Dalam istilah bahasa inggris dikatakan bahwa : If you want to get manything finally you get nothing! Demikian nasihat banyak tokoh yang sudah mendalami entrepreneur unggulan di negeri ini. Intinya, mereka semua ingin menekankan pentingnya
kekuatan fokus. Memang, dalam hidup ini kita tidak bisa menggapai semua hal
sekaligus. Logika sederhananya, jika kita mengejar sepuluh ekor kelinci pada
saat bersamaan, hampir bisa dipastikan kita tidak akan memperoleh satu pun.
Sebaliknya kalau kita memfokuskan perhatikan kepada salah satu dari sepuluh
ekor tadi, niscaya kita akan lebih mudah menangkapnya.
Salah satu
teman saya bercerita kepada saya sebut saja mas Toni. Mas Toni sendiri pernah mencoba mengabaikan prinsip
di atas beberapa bulan yang lalu. Dengan latar belakang seorang
pengusaha garmen, ia kemudian masuk ke berbagai bidang bisnis lainnya, seperti
properti, pembalut wanita hingga bisnis retail. Hasilnya? “Pikirannya saya
bercabang-cabang. Pecah tidak karuan sehingga bisnis utama dia malah
terabaikan dan bisnis baru pun tidak terlalu berkembang. Untunglah dia segera
menyadari hal itu dan kembali ke bisnis utamanya.
Pengalaman
yang dialami Mas Toni bisa
kita ambil pelajaran. Karena saya pun merasa demikian, sebagai orang yang selalu merasa haus ilmu,
saya suka sekali membaca. Hampir setiap
minggu saya
selalu berkunjung ke toko buku. Sebagai pembicara publik, buku
sangat membantu saya dalam menyiapkan bahan presentasi. Sayangnya ketika itu saya belum memutuskan
bidang apa yang akan menjadi spesialis saya sebagai pembicara publik dan
trainer. Akibatnya saya membeli buku dari berbagai bidang. Mulai dari filsafat, pendidikan, motivasi, kewirausahaan, kepemimpinan,
public relations, marketing hingga buku-buku spiritual dan mistis.
Seiring
dengan meningkatnya kesibukan, saya tidak lagi punya terlalu banyak waktu untuk
membaca. Teman saya terkadang menasihati saya agar
membeli buku yang dibutuhkan saja mengingat masih begitu banyak buku yang belum
tuntas saya baca. “Fokuskan pada bidang tertentu saja sehingga pengeluaran
untuk buku bisa di hemat,”nasihatnya. Saya pun sadar kalau
apa yang dikatakannya itu benar. Itulah sebabnya sejak beberapa bulan lalu saya lebih memfokuskan diri saya
untuk mendalami ilmu menulis, motivasi dan kewirausahaan. Tiga bidang ini
begitu menarik hati saya dan saya merasa panggilan hidup saya memang ke arah
situ. Berkat kegiatan belajar yang terfokus, dalam waktu dekat, insyaallah saya bersama partner bisnis saya meluncurkan
lembaga berbasis media
: www.lensakita.com
Fokus
memang penting. Saya punya seorang teman yang memiliki semangat hidup dan
cita-cita yang tinggi. Tahun lalu ia bercerita kalau ia sedang aktif di bisnis
pemasaran jaringan. Awal tahun ini ia berganti bidang bisnis ke arah makanan. Baru-baru ini ia bahkan banting setir
lagi ke arah pakaian. Tanpa perlu penjelasan panjang darinya,
saya pun tahu kalau bisnisnya tidak ada yang berkembang pesat. Saya
mengamati salah satu alasan mengapa orang sering tidak bisa fokus adalah
kecenderungan untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Melihat orang
lain sukses di bisnis pakaian, ia pun ingin ikutan. Melihat temannya berkembang
di bidang properti, hatinya pun tergiur padahal ia sama sekali tidak tahu
seluk-beluk bisnis itu. Barangkali dalam pikiran bawah sadarnya terbentuk
sebuah pemahaman kalau orang lain bisa sukses di bidang itu, saya pun pasti
bisa. Membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain bukan sikap yang
bijaksana. Itu tidak adil. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Yang paling baik adalah kita senantiasa berfokus pada
kekuatan-kekuatan kita. Dalam buku The Power of Focus, Jack
Canfield menulis, “You must invest most of your time every week
doing what you do best, and let others do what they best.” Ya, luangkanlah
waktu Anda untuk melakukan hal-hal yang Anda kuasai dengan baik dan biarkan
orang lain melakukan hal-hal yang mereka kuasai.
Kalau kita berfokus pada kelemahan
kita, sudah bisa dipastikan kita tidak akan mencapai hasil maksimal. Bahkan, seringkali kita merasa stres dan
frustrasi. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita tahu apa bidang kekuatan
kita? Pertama, kita bisa melihat bidang mana saja yang kita mahir atau
terampil. Kedua, dengan menanyakannya kepada orang lain. Terkadang kita memang
tidak menyadari kalau kita mempunyai sebuah kelebihan tertentu. Saya sendiri
pernah mengabaikan kelebihan saya dalam hal menulis selama beberapa tahun sampai seorang
sahabat menasihati saya dengan mengatakan profesi sebagai penulis tidak
mengenal masa pensiun. Dari sinilah saya tergugah untuk menulis buku. Ditunjang
dengan hobi membaca buku (yang sebagian besar bisa dijadikan referensi), saya
pun merasa pekerjaan ini sebagai sebuah bentuk permainan saja dan saya
menghayatinya sepenuh hati dan saya
mulai giat menulis dimulai dari media masa, yaitu : Blog :
ezinawawi.blogspot.co.id .
Kalau kita masih juga sulit
menemukan bidang kekuatan kita, saya sarankan agar membuka komunikasi yang
lebih intensif dengan Yang Maha Kuasa. Biarkan Ia berbicara dan kita mendengarkan. Memang dalam
hidup ini, kita kurang memberikan waktu kepada Tuhan untuk berbicara kepada
kita. Kita terlalu sibuk berbicara tentang Tuhan (talk about) sehingga
seolah-olah kita paling tahu segala sesuatu tentang-Nya. Sering juga kita hanya
berbicara kepada Tuhan dengan satu arah (talk to). Misalnya berdo’a hanya untuk menyampaikan
permohonan dan keluhan-keluhan kita. Sebaliknya, jarang sekali kita meluangkan
waktu yang cukup untuk berbicara dengan Tuhan (talk with). Padahal saya yakin,
Tuhan senantiasa mau berdialog dengan kita.
Kalau kita telah menemukan bidang
kekuatan kita, akan lebih mudah bagi kita untuk membuat impian berdasarkan
bidang kekuatan itu. Impian yang terfokus akan memberikan energi yang mendorong
kita untuk berusaha mencapainya. Dan banyak
dari sahabat saya, punya impian untuk memberikan insiprasi dan
memberdayakan banyak orang agar memiliki kehidupan yang luar biasa (living a
great live). Ditunjang kelebihannya dalam hal menulis, hingga kini ia telah
menghasilkan banyak buku yang laris di pasaran (best seller). Salut! Bagaimana dengan
Anda? Semoga berkah
dan manfaat, sampai jumpa besok yaaa ? tetap semangat dan istiqomah.
Ushuluddin, UIN, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar