Tentu, dengan
menulis ini, saya tak sedang bersikeras bahwa persoalan simbol kecantikan lebih
penting dibincangkan ketimbang, misalnya, upah buruh, pengangguran, biaya
pendidikan, pemilu, atau konflik berdarah. Ya, kecantikan memang tak berkaitan
dengan perkara “hidup-mati”. Tapi hidup memang bukanlah sebuah daftar pilihan
tindakan yang disusun dalam skala prioritas dan mesti dilaksanakan secara
linier. Hidup bukannya, seperti kata sebuah iklan susu, “ini dulu, baru itu”.
Kadang ada banyak hal yang, mau tak mau, harus dikerjakan dan dipikirkan serentak
dan paralel.
Lagi
pula perbincangan tentang sisi-sisi lain kenyataan, yang tak politis-radikal revolusioner,
bisa jadi semacam variasi yang cukup rekreatif. Dan seperti yang akan coba dibuktikan
dalam tulisan ini, perdebatan soal kecantikan bukannya tanpa guna sama sekali.
Selain sebagai intellectual exercise yang rekreatif, diskusi ini juga
akan menunjukkan bahwa dalam kecantikan ada mekanisme tersembunyi yang sifatnya
sosial. Al-Hasil, jika kecantikan saja yang
kerap diyakini sebagai obyektif dan mutlak ternyata socially
constructed, maka pelbagai institusi dan klaim kebenaran lainnya bisa
dicurigai juga sebagai hasil bentukan sosial yang mungkin sarat dominasi dan
kekerasan dan karenannya bisa dan harus dibongkar.
Perdebatan
soal kecantikan, pada titik ini, hanya berperan sebagai pintu masuk guna
menelanjangi struktur sosial secara umum, yang kiranya takkan jauh beda. Ya,
semacam pintu masuk yang dihias rapi, disertai petugas penerima tamu yang
menawan. Pertanyaannya, lalu, apa sih kecantikan itu? Membuat sebuah
definisi kecantikan yang memadai bisa jadi mustahil, karena tiap orang mungkin
punya definisi sendiri, entah eksplisit atau tidak. Saya tak hendak memberikan
survei menyeluruh mengenai berbagai definisi kecantikan sepanjang sejarah.
Selain mustahil, memang bukan itu tujuan tulisan ini. Alih-alih mencoba
melakukan pelacakan historis, saya lebih memilih memberikan definisi
operasional kecantikan dalam kerangka tulisan ini.
Kecantikan,
secara sederhana, bisa didefinisikan sebagai kualitas keindahan fisik-sensual yang
ada pada perempuan. Jadi, seorang perempuan menjadi cantik jika memiliki
kualitas keindahan fisik-sensual tertentu. Definisi ini sebenarnya tak banyak
membantu, karena hanya memindahkan pendefinisian “kecantikan” pada “keindahan”
yang juga tak kalah abstraknya. Tapi dari definisi sederhana ini, kita bisa
melangkah maju dengan memahami watak kecantikan. Kecantikan sebagai sebuah
kualitas tak bersifat diskrit, melainkan lebih berupa sebuah kontinum, dengan
cantik di satu ujung dan tak cantik (jelek) di ujung yang lain. Seperti banyak
kualitas-kualitas lainnya yang berupa kontinum, gradasi kecantikan tak jelas
betul batas-batasnya mustahil menjelaskan sampai di titik kualitas mana seorang
perempuan tak lagi cantik dan mulai menjadi jelek, atau sebaliknya. Dan
anggaplah, kecantikan adalah indikator yang digunakan untuk menetukan posisi
perempuan-perempuan dalam kontinum itu.
Pertanyaan
selanjutnya adalah, apa yang membuat seorang perempuan menjadi cantik? Atau
jika pertanyaan ini dirumuskan berdasar definisi di atas: apa saja
kualitas-kualitas keindahan yang menentukan apakah seorang perempuan menjadi
cantik atau tidak? Apa saja indikator yang menentukan posisi seorang perempuan
dalam kontinum kecantikan? Apakah kualitas-kualitas itu semata-mata bersifat
fisik-sensual saja atau juga bersifat non-fisik dan non-sensual? Dan yang
terpenting, di mana dan dari mana kualitas-kualitas itu?
Untuk
pertanyaan terakhir, setidaknya tersedia tiga jawaban dalam sejarah filsafat.
Pertama, kualitas-kualitas itu ada pada obyek, di luar dan independen dari
pikiran subyek. Jawaban ini diberikan oleh obyektivisme estetis. Bagi pandangan
ini, seorang perempuan menjadi cantik karena secara obyektif pada dirinya
terdapat kualitas-kualitas kecantikan yang absolut dan universal. Artinya, siapapun
akan menilainya cantik, karena kecantikan bersumber dari kualitas-kualitas
obyektif. Dengan kata lain, kecantikan berlaku mutlak di manapun, kapanpun, dan
bagi siapapun.
Kedua, jawaban
yang diberikan subyektivisme estetis, kualitas-kualitas itu ada dalam pikiran
subyek. Immanuel Kant, misalnya, menganggap kualitas kecantikan, seperti halnya
ruang, waktu, dan kausalitas, tidak memiliki keberadaan obyektif. Semuanya hanya
ada dalam struktur kesadaran, yang tanpanya manusia takkan mampu memahami
realitas. Dan karena struktur rasio manusia bersifat universal, hal yang sama
juga berlaku untuk kecantikan. Ketiga, sama dengan jawaban kedua,
kualitas-kualitas itu berada dalam pikiran subyek. Hanya saja pandangan ketiga
ini, yang disebut relativisme estetis, meyakini bahwa kualitas-kualitas
kecantikan bervariasi, tergantung sepenuhnya pada variabel-variabel individual
dan/atau sosial.
Jadi, katakanlah
seorang perempuan “cantik” dihadapkan pada tiga orang (tak harus laki-laki,
biar nggak bias gender:). Seorang relativis-estetis akan menilai
perempuan itu cantik dan tak begitu yakin apakah orang lain juga akan punya
penilaian yang sama. Sementara obyektivis-estetis dan subyektivis-estetis akan
menganggap perempuan itu cantik dan yakin seyakin-yakinnya bahwa semua orang di
dunia juga akan mengamini penilaiannya itu. Di sini, kita bisa mengajukan
keberatan-keberatan baik pada obyektivisme estetis maupun subyektivisme
estetis. Kecantikan tidak pernah bersifat absolut dan universal. Karena ia
tidak bersumber dari kualitas-kualitas yang universal, baik yang ada pada obyek
maupun dalam pikiran subyek. Ukuran-ukuran kecantikan juga tidak universal.
Bukan ukuran instingtif yang diwariskan secara genetis atau ukuran ideal yang
diketahui secara rasional (seperti ide-ide Plato atau kategori Kant).
Kecantikan justru selalu bersifat relatif, tergantung variabel individual atau
sosial, karena sumbernya dan ukuran-ukurannya didapat dan diwariskan manusia
secara sosial. Karena itu, konsep kecantikan bervariasi antara satu waktu
dengan waktu yang lain, antara satu kelompok sosial dengan yang lain.
Analogi
yang baik untuk memahami bagaimana kecantikan dibentuk dan diwariskan secara
sosial adalah bahasa. Dalam kondisi normal sehari-hari, keterampilan berbahasa
seakan-akan merupakan kemampuan instingtif yang diwariskan secara genetis. Dan
memang, dalam kasus bahasa ibu, manusia tidak pernah secara sadar
mempelajarinya. Padahal tidak demikian halnya. Bahasa dipelajari secara sosial
melalui proses pemerolehan bahasa (language acquisition) yang
tidak disadari. Seorang bayi yang sejak lahir dipindahkan dan dibesarkan dalam
masyarakat penutur bahasa lain, akan menguasai bahasa itu sama baiknya dengan
orang asli, dan bukannya bahasa ayah-ibunya. Ini juga yang terjadi ketika
seseorang mempelajari bahasa asing, meski dalam hal ini ia menyadari proses
pemerolehannya.
Hal yang
sama juga terjadi pada persepsi soal kecantikan. Perlahan-lahan dan tanpa
disadari, manusia mempelajari kualitas-kualitas apa yang oleh lingkungan
sosialnya dianggap membuat seorang perempuan menjadi cantik, membuat seorang
perempuan berada lebih tinggi ketimbang perempuan lain dalam hierarki kontinum
kecantikan. Mungkin ada yang keberatan dengan analogi bahasa ini. Kecantikan,
berbeda dengan bahasa, berkaitan dengan soal selera yang instingtif, seperti
juga selera makan dan pakaian. Untuk ini, mari kita meminjam analisis Pierre
Bourdieu. Bagi sosiolog Prancis ini, “selera merupakan suatu disposisi yang
diperoleh untuk bisa membedakan dan mengapresiasi”. Selera merupakan bagian
dari habitus, yaitu “sistem-sistem disposisi yang tahan waktu dan dapat
diwariskan, struktur-struktur yang dibentuk, yang dimaksudkan untuk berfungsi
sebagai struktur yang membentuk”.
Maka
dalam arti ini, disposisi untuk menilai kualitas kecantikan seorang perempuan diperoleh
secara sosial. Dengan demikian, konsep kecantikan juga dibentuk secara sosial.
Dan siapapun yang hendak masuk dalam ranah perjuangan (champ)
kecantikan, mau tak mau, harus mengikuti aturan mainnya (konsep kecantikan,
siapa yang cantik, siapa lebih cantik dari siapa, bagaimana menjadi cantik,
dsb.) yang ditentukan oleh kelas yang dominan, yang menguasai banyak kapital
dalam berbagai bentuknya (ekonomi, sosial, budaya, simbolik). Maka tak heran
jika, konsep kecantikan yang berkembang “berpihak” pada kelas dominan.
Misalnya, di Indonesia, kulit putih menjadi salah satu aturan dalam champ kecantikan
karena kulit putih identik dengan kelas yang memiliki kapital ekonomi (kelas
menengah-atas yang tak pernah kerja kasar di bawah terik matahari). Sementara
di negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, kulit kecoklatan terbakar matahari
justru diidealkan sebagai salah satu ukuran kecantikan, lagi-lagi, karena
identik dengan pemilik kapital ekonomi (kelas jet-set yang punya banyak waktu
luang dan uang untuk berlibur dan berjemur di pantai).
Tak
hanya itu, Bourdieu lebih lanjut melihat bahwa Kapital-kapital ini dapat saling
ditransformasikan (dari sosial menjadi ekonomi, ekonomi menjadi budaya, dst).
Karena itu, tak heran Bourdieu menyebut-nyebut adanya investasi biologis.
Misalnya, perempuan Indonesia mau menginvestasikan uangnya untuk membeli
pemutih, rebonding, creambath, dan segala upaya untuk memenuhi
standar kecantikan lainnya dalam rangka meraih kapital biologis, yang suatu
waktu bisa ditransformasikan menjadi kapital-kapital yang lain. Perempuan
(laki-laki juga) mau berlapar-lapar diet dan berlelah-lelah fitness dalam
rangka investasi biologis. Ini dalam kacamata Michel Foucault (yang bundar
itu:) sebenarnya adalah sebentuk kontrol atas tubuh. Hanya saja sedemikian
efektifnya kontrol itu, sehingga ia diubah menjadi motivasi internal dan
dibungkus dengan rasionalitas ilmu-ilmu modern. Foucault menyebutnya sistem
panoptikon. Bagi Foucault, sistem perawatan tubuh modern, sama halnya dengan
penjara dan rumah sakit jiwa, berawal dari hasrat untuk mengontrol dan
melakukan standardisasi. Maka ditetapkanlah standar-standar. Dan yang berbeda
dari standar itu dikategorikan sebagai devian.
Yang
hendak ditegaskan melalui tulisan ini hanyalah bahwa tak ada kecantikan yang
esensial dan substantif. Yang untuk mencapai itu orang harus menginvestasikan
apapun. Yang jika tak mencapainya, orang merasa sebagai devian. Ketika Bourdieu
menerapkan analisis sosiologisnya pada keindahan karya sastra Prancis, ada
seorang yang protes, “apakah kita akan membiarkan ilmu-ilmu sosial mereduksi
pengalaman sastra menjadi jajak pendapat mengenai waktu luang kita, padahal
pengalaman sastra berkaitan erat dengan makna hidup kita?” Maka barangkali
ketika analisis sosiologis diterapkan pada kecantikan, akan ada juga yang
protes, “apakah kita akan membiarkan ilmu-ilmu sosial mereduksi pengalaman
tentang kecantikan menjadi jajak pendapat tentang seberapa putih kulit
perempuan, seberapa lurus dan hitam rambutnya, seberapa mancung hidungnya,
padahal pengalaman tentang kecantikan berkaitan dengan cinta?” Mungkin saja. Selamat
mebaca, semoga selalu sehat. Dan berkah. Baca buku lebih lanjut, Baca esai Herbert Marcuse, The Aesthetics
Dimension: Toward A Critique of Marxist Aesthetics, Boston: Bacon Press, 1978,
juga baca bukunya Francis J. Kovach, Philosophy of Beauty, Oklahoma: University
of Oklahoma Press, 1974, dan Lihat tulisan Haryatmoko, “Menyingkap Kepalsuan
Budaya Penguasa”, di BASIS. Salam membaca. Baun Tapan, JEC. Yogykarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar