Translate this written according your language!

Kamis, 14 Juli 2016

KHUTBAH CINTA : MEMBUDAYAKAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA


MEMBUDAYAKAN TOLERANSI
ANTAR UMAT BERAGAMA

Oleh :
Muhamad Abdul Aziz

Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Islam
UIN Sunan Kalijaga

Khutbah 1
اَلْحَمْدُلِلّهِ حَمْدًاكَثِيْرًاكَمَااَمَرَ. وَاَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّللهُ وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَهُ. اِرْغَامًالِمَنْ جَحَدَبِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُاْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَااتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَفِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. في ِالْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Hadirin Salat Jama’ah Jum’at yang dimulyakan Allah

Saya jadi teringat tahun 1979, di kota Vatikan Roma, diadakan konferensi internasional yang dihadiri oleh seluruh tokoh dan pembesar  agama dunia. Dalam konferensi tersebut terungkap, Indonesia merupakan negara percontohan dalam kehidupan toleransi antar umat beragama. Bahkan Paus Paulus II pun mengatakan, “Indonesia meskipun terdiri dari beragam suku bangsa, bahasa, adat istiadat dan agama, namun hidup dalam kerukunan dan keramahtamahan.”
Namun penulis merasa, kekaguman dunia internasional tersebut kini sudah tinggal kenangan, sebab perbedaan suku, bangsa, adat istiadat, dan agama kini sering menjadi pemicu dan pemacu lahirnya fanatisme buta, persaingan tidak sehat, perselisihan, dan perpecahan, bahkan gontok-gontokan yang mengikis habis nilai-nilai toleransi.
Jika saya perhatikan bahwa kerusuhan demi kerusuhan akhir-akhir ini muncul diberbagai daerah, laksana cendawan dimusim hujan, seperti Sambas, Sampit, Ambon, Timor-Timor, Poso dan lainnya. Ternyata menurut para pengamat para sosial semua itu bersumber dari masalah SARA terutama agama. Pertanyaanya, apakah ada agama yang mengajarkan umatnya bermusuhan ? tentu tidak ada.

Hadirin Salat Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Oleh karena itu, agar perbedaan agama tidak melahirkan permusuhan, kita harus membudayakan toleransi antar umat beragama. Mengingat betapa penting hal tersebut sebagaimana diungkapkan dalam QS al-Kafirun ayat 1-6 yang artinya :
قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١   لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣
 وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  
Artinya : “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.”
Menurut pembacaan saya, sababun nuzul ayat tersebut, sebagaimana ditafsiri oleh Imam as Syuti dalam “Lubabun Nuqul Fi Asbab al-Nuzul” adalah berkenaaan dengan ajakan kafir Quraisy kepada Rasul untuk bergantian menyembah Tuhan masing-masing. Satu tahun menyembah Allah, satu tahun lagi menyembah berhala. Maka turunlah ayat diatas, dengan menolak keras ajakan tersebut.
Islam, mempunyai konsep yang jelas dan tegas dalam masalah kehidupan beragama. Dalam masalah muamalah kita boleh bertoleransi. Tapi dalam akidah dan ibadah, Islam dengan tegas mengatakan : “Tidak ada tuhan selain Allah” bahkan sampai tetes darah penghabisan tetap “Tidak ada tuhan selain Allah”, namun demikian, Islam tidak pernah menganggu aqidah agama lain.
Dalam amatan saya, sejarah membuktikan, bahwa agama Akhaton masuk ke Mesir dengan menghancurkan tempat-tempat ibadah “Amon”, agama Kristen masuk ke Mesir dengan membunuh penganut agama Mesir kuno, agama Romawi Paganis masuk ke Mesir dengan membunuh penganut Kristen Koptik, Islam masuk ke Mesir tidak satupun rumah ibadah yang dibakar, tdak seorangpun pendeta yang dibantai. Bahkan Rasul dengan tegas mengatakan, “Siapa saja yang menyakiti kafir dzimi sungguh telah melukaiku.”
Dari sejarah tersebut menunjukan bahwa Islam bukan agama sadis, Islam bukan bengis, bahkan Islam bukan agama teroris, sebagaimana dituduhkan Barat saat ini. Tapi Islam adalah agama Rahmatan lilalamin. Dengan demikian, kalau akhir-akhir ini terjadi teror dan  pengeboman seperti di Legian Kutai Bali, Hotel Mariot dan Kedubes Australia, di Paris, Prancis, yang katanya dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam. Disini saya tegaskan semua itu bukan dari ajaran Islam, sekali lagi bukan ajaran Islam, tapi lebih disebabkan karena faktor kepentingan golongan dan bentuk perlawanan imprialisme politik Barat.
Muncul pertanyaan, apa yang seharusnya kita lakukan agar kerukunan umat beragama tetap terjaga ? sebagai jawabannya, mari kita renungkan firman Allah dalam penggalan surat al-An’am ayat 108 :
وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ
Artinya : “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampai batas tanpa pengetahuan.”
Dengan demikian, firman Allah tadi mengajarkan kepada kita umat Islam agar jangan menghina, melecehkan, dan memerangi ajaran agama lain. Biarkanlah kaum Kristiani umat Hindu mengamalkan Veda-Vadenta, Resi Agatya, demikian juga kepada umat Budha biarkan menjalankan ajaran Dharma, Shidarma Gautama. Jika kita umat Islam sudah giat berusaha, bangsa Indonesia sudah memiliki semangat kerja yang tinggi serta para pemuda mampu mengisi masa mudanya dengan berbagai kreasi, insya Allah kita akan maju dan berkembang, mampu bersaing secara ilmu pengetahuan, tekhnologi dan saint, sehingga mendapatkan hidup dan kehidupan yang bahagia.  Sesuai janji Allah dalam surat an-Nahl ayat 97 :
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧
Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Demikian jani Allah apabila kita mau berusa bekerja dan berkarya serta dilandasi keimanan, maka Allah akan memberikan kepada kita “khayaatan Thoyibah” kehidupan yang baik dan sukses.
 Hadirin Salat Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Menurut saya, umat Islam saat ini merupakan umat yang tertinggal, salah satu penyebabnya karena kita memiliki semangat kerja yang rendah. Oleh karena itu jika kita ingin maju mulai saat ini ; 1.  Mari kita satukan persepsi, 2.Mari samakan visi dan misi untuk bangkit, 3. Mari bekerja dan berkarya demi nusantara tercinta. Amiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِفَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.   اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين. اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَاللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَار.ِ اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ 
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.    رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ 
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ  .
عِبَادَ اللهِ...










KHUTBAH CINTA : “MENGAJAK KEPADA KEMAJUAN: BELAJAR MEMAKMURKAN MASJID”

“MENGAJAK KEPADA KEMAJUAN:
 BELAJAR MEMAKMURKAN MASJID

Oleh :
Muhamad Abdul Aziz

Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Islam
UIN Sunan Kalijaga

Khutbah 1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اعوذبالله من الشيطان الر جيم  : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Hadirin Salat Jama’ah Jum’at yang dimulyakan Allah
            Saya jadi teringat pada tahun 1975, di kota Makkah Al-Mukarramah, diadakan Muktamar Risalatul Masjid sedunia. Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa masjid bisa berperan secara optimal bila memiliki ruangan, peralatan, serta sarana dan prasarana yang memadai. Seiring dengan keputusan muktamar tersebut, maka dibangunlah masjid-masjid yang megah, mewah, kokoh, bahkan memilki nilai arsitektur yang bergaya Cina, Eropa, dan India.



Namun, seiring dengan bermunculannya masjid-masjid tersebut, fungsi dan peran masjid yang sebenarnya semakin terkikis serta mengalami pergusuran dan pergeseran. Akibatnya, masjid laksana bangunan kosong yang tiada bermakna. Megah masjidnya, tapi sepi dari muatan takwa. Mewah masjidnya, tapi kosong dari ajaran agama. Bahkan, besar dan menjulang tinggi masjidnya, tapi ramai dengan remaja yang sedang bercinta.
Melihat kondisi tersebut, Maka timbul pertanyaan, bagaimanakah upaya untuk memakmurkan masjid Allah tersebut? Salah satu jawabannya mari kita merujuk pada (al-Quran surat At-Taubah: 18):
إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ
 Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Hadirin Salat Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa orang-orang berimanlah yang dapat memelihara, memakmurkan, serta menjaga masjid Allah swt. Demikian ungkapan Imam al-Akhdori dalam kitab Jauhar Maknun-nya.  Begitu juga Khalid Abdurrahman al-Aqi dalam “Shafwatul Bayan Li Ma’anil Qur’an’’ memberikan sarahan bahwa tidak ada orang yang mau memakmurkan dan menjaga masjid Allah, kecuali orang-orang yang membenarkan ke-Esaan Allah dan hari akhir.
 Maka, ketika seorang mikmin sudah tidak peduli, apatis, acuh tak acuh, masa bodoh terhadap masjid, bukan saja mencerminkan seorang mukmin yang durhaka, tapi lebih dari itu, mencerminkan bersikap kafir dan musyrik. Sebab, orang musyrik dan kafir tidak mungkin menjaga masjid, tapi sebaliknya, mereka mengotori, merusak,  bahkan menghancurkan masjid Allah swt.
Sebagai bukti, kita saksikan bersama tragedi di Ambon, masjid-masjid dibombardir. Kejadian di Poso, ratusan dan ribuan masjid dibumihanguskan. Bahkan, akhir-akhir ini di Palestina, Masjidil Aqsha sebagai lambang kebanggaan Umat Islam sedunia hendak diambil alih untuk dijadikan gereja oleh Zionis Israel yang notabenenya dari kaum bangsa Yahudi.
Lalu munculah sebuah pertanyaan, bagaimana langkah kongkrit kita untuk belajar menjaga, memelihara dan memakmurkan masjid ? Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan al-Quran mengatakan, “Kita dituntut untuk menjadikan masjid sebagai tempat sujud, melakukan ibadah ritual, serta rekayasa sosial demi kemajuan kehidupan umat Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah pada waktu di Kota Madinah.
Sejarah mencatat, tak kurang dari 10% fungsi yang telah diemban Masjid Nabawi dalam rangka membangun tatanan kehidupan yang Islami. Berawal dari Masjid, Rasul membina akidah umat sehingga tercipta akidah dan keyakinan yang mantap. Berawal dari masjid, Rasul saw. melakukan konsolidasi sehingga tercipta Islam yang kokoh dan kuat. Berawal dari masjid, Rasul menentukan strategi perang sehingga umat Islam meraih kemenangan. Maka, pantas kalau Prof. Mukti Ali berpendapat bahwa masjid merupakan central of activity. Menjadi pusat dan pangkal muslim dalam melakukan berbagai aktivitas. Namun sayang, fungsi dan peran masjid, kini dari hari ke hari, semakin mengalami penyempitan.
 Saya melihat sekarang masjid kadang hanya sebagai tempat ibadah ritual saja. Itu pun hanya segelintir orang yang sadar akan shalat berjamaah di masjid. Lebih ironis, terkadang masjid dikambinghitamkan sebagai sumber perselisihan, permusuhan, bahkan pertentangan antargolongan. Gara-gara beda aliran, beda paham, lain madzhab, jadi enggan pergi ke masjid. Akibatnya, lahir masjid-masjid mewah sebagai tandingan. Muncul masjid-masjid megah sebagai simbol  golongan. Bahkan, marak dan merebak masjid-masjid berarsitektur Eropa yang penuh dengan kemunafikan. Oleh karena itu, pantas Allah mengigatkan kita melalui firman-Nya dalam (surat At-Taubah : 108 ) :
لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ ١٠٨
Artinya : “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.
Pada ayat tersebut terdapat kalimat yang artinya : Bahwa mendirikan masjid harus didasari dan didorong oleh ketakwaan kepada Allah. Sebab dengan ketakwaanlah, kita bisa memakmurkan masjid. Dengan demikian tujuan-tujuan lain di luar tujuan takwa kepada Allah harus dihindari, bahkan harus jauh-jauh dibuang dalam rangka pembangunan, pembinaan, dan memakmurkan masjid. Apakah itu kepentingan pribadi, materi, ideologi maupun politik. Rasulullah memberikan batasan dan gambaran tentatang fungsi masjid : “Masjid-masjid tidak wajar untuk tempat kencing atau membuang sampah. Ia hanya untuk (dijadikan tempat) berdzikir kepada Allah, taat dan membaca (belajar) al-Qur’an”.
Lalu, bagaimanakah kesadaran umat Islam dalam rangka memakmurkan dan memfungsikan masjid di negara kita ini? Alhamdulillah, di kota-kota sekarang muncul kesadaran masyarakat untuk memakmurkan masjid dengan ditandai munculnya DKM, IRMA. Malah tak mau ketinggalan. muncul INEM (Ikatan Nenek-nenek Masjid). Begitu juga di akademika kampus, mahasiswa melakukan KKN (Kuliah kerja Nyata) yang berbasis masjid.
Mereka shalat berjamaah, salat tarawih bersama, khataman al-Qur’an bersama. Mudah-mudahan ini semua merupakan  langkah awal untuk menjadikan masjid sebagai sarana pembinaan sekaligus wahana mempererat tali persatuan dan kesatuan sesama muslim. Tidak ada bangunan yang bisa membina kesatuan umat Islam secara terpadu, menjadi komitmen menjadi satu, serta menghilangkan kultus individu, kecuali hanya satu bangunan yang dinamakan masjid.
Oleh sebab itu, mulai saat ini jangan muncul lagi istilah masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid LDII, masjid persis. Juga jangan sampai kita mendengar ada masjid Tukimin, Paijo, Gus Dur, Amin Rais, Hamzah Haz, SBY bahkan  masjid Jokowi. Setuju? Tapi hanya ada satu, yaitu masjid umat Islam. Yang bukan umat Islam, jangan sekali-kali mengotori, apalagi merusak masjid bagaimanapun dan dengan cara apapun!
Dan ketika  kita belajar memakmurkan masjid, berarti kita sedang beramal shalih. Allah akan menjamin balasan insan-insan yang shalih sebagaimana dijelaskan dalam (al-Quran. Surat Al-Maidah : 9) :
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٌ عَظِيمٞ ٩
Artinya : “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal shalih, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.



Hadirin Salat Jama’ah Jum’at yang dimulyakan Allah
Pada momen kali ini sangat penting bagi kita memilki tanggung jawab moral untuk belajar dan terus belajar memakmurkan masjid, baik untuk sarana ibadah ritual maupun sosial dalam rangka menciptakan kehidupan umat Islam yang bertakwa. Oleh karena itu, kewajiban kita saat ini agar persatuan dan persaudaraan kita ini di capai maka salah satu diantaranya adalah dapat membina dan memakmurkan masjid Allah swt. Amiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِفَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اَللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَ سَيّدِنَا اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِاَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَالْفِتَنِ مَاظَهَرَمِنْهَا وَمَابَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِالْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَالله اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يذكركم وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ





KHUTBAH CINTA : “BELAJAR MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP SECARA SANTUN”

KHUTBAH CINTA :
“BELAJAR MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP SECARA SANTUN

Oleh :
Muhamad Abdul Aziz

Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Islam
UIN Sunan Kalijaga

Khutbah 1

اَلْحَمْدُ لِله الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ    فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ  لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ؛

Hadirin Sidang Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Saya mau bertanya. Kita bisa bertemu dan berkumpul di dalam majelis ini atas kehendak atau iradat siapa? Allah swt. Karena, Allah yang Maha Pengasih tak pernah pilih kasih. Allah yang Maha Penyayang sayangnya tak terbilang. Diciptakan-Nya siang dan malam secara sistematis dan teratur. Siang tidak mau mendahului malam. Begitu juga malam tidak mau mendahului siang. Semua tunduk dan patuh pada perintah Allah swt. Sholat teriringsalam salam semoga tercurahkan kepada nabi besar kita ya’ni nabi Muhammad SAW.
Di atas mimbar ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan para jama’ah sekalian agar senantiasa menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dengan cara melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Hadirin Sidang Jama’ah Jum’at yang dimulyakan Allah
Seorang budayawan kelahiran Banten bernama Multatuli, mengibaratkan negeri kita Indonesia laksana untaian jamrud yang dihamparkan di persada nusantara. Koes Plus pun pernah bersenandung : “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu semua jadi tanaman. Sehingga muncul sebuah anekdok, di kita Indonesia tanam tongkat akan jadi pohon, sementara di Arab Saudi tanam pohon eh malah jadi tongkat.
Menurut saya, ungkapan tersebut mengilustrasikan kepada kita betapa subur dan makmurnya Negara Indonesia. Dihiasi dengan pemandangan alamnya yang begitu indah, hijau dan eksotik, gunung-gunung menjulang tinggi berpayungkan awan, padi-padi menguning tersusun rapi laksana hamparan permadani, burung-burung berkicau seiring dengan terbitnya sang mentari di pagi hari, sehingga nampaklah suasana aman, nyaman, adem, ayem, tenterem, elok dan asri. Namun saying, pemandangan tersebut kini sulit kita dapati karena telah berubah menjadi situasi yang panas, gersang, bau, kotor, pengap, kumuh, tidak bersahabat bahkan mengancam kelangsungan hidup  alam kita. Itu semua disebabkan karena kecongkakan, kesombongan dan keangkramurkaan manusia serta ulah tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.
Karena itulah, agar alam ini tetap lestari dan terpelihara dibutuhkan manusia-manusia yang amanat yang mampu menjaga alam ini, dan untuk mengoptimalkan hal tersebut, sebagaimana Qs. Ar-Rum ayat 41 menggambarkan bahwa :”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Dan yang disebut dengan  tangan manusia maksudnya adalah seluruh perbuatan manusia   yaitu di sebabkan kemaksiatan manusia, karena makmurnya alam, tegaknya langit dan lestarinya alam hanya akan tercapai dengan ketaatan, demikian penafsiran  Imam Ali as- Shabuni dalam kitab Shafwatut Tafasir.

Hadirin Sidang Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Berkaitan dengan hal tersebut Prof. Dr. Quraish Syihab dalam “wawasan al-Qur’an” menjelaskan, bahwa bumi ini hanya akan dipusakai oleh orang-orang yang salah, tanah air ini hanya akan dimakmurkan oleh orang-orang yang benar bukan hanya orang yang sekedar pintar, Indonesia tercinta ini hanya akan dilestarikan oleh hamba-hamba yang taat bukan manusia-manusia bergelimpang maksiat, sebab perbuatan maksiat hanya akan melahirkan kecongkakan dan keserakahan manusia yang ingin menguasai alam ini.
Sebagai buktinya kita lihat, banyak lahan-lahan pertanian telah dirubah menjadi mega-mega proyek, gunung-gunung yang rimbun telah disulap menjadi vila-vila megah dan real estate, lahan-lahan subur telah berubah menjadi komplek-komplek industri. Padahal, maaf bukan pembangunannya yang  kita tidak sepakati, tolong pemerintah dalam memajukan pembangunan perhatikan juga lingkungan hidupnya.
Dan kita semua bisa belajar dari lingkungan hidup, ini semua hanya demi kenyamanan manusia, sebab jika limbah industri merajalela, green house effect dimana-mana, akan mengakibatkan suhu semakin naik dan panas. Akibatnya dengan naiknya suhu akan menyebabkan perubahan iklim sedunia tidak menentu sehingga curah hujan tidak seimbang, dengan naiknya suhu akan muncul pemanasan global serta menaiknya frekuensi dan intensitas badai, dengan menaiknya suhu akan melelehkan es abadi yang ada didaerah pegunungan dan kutub bahkan dengan naiknya suhu akan menjadikan air laut semakin pasang sehingga tidak mustahil pada akhirnya daratan ini menjadi lautan (nauzubillah).
Kalau demikian, menurut hemat saya lalu apa amanat yang harus ditunaikan oleh kita agar alam ini tetap lestari ? sebagai jawaban diatas adalah tertuang dalam Qs. Hud ayat 61, dijelaskan bahwa :

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ
Artinya :”Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka Shaleh. Sholeh berkata : “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. DIa telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya tuhanku amat dekat (rahmatnya) lagi memperkenankan (doa hambanya).
Khalid Abdurrahman Al-Aki dalam Shafwatut Bayan Lima’anil Qur’an menafsirkan ayat diatas Ia menegaskan bahwa “Allah menciptakan manusia tanah, tinggal diatas tanah dan berkewajiban memakmurkan tanah dan melestarikan tanah berupa alam raya ini. Saya jadi timbul bertanya ? bagaimana kesadaran manusia  terhadap amanat menjaga alam ini ? sebagai jawabannya, Alhamdulillah, saat ini saya melihat banyak orang mulai peduli dengan lingkungannya, sehingga di negeri kita ini banyak bermunculan organisasi-organisasi, komunitas-komunitas LSM  baik di masyarakat maupun di kampus-kampus  yang mengkampayekan pentingnya belajar menjaga alam. Namun sayang, disisi yang lain, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi watak-watak perusak, watak-watak pencemar dan eksploitator serta perusak alam di negeri ini tumbuh subur laksana cendawan dimusim hujan.
Kita saksikan, mulai kasus pembakaran hutan dikalimantan, kasus penumpukan sampah dan limbah industri di kota-kota besar, perusakan ekosistem d lautan, gunung-gunung digunduli, pohon-pohon ditebangi, Akibatnya terjadi banjir besar di Jakarta, banjir lumpur di Sidoarjo, tanah longsor di Pacet jawa Tengah, serta gempa bumi dibeberapa daerah di Indonesia, termasuk di Jawa tengah, Jawa Barat dan Banten. Itu semua menandakan ketidak harmonisan antara hubungan manusia dengan alam. Sebab perlu kita ingat, “if the habitat was cared will give fungtion, but if not it would make destroy’, jika kita ramah kepada alam maka alampun akan ramah kepada kita dan berdaya guna, sebaliknya jika kita merusak alam maka bencana malapetaka yang menimpa kita, demikian ungkapan Edward bucle dalam history of Civilization in England.
Lalu, bagaimanakah perhatian pemerintah dalam menjaga kelestarian alam ini jika kita kaitkan dengan memajukan pembangunan dinegara kita? Alhamdulillah, dalam memajukan secara fisik material, pemerintah kita masih memperhatikan lingkungan hidup dengan menekankan pentingnya pembangunan mental spiritual. Sehingga dalam rumusan GBHN repelita ke -6 dikatakan bahwa pembangunan di Indonesia adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan, hal ini diperkuat pula oleh peraturan pemerintah no 4 tahun 1983 bahkan dipertegas dengan dibuatnya UU lingkungan hidup no. 12. Tahun 2000 yang mewajibkan kepada seluruh warga Negara Indonesia untuk menjaga alam.
Karena itulah, mengingat betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap kelestarian alam ini, jelas kita sebagai warga Negara yang baik dituntut untuk ikut berpartisipasi, lalu apa yang harus kita lakukan ? Pertama, kita harus membatu program pemerintah diantaranya dengan melakukan reboisasi tanah-tanah gundul, pembuatan terasering untuk mencegah longsor, penanggulangan limbah industri, pembuangan sampah pada tempatnya dan menghentikan pemburuan satwa serta penebangan hutan secara liar. Kedua, kita harus selalu mensyukuri ala mini agar dikasihi oleh Allah, sebagai mana Rasul telah bersabda :”Seayangilah segala apa yang ada di bumi, niscaya Allah yang diatas yang menyayangimu”.
Sebetulnya jika sikap tadi kita aplikasikan inya Allah akan terwujud kemakmuran dan kelestarian alam sebagai dampak dari ditunaikannya amanat oleh manusia beriman dan bertakwa, sehingga Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi, hal ini sesuai dengan janji Allah dalam QS al-A’raf ayat 96. Menjelaskan :
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦
Artinya : ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendutaskan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatanya”.
Demikian janji Allah kepada kita apabila kita beriman dan bertakwa berupa mau melaksanakan amanat menjaga alam raya ini, maka Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi berupa kemakmuran alam yang mampu memberikan manfaat dan insya-Allah jauh dari berbagai bencana.

Hutbah II

 Hadirin Jama’ah sidang Jum’at yang  berbahagia
Saya sampaikan kepada para jama’ah, Ketauhilah dari uraian secara keseluruhan tadi, menurut hemat saya :
1. Bahwa alam ini merupakan anugerah terbesar yang diamanatkan Allah kepada manusia, jika manusia mensyukurinya dengan menjaga dan melestarikannya insya Allah alam ini akan memberikan manfaat dan berdaya guna.
2. Tapi sebaliknya jika kita merusaknya maka bencana malapetakalah yang menimpa kita, karena itu agar hal tersebut tidak terjadi mari kita jaga, pelihara, dan lestarikan alam raya terutama Indonesia ini.  Mari Kita berdoa semoga Negara kita terbebas dari manusia-manusia jahil perusak alam, dan dijauhkan dari berbagai bencana dan malapetaka akibat kerusakan alam. Allah SWT berfirman :
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦
Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahdzab : 56).

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَاحِبَ الْوَجْهِ اْلأَنْوَرِ، وَالْجَبِيْنِ اْلأَزْهَرِ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ وَاْلأَئِمَّةِ الْمَهْدِيِّيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بَالْحَقِّ وَبِهِ كَانُوْا يَعْدِلُوْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى وَعَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعِنَا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ أَعِزَّاْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُسْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَالْفِتَنِ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. 
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِلْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَأَوْفُوْا بِعَهْدِ اللهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلاَ تَنْقُضُوااْلأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللهُ عَلَيْكُمْ كَفِيْلاً، إِنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَاتَفْعَلُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْن.