Sepenuhnya tulisan ini didapat dari kajiannya Dr.
Fahruddin Faiz, yang di kaji di Masjid Jendral Sudirman, saya hanya
menyempurnakan saja melalui sebuah tulisan mini. Tulisan kali ini kita ketemu
tokoh besar terakhir dari generasi pertama filsafat Islam, yang setanding
dengan Ibnu Rusdi, yang dikenal dengan burhaninya al-Ghazali yang dikenal
dengan irfaninya. Sementara Ibnu Kholdun yang sudah tidak lagi sibuk dengan isu
langit namun sudah turun ke bumi. Ibnu Kholdun terkenal dengan sebutan bapak
filsafat sosial dan filsafat sejarah ada yang bilang Ibnu Kholdun bapak historiografi
dan sosiologi. Meskipun jika dilihat dari sejarah tidak banyak umat Islam yang
mengapresiasi Ibnu Kholdun, pikiran-pikiran Ibnu Kholdun ini populer belakangan
justru “atas jasanya para orientalis”, yang membongkar-bongkar tradisi
pemikiran Islam dan antara lain ketemulah Ibnu Kholdun.
Orang orientalis yang dikenal membangkitkan
kembali ide-ide namanya Prans Rosental.
sementara di Indonesia pikiran-pikiran Ibnu Kholdun diperkenalkan,
diterjemahkan kitab Muqoddimah oleh Ahmadi Toha, dari
pesantren-pesantren menerjemahkannya sangat lama termasuk di Jogjakarta. Kitab
Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab al-‘Ibar, yang terdiri dari
bagian Muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang
merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang
mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum.
Adapun tema Muqaddimah ini adalah gejala-gejala
sosial dan sejarahnya. kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar, fi Ayyam
al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa Man asharuhum min Dzawi as-Sulthani al-‘Akbar.
(kitab pelajaran dan arsip sejarah zaman permulaan dan zaman akhir yang
mencakup peristiwa politik mengenai orang-orang Arab, non-arab, dan barbar,
serta raja-raja besar yang semasa dengan mereka), yang kemudian terkenal dengan
kitab ‘Ibar, yang terdiri dari tiga buku dan beberapa jilid. Nama lengkapnya Ibnu
Kholdun adalah Waliuddin Abdurrahman Bin Muhammad Bin Muhammad Bin Abi Bakar
Muhammad Bin Al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Kholdun. lahir
di Tunisia pada awal ramadhan 732 h ( 27 Mei 1332 m). Dan meninggal di Kairo pada
tanggal 25 ramadhan 808 h (19 maret 1406), ia dimakamkan di pemakaman sufi
besar di mesir.
Ibnu kholdun berasal
dari keluarga yang terkemuka garis keturanan dari ayahnya. sebagaimana dalam
kalimat permulaan muqaddimah, Ibnu Kholdun menyebut dirinya sebagai al-Hadhramy. Ayahnya Ibnu Kholdun yang intens dibidang pendidikan dan juga ahli dalam
bidang politik. oleh karena itu guru pertama Ibnu Kholdun adalah ayahnya
sendiri. Ibnu Kholdun dilihat dari setting
pemikirannya. ia lahir dalam lingkungan agama Islam. Juga banyak belajar agama Islam,
sastra, serta hukum. Dan akhirnya Ibnu
Kholdun dikenal sebagai seorang ahli sejarah. Ibnu Kholdun banyak berhijrah, dari Tunis ke Marokko,
Spanyol, Aljazair, Jazirah Arab, kembali ke Afrika dan tinggal di Mesir hingga
wafatnya. ia banyak mendalami
kebudayaan timur tengah dan Islam, banyak mempengaruhi hasil karya
penulisannya.
Ia hidup di kehidupan suku Arab yang menjadi objek kajiannya, menjadi
dasar pengamatan dan kemudian diangkat menjadi suatu teori sosiologi dan
sejarah perkembangan bangsa-bangsa di timur tengah. Kemudian orientasinya semangat Islam selalu dibangun dengan konsepsi
ajaran Islam tentang kehidupan manusia, yaitu keseimbangan dan keharmonisan
hidup di dunia dan akhirat, juga mempengaruhi karyanya. Dan orientasi dunia dan
semangat hidup mencapai kebahagiaan di akhirat, merupakan pola hidup yang
seimbang. Ibnu Kholdun memulai
menggunakan pendekatan multidimensional. Mengungkapkan fenomena sejarah dengan
ilmu bantu sosiologi.
Mari kita lihat sejarahnya, Ibnu Kholdun orang yang pertama bilang bahwa sejarah tidak hanya semata-mata peristiwa
terjadi tapi ada subjek dan objek. Jadi menurut Ibnu Kholdun sejarah mengandung
dua makna, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu (sejarah
tradisional), dan penuturan seseorang tentang peristiwa-peristiwa tersebut
(filsafat sejarah). Ibnu kholdun dalam penelitian fenomena sejarah, pertumbuhan
dan perkembangan masyarakat ibn khaldun didasarkan pada prinsip-prinsip dan
bukti-bukti empiris-historis. berdasarkan penelitian empiris-historis ini, Ibnu Kholdun menghasilkan
beberapa tesis kontroversial, salah satunya menyangkut konsep‘asabiyyah
(solidaritas sosial).
Sejarah itu kata Ibnu Kholdun ada sisi sejarah: ekstrinsik (deskriptif)dan
intrinsik (kritis). oleh sebab itu, sejarah berakar dalam filsafat (hikmah).
jawaban mendalam tentang bagaimana (proses) dan mengapa (sebab) dapat ditemukan
dalam filsafat. Sejarah dalam cermatannya ibnu kholdun mempunyai fungsi dan
nilai praktis, yaitu membantu penguasa atau siapapun saja dalam pembuatan
kebijakan dan pengambilan keputusan. Dan sejarah membantu stabilitas dan
harmoni filsafat politik dalam pengaturan kota (Tadbîr al-Madina) atau
dalam pengaturan masalah-masalah politik di sini terlihat semacam hirarki ilmu,
yaitu filsafat politik, sejarah, dan ilm al-umrân, bekalnya adalah pengalaman.
Hati-hati ketika berdekatan dengan kebohongan informasi-informasi
sejarah, ada banyak sebab setelah kita lihat kontek, telitilah dari kontek dari ciri-ciri itu ada enggak seperti,
pertama, terlalu fanatik terhadap pendapat-pendapat dan madzhab-madzhab. Kabar
atau berita atau sejarah dari yang seperti ini perlu di kritisi. Yang kedua, terlalu
percaya kepada orang-orang yang menyampaikan informasi. Kalau yang bawa berita
orang seperti ini rentan dimanipulasi. Yang ketiga, tidak mampu memahami maksud
sebenarnya yang terdapat dalam informasi yang diterima, sehingga informasi
salah itu disebarkan lagi kepada yang lain. Dan ini hubungannya dengan IQ.
Informasi dari orang seperti ini perlu di kritisi. Yang keempat, berasumsi
secara salah terhadap kebenaran informasi karena terlalu percaya kepada sumber
informasi. Kelima, tidak mengetahui kesesuaian antara kondisi-kondisi yang
dikandung informasi dengan realitas sebenarnya karena ambiguitas dan rekayasa,
sehingga informasi salah yang telah direkayasa itu disebarluaskan. Keenam, cenderung
mendekatkan diri kepada para penguasa dan berkedudukan tinggi dengan memuji
secara berlebihan. Yang terakhir, tidak mengetahui sifat-sifat kondisi yang
terjadi dalam peradaban nalar sejarah, karena mode hari ini dan dulu beda.
Terakhir dari Muqoddimah dari Ibnu Kholdun, "He who finds a new path is a pathfinder,
even if the trail has to be found again by others; and he who walks far ahead
of his contemporaries is a leader, even though centuries pass before he is
recognized as such." Jadi. Ia yang
mnemukan jalan dari adalah seorang pelopor meskipun jejak-jejaknya harus
ditemukana lagi oleh orang lain, dan ia yang berjalan didepan orang lain adalah
pemimpin, meskipun lewat berabad sebelum ia diakui sebelum diakui menjadi
pemimpin. Berkaryalah tidak akan sia-sia apapun karyamu. Jangan menunggu besok,tapi
mulailah dari sekarang. Semoga berkah dan manfaat. Sampai jumpa di kajian selanjutnya. Sebetulnya tulisan
ini sangat panjamg, namun karena tulisan ini akan di bukukan jadi saya tulis hanya
sedikit saja. Terimakasih Pak Fahrudin
Faiz, terimakasih Mas Jens. Gusdurian, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar