“MENGAJAK KEPADA KEMAJUAN:
BELAJAR MEMAKMURKAN MASJID”
Oleh :
Muhamad Abdul Aziz
Mahasiswa Pascasarjana
Pendidikan Islam
UIN Sunan Kalijaga
Khutbah 1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اعوذبالله من الشيطان الر جيم : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيْمًا.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dimulyakan Allah
Saya jadi teringat pada tahun 1975, di kota Makkah Al-Mukarramah, diadakan Muktamar Risalatul
Masjid sedunia. Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa masjid bisa berperan
secara optimal bila memiliki ruangan, peralatan, serta sarana dan prasarana
yang memadai. Seiring dengan keputusan muktamar tersebut, maka dibangunlah
masjid-masjid yang megah, mewah, kokoh, bahkan memilki nilai arsitektur yang
bergaya Cina, Eropa, dan India.
Namun, seiring dengan bermunculannya masjid-masjid
tersebut, fungsi dan peran masjid yang sebenarnya semakin terkikis serta
mengalami pergusuran dan pergeseran. Akibatnya, masjid laksana bangunan kosong
yang tiada bermakna. Megah masjidnya, tapi sepi dari muatan takwa. Mewah
masjidnya, tapi kosong dari ajaran agama. Bahkan, besar dan menjulang tinggi
masjidnya, tapi ramai dengan remaja yang sedang bercinta.
Melihat kondisi tersebut, Maka timbul
pertanyaan, bagaimanakah upaya untuk memakmurkan masjid Allah tersebut? Salah
satu jawabannya mari kita merujuk pada (al-Qur’an surat At-Taubah: 18):
إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ
ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ
وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada
Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk”.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dirahmati Allah
Dari ayat tersebut dapat
kita pahami bahwa orang-orang berimanlah yang dapat memelihara, memakmurkan,
serta menjaga masjid Allah swt. Demikian ungkapan Imam al-Akhdori dalam kitab
Jauhar Maknun-nya. Begitu juga Khalid
Abdurrahman al-Aqi dalam “Shafwatul Bayan Li Ma’anil Qur’an’’ memberikan
sarahan bahwa tidak ada orang yang mau memakmurkan dan menjaga masjid Allah,
kecuali orang-orang yang membenarkan ke-Esaan Allah dan hari akhir.
Maka, ketika seorang mikmin sudah tidak
peduli, apatis, acuh tak acuh, masa bodoh terhadap masjid, bukan saja
mencerminkan seorang mukmin yang durhaka, tapi lebih dari itu, mencerminkan
bersikap kafir dan musyrik. Sebab, orang musyrik dan kafir tidak mungkin
menjaga masjid, tapi sebaliknya, mereka mengotori, merusak, bahkan menghancurkan masjid Allah swt.
Sebagai bukti, kita saksikan bersama tragedi di
Ambon, masjid-masjid dibombardir. Kejadian di Poso, ratusan dan ribuan masjid
dibumihanguskan. Bahkan, akhir-akhir ini di Palestina, Masjidil Aqsha sebagai
lambang kebanggaan Umat Islam sedunia hendak diambil alih untuk dijadikan
gereja oleh Zionis Israel yang notabenenya dari kaum bangsa Yahudi.
Lalu munculah sebuah pertanyaan,
bagaimana langkah kongkrit kita untuk belajar
menjaga, memelihara dan memakmurkan masjid ? Prof.
Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan
al-Qur’an mengatakan, “Kita dituntut untuk menjadikan
masjid sebagai tempat sujud, melakukan ibadah ritual, serta rekayasa sosial
demi kemajuan kehidupan umat Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah pada
waktu di Kota Madinah.
Sejarah mencatat, tak kurang dari 10% fungsi
yang telah diemban Masjid Nabawi dalam rangka membangun tatanan kehidupan yang
Islami. Berawal dari Masjid, Rasul membina akidah umat sehingga tercipta akidah
dan keyakinan yang mantap. Berawal dari masjid, Rasul saw. melakukan
konsolidasi sehingga tercipta Islam yang kokoh dan kuat. Berawal dari masjid,
Rasul menentukan strategi perang sehingga umat Islam meraih kemenangan. Maka,
pantas kalau Prof. Mukti Ali berpendapat bahwa masjid merupakan central of activity. Menjadi pusat dan
pangkal muslim dalam melakukan berbagai aktivitas. Namun sayang, fungsi dan peran masjid, kini
dari hari ke hari, semakin mengalami penyempitan.
Saya
melihat sekarang masjid kadang hanya sebagai tempat ibadah ritual saja. Itu pun
hanya segelintir orang yang sadar akan shalat
berjamaah di masjid. Lebih ironis, terkadang masjid dikambinghitamkan sebagai
sumber perselisihan, permusuhan, bahkan pertentangan
antargolongan. Gara-gara beda aliran, beda paham, lain madzhab, jadi enggan
pergi ke masjid. Akibatnya, lahir masjid-masjid mewah sebagai tandingan. Muncul
masjid-masjid megah sebagai simbol
golongan. Bahkan, marak dan merebak masjid-masjid berarsitektur Eropa
yang penuh dengan kemunafikan. Oleh
karena itu, pantas Allah mengigatkan kita melalui firman-Nya dalam (surat
At-Taubah : 108 ) :
لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ
عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ فِيهِ رِجَالٞ
يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ
١٠٨
Artinya : “Janganlah
kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang
didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”.
Pada ayat tersebut terdapat kalimat yang artinya : Bahwa mendirikan
masjid harus didasari dan didorong oleh ketakwaan kepada Allah. Sebab dengan
ketakwaanlah, kita bisa memakmurkan masjid. Dengan demikian tujuan-tujuan
lain di luar tujuan takwa kepada Allah harus dihindari, bahkan harus jauh-jauh
dibuang dalam rangka pembangunan, pembinaan, dan memakmurkan masjid. Apakah itu
kepentingan pribadi, materi, ideologi maupun politik. Rasulullah memberikan
batasan dan gambaran tentatang fungsi masjid : “Masjid-masjid tidak wajar untuk
tempat kencing atau membuang sampah. Ia hanya untuk (dijadikan tempat)
berdzikir kepada Allah, taat dan membaca (belajar) al-Qur’an”.
Lalu, bagaimanakah kesadaran umat Islam dalam
rangka memakmurkan dan memfungsikan masjid di negara kita ini? Alhamdulillah, di
kota-kota sekarang muncul kesadaran masyarakat untuk memakmurkan masjid dengan
ditandai munculnya DKM, IRMA. Malah tak mau ketinggalan. muncul INEM (Ikatan
Nenek-nenek Masjid). Begitu juga di akademika kampus, mahasiswa melakukan KKN
(Kuliah kerja Nyata) yang berbasis masjid.
Mereka shalat
berjamaah, salat tarawih bersama, khataman al-Qur’an bersama. Mudah-mudahan ini
semua merupakan langkah awal untuk
menjadikan masjid sebagai sarana pembinaan sekaligus wahana mempererat tali
persatuan dan kesatuan sesama muslim. Tidak ada bangunan yang bisa membina
kesatuan umat Islam secara terpadu, menjadi komitmen menjadi satu, serta
menghilangkan kultus individu, kecuali hanya satu bangunan yang dinamakan masjid.
Oleh sebab itu, mulai saat ini jangan muncul
lagi istilah masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid LDII, masjid persis. Juga jangan sampai kita mendengar ada masjid
Tukimin, Paijo, Gus Dur, Amin Rais, Hamzah Haz, SBY bahkan masjid Jokowi. Setuju? Tapi hanya ada satu, yaitu masjid umat Islam. Yang
bukan umat Islam, jangan sekali-kali mengotori, apalagi merusak masjid
bagaimanapun dan dengan cara apapun!
Dan ketika kita belajar memakmurkan masjid, berarti kita sedang beramal
shalih.
Allah akan menjamin balasan insan-insan yang shalih sebagaimana dijelaskan dalam (al-Qur’an. Surat Al-Maidah : 9) :
وَعَدَ ٱللَّهُ
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٌ
عَظِيمٞ ٩
Artinya : “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan yang beramal shalih, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar”.
Hadirin Salat Jama’ah Jum’at
yang dimulyakan Allah
Pada
momen kali ini sangat penting bagi kita memilki tanggung jawab moral untuk belajar dan terus belajar memakmurkan masjid, baik untuk sarana ibadah
ritual maupun sosial dalam rangka menciptakan kehidupan umat Islam yang
bertakwa. Oleh karena itu, kewajiban kita saat ini agar persatuan dan persaudaraan kita ini di capai maka
salah satu diantaranya adalah dapat membina dan memakmurkan masjid Allah swt.
Amiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
اَللّهُمَّ
وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَ سَيّدِنَا اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِاَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ
يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّهُمَّ
اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ.
اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ
وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَالْفِتَنِ مَاظَهَرَمِنْهَا وَمَابَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا
هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِالْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ
الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَالله
اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يذكركم وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar