membunuh
penganut agama Mesir kuno, agama Romawi Paganis masuk ke Mesir dengan membunuh
penganut Kristen Koptik, Islam masuk ke Mesir tidak satupun rumah ibadah yang
dibakar, tdak seorangpun pendeta yang dibantai. Bahkan Rasul dengan tegas mengatakan,
“Siapa saja yang menyakiti kafir dzimi
sungguh telah melukaiku.”
Dari sejarah tersebut menunjukan bahwa Islam bukan agama sadis, Islam
bukan bengis, bahkan Islam bukan agama teroris, sebagaimana dituduhkan Barat
saat ini. Tapi Islam adalah agama Rahmatan lilalamin. Dengan demikian, kalau
akhir-akhir ini terjadi teror dan
pengeboman seperti di Legian Kutai Bali, Hotel Mariot dan Kedubes
Australia, di Paris, Prancis, yang katanya dilakukan oleh orang-orang yang
beragama Islam. Disini saya tegaskan semua itu bukan dari ajaran Islam, sekali
lagi bukan ajaran Islam, tapi lebih disebabkan karena faktor kepentingan
golongan dan bentuk perlawanan imprialisme politik Barat.
Muncul pertanyaan, apa yang seharusnya kita lakukan agar kerukunan umat
beragama tetap terjaga ? sebagai jawabannya, mari kita renungkan firman Allah
dalam penggalan surat al-An’am ayat 108 :
وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ
فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ
Artinya : “Dan janganlah
kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka
nanti akan memaki Allah dengan melampai batas tanpa pengetahuan.”
Dengan demikian, firman Allah tadi mengajarkan kepada kita umat Islam
agar jangan menghina, melecehkan, dan memerangi ajaran agama lain. Biarkanlah
kaum Kristiani umat Hindu mengamalkan Veda-Vadenta, Resi Agatya, demikian juga
kepada umat Budha biarkan menjalankan ajaran Dharma, Shidarma Gautama. Jika
kita umat Islam sudah giat berusaha, bangsa Indonesia sudah memiliki semangat
kerja yang tinggi serta para pemuda mampu mengisi masa mudanya dengan berbagai
kreasi, insya Allah kita akan maju dan berkembang, mampu bersaing secara ilmu
pengetahuan, tekhnologi dan saint, sehingga mendapatkan hidup dan kehidupan
yang bahagia. Sesuai janji Allah dalam
surat an-Nahl ayat 97 :
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ
وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ
أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧
Artinya :“
Barangsiapa yang mengerjakan amal
saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya
akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri
Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.”
Demikian jani Allah apabila kita mau berusa bekerja dan berkarya serta
dilandasi keimanan, maka Allah akan memberikan kepada kita “khayaatan Thoyibah”
kehidupan yang baik dan sukses.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Menurut saya, umat Islam saat ini merupakan umat yang tertinggal, salah
satu penyebabnya karena kita memiliki semangat kerja yang rendah. Oleh karena
itu jika kita ingin maju mulai saat ini ; 1. Mari
kita satukan persepsi, 2.Mari
samakan visi dan misi untuk bangkit, 3. Mari bekerja dan berkarya demi nusantara tercinta. Amiin ya
Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
اللَّهُمَّ
اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ
بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا
مَحْرُوْماً.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى
وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ
تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً
مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً،
وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً
حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى
الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك
أجمعين. اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا
وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ
الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ،
الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَار.ِ اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ
السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في
ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
رَبَّنَا
آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ
.
عِبَادَ
اللهِ...
KHUTBAH CINTA : “MENGAJAK KEPADA KEMAJUAN: BELAJAR MEMAKMURKAN MASJID”
“MENGAJAK KEPADA KEMAJUAN:
BELAJAR MEMAKMURKAN MASJID”
Oleh :
Muhamad Abdul Aziz
Mahasiswa Pascasarjana
Pendidikan Islam
UIN Sunan Kalijaga
Khutbah 1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اعوذبالله من الشيطان الر جيم : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيْمًا.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dimulyakan Allah
Saya jadi teringat pada tahun 1975, di kota Makkah Al-Mukarramah, diadakan Muktamar Risalatul
Masjid sedunia. Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa masjid bisa berperan
secara optimal bila memiliki ruangan, peralatan, serta sarana dan prasarana
yang memadai. Seiring dengan keputusan muktamar tersebut, maka dibangunlah
masjid-masjid yang megah, mewah, kokoh, bahkan memilki nilai arsitektur yang
bergaya Cina, Eropa, dan India.
Namun, seiring dengan bermunculannya masjid-masjid
tersebut, fungsi dan peran masjid yang sebenarnya semakin terkikis serta
mengalami pergusuran dan pergeseran. Akibatnya, masjid laksana bangunan kosong
yang tiada bermakna. Megah masjidnya, tapi sepi dari muatan takwa. Mewah
masjidnya, tapi kosong dari ajaran agama. Bahkan, besar dan menjulang tinggi
masjidnya, tapi ramai dengan remaja yang sedang bercinta.
Melihat kondisi tersebut, Maka timbul
pertanyaan, bagaimanakah upaya untuk memakmurkan masjid Allah tersebut? Salah
satu jawabannya mari kita merujuk pada (al-Qur’an surat At-Taubah: 18):
إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ
ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ
وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada
Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk”.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dirahmati Allah
Dari ayat tersebut dapat
kita pahami bahwa orang-orang berimanlah yang dapat memelihara, memakmurkan,
serta menjaga masjid Allah swt. Demikian ungkapan Imam al-Akhdori dalam kitab
Jauhar Maknun-nya. Begitu juga Khalid
Abdurrahman al-Aqi dalam “Shafwatul Bayan Li Ma’anil Qur’an’’ memberikan
sarahan bahwa tidak ada orang yang mau memakmurkan dan menjaga masjid Allah,
kecuali orang-orang yang membenarkan ke-Esaan Allah dan hari akhir.
Maka, ketika seorang mikmin sudah tidak
peduli, apatis, acuh tak acuh, masa bodoh terhadap masjid, bukan saja
mencerminkan seorang mukmin yang durhaka, tapi lebih dari itu, mencerminkan
bersikap kafir dan musyrik. Sebab, orang musyrik dan kafir tidak mungkin
menjaga masjid, tapi sebaliknya, mereka mengotori, merusak, bahkan menghancurkan masjid Allah swt.
Sebagai bukti, kita saksikan bersama tragedi di
Ambon, masjid-masjid dibombardir. Kejadian di Poso, ratusan dan ribuan masjid
dibumihanguskan. Bahkan, akhir-akhir ini di Palestina, Masjidil Aqsha sebagai
lambang kebanggaan Umat Islam sedunia hendak diambil alih untuk dijadikan
gereja oleh Zionis Israel yang notabenenya dari kaum bangsa Yahudi.
Lalu munculah sebuah pertanyaan,
bagaimana langkah kongkrit kita untuk belajar
menjaga, memelihara dan memakmurkan masjid ? Prof.
Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan
al-Qur’an mengatakan, “Kita dituntut untuk menjadikan
masjid sebagai tempat sujud, melakukan ibadah ritual, serta rekayasa sosial
demi kemajuan kehidupan umat Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah pada
waktu di Kota Madinah.
Sejarah mencatat, tak kurang dari 10% fungsi
yang telah diemban Masjid Nabawi dalam rangka membangun tatanan kehidupan yang
Islami. Berawal dari Masjid, Rasul membina akidah umat sehingga tercipta akidah
dan keyakinan yang mantap. Berawal dari masjid, Rasul saw. melakukan
konsolidasi sehingga tercipta Islam yang kokoh dan kuat. Berawal dari masjid,
Rasul menentukan strategi perang sehingga umat Islam meraih kemenangan. Maka,
pantas kalau Prof. Mukti Ali berpendapat bahwa masjid merupakan central of activity. Menjadi pusat dan
pangkal muslim dalam melakukan berbagai aktivitas. Namun sayang, fungsi dan peran masjid, kini
dari hari ke hari, semakin mengalami penyempitan.
Saya
melihat sekarang masjid kadang hanya sebagai tempat ibadah ritual saja. Itu pun
hanya segelintir orang yang sadar akan shalat
berjamaah di masjid. Lebih ironis, terkadang masjid dikambinghitamkan sebagai
sumber perselisihan, permusuhan, bahkan pertentangan
antargolongan. Gara-gara beda aliran, beda paham, lain madzhab, jadi enggan
pergi ke masjid. Akibatnya, lahir masjid-masjid mewah sebagai tandingan. Muncul
masjid-masjid megah sebagai simbol
golongan. Bahkan, marak dan merebak masjid-masjid berarsitektur Eropa
yang penuh dengan kemunafikan. Oleh
karena itu, pantas Allah mengigatkan kita melalui firman-Nya dalam (surat
At-Taubah : 108 ) :
لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ
عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ فِيهِ رِجَالٞ
يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ
١٠٨
Artinya : “Janganlah
kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang
didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”.
Pada ayat tersebut terdapat kalimat yang artinya : Bahwa mendirikan
masjid harus didasari dan didorong oleh ketakwaan kepada Allah. Sebab dengan
ketakwaanlah, kita bisa memakmurkan masjid. Dengan demikian tujuan-tujuan
lain di luar tujuan takwa kepada Allah harus dihindari, bahkan harus jauh-jauh
dibuang dalam rangka pembangunan, pembinaan, dan memakmurkan masjid. Apakah itu
kepentingan pribadi, materi, ideologi maupun politik. Rasulullah memberikan
batasan dan gambaran tentatang fungsi masjid : “Masjid-masjid tidak wajar untuk
tempat kencing atau membuang sampah. Ia hanya untuk (dijadikan tempat)
berdzikir kepada Allah, taat dan membaca (belajar) al-Qur’an”.
Lalu, bagaimanakah kesadaran umat Islam dalam
rangka memakmurkan dan memfungsikan masjid di negara kita ini? Alhamdulillah, di
kota-kota sekarang muncul kesadaran masyarakat untuk memakmurkan masjid dengan
ditandai munculnya DKM, IRMA. Malah tak mau ketinggalan. muncul INEM (Ikatan
Nenek-nenek Masjid). Begitu juga di akademika kampus, mahasiswa melakukan KKN
(Kuliah kerja Nyata) yang berbasis masjid.
Mereka shalat
berjamaah, salat tarawih bersama, khataman al-Qur’an bersama. Mudah-mudahan ini
semua merupakan langkah awal untuk
menjadikan masjid sebagai sarana pembinaan sekaligus wahana mempererat tali
persatuan dan kesatuan sesama muslim. Tidak ada bangunan yang bisa membina
kesatuan umat Islam secara terpadu, menjadi komitmen menjadi satu, serta
menghilangkan kultus individu, kecuali hanya satu bangunan yang dinamakan masjid.
Oleh sebab itu, mulai saat ini jangan muncul
lagi istilah masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid LDII, masjid persis. Juga jangan sampai kita mendengar ada masjid
Tukimin, Paijo, Gus Dur, Amin Rais, Hamzah Haz, SBY bahkan masjid Jokowi. Setuju? Tapi hanya ada satu, yaitu masjid umat Islam. Yang
bukan umat Islam, jangan sekali-kali mengotori, apalagi merusak masjid
bagaimanapun dan dengan cara apapun!
Dan ketika kita belajar memakmurkan masjid, berarti kita sedang beramal
shalih.
Allah akan menjamin balasan insan-insan yang shalih sebagaimana dijelaskan dalam (al-Qur’an. Surat Al-Maidah : 9) :
وَعَدَ ٱللَّهُ
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٌ
عَظِيمٞ ٩
Artinya : “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan yang beramal shalih, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar”.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dimulyakan Allah
Pada
momen kali ini sangat penting bagi kita memilki tanggung jawab moral untuk belajar dan terus belajar memakmurkan masjid, baik untuk sarana ibadah
ritual maupun sosial dalam rangka menciptakan kehidupan umat Islam yang
bertakwa. Oleh karena itu, kewajiban kita saat ini agar persatuan dan persaudaraan kita ini di capai maka
salah satu diantaranya adalah dapat membina dan memakmurkan masjid Allah swt.
Amiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
اَللّهُمَّ
وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَ سَيّدِنَا اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِاَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ
يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّهُمَّ
اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ.
اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ
وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَالْفِتَنِ مَاظَهَرَمِنْهَا وَمَابَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا
هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِالْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ
الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَالله
اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يذكركم وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ
Langganan:
Postingan (Atom)