Translate this written according your language!

Rabu, 04 Mei 2016

NGAJI FILSAFAT ISLAM : IBNU KHOLDUN (Bapak Sosiologi Pertama)

 
Sepenuhnya tulisan ini didapat dari kajiannya Dr. Fahruddin Faiz, yang di kaji di Masjid Jendral Sudirman, saya hanya menyempurnakan saja melalui sebuah tulisan mini. Tulisan kali ini kita ketemu tokoh besar terakhir dari generasi pertama filsafat Islam, yang setanding dengan Ibnu Rusdi, yang dikenal dengan burhaninya al-Ghazali yang dikenal dengan irfaninya. Sementara Ibnu Kholdun yang sudah tidak lagi sibuk dengan isu langit namun sudah turun ke bumi. Ibnu Kholdun terkenal dengan sebutan bapak filsafat sosial dan filsafat sejarah ada yang bilang Ibnu Kholdun bapak historiografi dan sosiologi. Meskipun jika dilihat dari sejarah tidak banyak umat Islam yang mengapresiasi Ibnu Kholdun, pikiran-pikiran Ibnu Kholdun ini populer belakangan justru “atas jasanya para orientalis”, yang membongkar-bongkar tradisi pemikiran Islam dan antara lain ketemulah Ibnu Kholdun.  
Orang orientalis yang dikenal membangkitkan kembali ide-ide namanya  Prans Rosental. sementara di Indonesia pikiran-pikiran Ibnu Kholdun diperkenalkan, diterjemahkan kitab Muqoddimah oleh Ahmadi Toha, dari pesantren-pesantren menerjemahkannya sangat lama termasuk di Jogjakarta. Kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab al-‘Ibar, yang terdiri dari bagian Muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum.
Adapun tema Muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya. kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar, fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa Man asharuhum min Dzawi as-Sulthani al-‘Akbar. (kitab pelajaran dan arsip sejarah zaman permulaan dan zaman akhir yang mencakup peristiwa politik mengenai orang-orang Arab, non-arab, dan barbar, serta raja-raja besar yang semasa dengan mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab ‘Ibar, yang terdiri dari tiga buku dan beberapa jilid. Nama lengkapnya Ibnu Kholdun adalah Waliuddin Abdurrahman Bin Muhammad Bin Muhammad Bin Abi Bakar Muhammad Bin Al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Kholdun. lahir di Tunisia pada awal ramadhan 732 h ( 27 Mei 1332 m). Dan meninggal di Kairo pada tanggal 25 ramadhan 808 h (19 maret 1406), ia dimakamkan di pemakaman sufi besar di mesir.   
Ibnu kholdun berasal dari keluarga yang terkemuka garis keturanan dari ayahnya. sebagaimana dalam kalimat permulaan muqaddimah, Ibnu Kholdun menyebut dirinya sebagai al-Hadhramy. Ayahnya Ibnu Kholdun yang intens dibidang pendidikan dan juga ahli dalam bidang politik. oleh karena itu guru pertama Ibnu Kholdun adalah ayahnya sendiri. Ibnu Kholdun dilihat dari setting pemikirannya. ia lahir dalam lingkungan agama Islam. Juga banyak belajar agama Islam, sastra, serta hukum. Dan akhirnya Ibnu Kholdun dikenal sebagai seorang ahli sejarah. Ibnu Kholdun banyak berhijrah, dari Tunis ke Marokko, Spanyol, Aljazair, Jazirah Arab, kembali ke Afrika dan tinggal di Mesir hingga wafatnya. ia banyak mendalami kebudayaan timur tengah dan Islam, banyak mempengaruhi hasil karya penulisannya.
Ia hidup di kehidupan suku Arab yang menjadi objek kajiannya, menjadi dasar pengamatan dan kemudian diangkat menjadi suatu teori sosiologi dan sejarah perkembangan bangsa-bangsa di timur tengah. Kemudian orientasinya semangat Islam selalu dibangun dengan konsepsi ajaran Islam tentang kehidupan manusia, yaitu keseimbangan dan keharmonisan hidup di dunia dan akhirat, juga mempengaruhi karyanya. Dan orientasi dunia dan semangat hidup mencapai kebahagiaan di akhirat, merupakan pola hidup yang seimbang. Ibnu Kholdun memulai menggunakan pendekatan multidimensional. Mengungkapkan fenomena sejarah dengan ilmu bantu sosiologi.
Mari kita lihat sejarahnya, Ibnu Kholdun orang yang pertama bilang bahwa sejarah tidak hanya semata-mata peristiwa terjadi tapi ada subjek dan objek. Jadi menurut Ibnu Kholdun sejarah mengandung dua makna, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu (sejarah tradisional), dan penuturan seseorang tentang peristiwa-peristiwa tersebut (filsafat sejarah). Ibnu kholdun dalam penelitian fenomena sejarah, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat ibn khaldun didasarkan pada prinsip-prinsip dan bukti-bukti empiris-historis. berdasarkan penelitian empiris-historis ini, Ibnu Kholdun menghasilkan beberapa tesis kontroversial, salah satunya menyangkut konsep‘asabiyyah (solidaritas sosial).
Sejarah itu kata Ibnu Kholdun ada sisi sejarah: ekstrinsik (deskriptif)dan intrinsik (kritis). oleh sebab itu, sejarah berakar dalam filsafat (hikmah). jawaban mendalam tentang bagaimana (proses) dan mengapa (sebab) dapat ditemukan dalam filsafat. Sejarah dalam cermatannya ibnu kholdun mempunyai fungsi dan nilai praktis, yaitu membantu penguasa atau siapapun saja dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan. Dan sejarah membantu stabilitas dan harmoni filsafat politik dalam pengaturan kota (Tadbîr al-Madina) atau dalam pengaturan masalah-masalah politik di sini terlihat semacam hirarki ilmu, yaitu filsafat politik, sejarah, dan ilm al-umrân, bekalnya adalah pengalaman.
Hati-hati ketika berdekatan dengan kebohongan informasi-informasi sejarah, ada banyak sebab setelah kita lihat kontek, telitilah dari kontek  dari ciri-ciri itu ada enggak seperti, pertama, terlalu fanatik terhadap pendapat-pendapat dan madzhab-madzhab. Kabar atau berita atau sejarah dari yang seperti ini perlu di kritisi. Yang kedua, terlalu percaya kepada orang-orang yang menyampaikan informasi. Kalau yang bawa berita orang seperti ini rentan dimanipulasi. Yang ketiga, tidak mampu memahami maksud sebenarnya yang terdapat dalam informasi yang diterima, sehingga informasi salah itu disebarkan lagi kepada yang lain. Dan ini hubungannya dengan IQ. Informasi dari orang seperti ini perlu di kritisi. Yang keempat, berasumsi secara salah terhadap kebenaran informasi karena terlalu percaya kepada sumber informasi. Kelima, tidak mengetahui kesesuaian antara kondisi-kondisi yang dikandung informasi dengan realitas sebenarnya karena ambiguitas dan rekayasa, sehingga informasi salah yang telah direkayasa itu disebarluaskan. Keenam, cenderung mendekatkan diri kepada para penguasa dan berkedudukan tinggi dengan memuji secara berlebihan. Yang terakhir, tidak mengetahui sifat-sifat kondisi yang terjadi dalam peradaban nalar sejarah, karena mode hari ini dan dulu beda. 
Terakhir dari Muqoddimah dari Ibnu Kholdun, "He who finds a new path is a pathfinder, even if the trail has to be found again by others; and he who walks far ahead of his contemporaries is a leader, even though centuries pass before he is recognized as such." Jadi. Ia yang mnemukan jalan dari adalah seorang pelopor meskipun jejak-jejaknya harus ditemukana lagi oleh orang lain, dan ia yang berjalan didepan orang lain adalah pemimpin, meskipun lewat berabad sebelum ia diakui sebelum diakui menjadi pemimpin. Berkaryalah tidak akan sia-sia apapun karyamu. Jangan menunggu besok,tapi mulailah dari sekarang. Semoga berkah dan manfaat. Sampai jumpa di kajian selanjutnya. Sebetulnya tulisan ini sangat panjamg, namun karena tulisan  ini akan di bukukan jadi saya tulis hanya sedikit saja.  Terimakasih Pak Fahrudin Faiz, terimakasih Mas Jens. Gusdurian, Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar