Translate this written according your language!

Sabtu, 30 April 2016

KECANTIKAN SOSIAL (Sebuah Realitas Di Negeri Ini)


Tentu, dengan menulis ini, saya tak sedang bersikeras bahwa persoalan simbol kecantikan lebih penting dibincangkan ketimbang, misalnya, upah buruh, pengangguran, biaya pendidikan, pemilu, atau konflik berdarah. Ya, kecantikan memang tak berkaitan dengan perkara “hidup-mati”. Tapi hidup memang bukanlah sebuah daftar pilihan tindakan yang disusun dalam skala prioritas dan mesti dilaksanakan secara linier. Hidup bukannya, seperti kata sebuah iklan susu, “ini dulu, baru itu”. Kadang ada banyak hal yang, mau tak mau, harus dikerjakan dan dipikirkan serentak dan paralel.
Lagi pula perbincangan tentang sisi-sisi lain kenyataan, yang tak politis-radikal revolusioner, bisa jadi semacam variasi yang cukup rekreatif. Dan seperti yang akan coba dibuktikan dalam tulisan ini, perdebatan soal kecantikan bukannya tanpa guna sama sekali. Selain sebagai intellectual exercise yang rekreatif, diskusi ini juga akan menunjukkan bahwa dalam kecantikan ada mekanisme tersembunyi yang sifatnya sosial. Al-Hasil, jika kecantikan saja yang  kerap diyakini sebagai obyektif dan mutlak ternyata socially constructed, maka pelbagai institusi dan klaim kebenaran lainnya bisa dicurigai juga sebagai hasil bentukan sosial yang mungkin sarat dominasi dan kekerasan dan karenannya bisa dan harus dibongkar.
Perdebatan soal kecantikan, pada titik ini, hanya berperan sebagai pintu masuk guna menelanjangi struktur sosial secara umum, yang kiranya takkan jauh beda. Ya, semacam pintu masuk yang dihias rapi, disertai petugas penerima tamu yang menawan. Pertanyaannya, lalu, apa sih kecantikan itu? Membuat sebuah definisi kecantikan yang memadai bisa jadi mustahil, karena tiap orang mungkin punya definisi sendiri, entah eksplisit atau tidak. Saya tak hendak memberikan survei menyeluruh mengenai berbagai definisi kecantikan sepanjang sejarah. Selain mustahil, memang bukan itu tujuan tulisan ini. Alih-alih mencoba melakukan pelacakan historis, saya lebih memilih memberikan definisi operasional kecantikan dalam kerangka tulisan ini.
Kecantikan, secara sederhana, bisa didefinisikan sebagai kualitas keindahan fisik-sensual yang ada pada perempuan. Jadi, seorang perempuan menjadi cantik jika memiliki kualitas keindahan fisik-sensual tertentu. Definisi ini sebenarnya tak banyak membantu, karena hanya memindahkan pendefinisian “kecantikan” pada “keindahan” yang juga tak kalah abstraknya. Tapi dari definisi sederhana ini, kita bisa melangkah maju dengan memahami watak kecantikan. Kecantikan sebagai sebuah kualitas tak bersifat diskrit, melainkan lebih berupa sebuah kontinum, dengan cantik di satu ujung dan tak cantik (jelek) di ujung yang lain. Seperti banyak kualitas-kualitas lainnya yang berupa kontinum, gradasi kecantikan tak jelas betul batas-batasnya mustahil menjelaskan sampai di titik kualitas mana seorang perempuan tak lagi cantik dan mulai menjadi jelek, atau sebaliknya. Dan anggaplah, kecantikan adalah indikator yang digunakan untuk menetukan posisi perempuan-perempuan dalam kontinum itu.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang membuat seorang perempuan menjadi cantik? Atau jika pertanyaan ini dirumuskan berdasar definisi di atas: apa saja kualitas-kualitas keindahan yang menentukan apakah seorang perempuan menjadi cantik atau tidak? Apa saja indikator yang menentukan posisi seorang perempuan dalam kontinum kecantikan? Apakah kualitas-kualitas itu semata-mata bersifat fisik-sensual saja atau juga bersifat non-fisik dan non-sensual? Dan yang terpenting, di mana dan dari mana kualitas-kualitas itu?
Untuk pertanyaan terakhir, setidaknya tersedia tiga jawaban dalam sejarah filsafat. Pertama, kualitas-kualitas itu ada pada obyek, di luar dan independen dari pikiran subyek. Jawaban ini diberikan oleh obyektivisme estetis. Bagi pandangan ini, seorang perempuan menjadi cantik karena secara obyektif pada dirinya terdapat kualitas-kualitas kecantikan yang absolut dan universal. Artinya, siapapun akan menilainya cantik, karena kecantikan bersumber dari kualitas-kualitas obyektif. Dengan kata lain, kecantikan berlaku mutlak di manapun, kapanpun, dan bagi siapapun.
Kedua, jawaban yang diberikan subyektivisme estetis, kualitas-kualitas itu ada dalam pikiran subyek. Immanuel Kant, misalnya, menganggap kualitas kecantikan, seperti halnya ruang, waktu, dan kausalitas, tidak memiliki keberadaan obyektif. Semuanya hanya ada dalam struktur kesadaran, yang tanpanya manusia takkan mampu memahami realitas. Dan karena struktur rasio manusia bersifat universal, hal yang sama juga berlaku untuk kecantikan. Ketiga, sama dengan jawaban kedua, kualitas-kualitas itu berada dalam pikiran subyek. Hanya saja pandangan ketiga ini, yang disebut relativisme estetis, meyakini bahwa kualitas-kualitas kecantikan bervariasi, tergantung sepenuhnya pada variabel-variabel individual dan/atau sosial.
Jadi, katakanlah seorang perempuan “cantik” dihadapkan pada tiga orang (tak harus laki-laki, biar nggak bias gender:). Seorang relativis-estetis akan menilai perempuan itu cantik dan tak begitu yakin apakah orang lain juga akan punya penilaian yang sama. Sementara obyektivis-estetis dan subyektivis-estetis akan menganggap perempuan itu cantik dan yakin seyakin-yakinnya bahwa semua orang di dunia juga akan mengamini penilaiannya itu. Di sini, kita bisa mengajukan keberatan-keberatan baik pada obyektivisme estetis maupun subyektivisme estetis. Kecantikan tidak pernah bersifat absolut dan universal. Karena ia tidak bersumber dari kualitas-kualitas yang universal, baik yang ada pada obyek maupun dalam pikiran subyek. Ukuran-ukuran kecantikan juga tidak universal. Bukan ukuran instingtif yang diwariskan secara genetis atau ukuran ideal yang diketahui secara rasional (seperti ide-ide Plato atau kategori Kant). Kecantikan justru selalu bersifat relatif, tergantung variabel individual atau sosial, karena sumbernya dan ukuran-ukurannya didapat dan diwariskan manusia secara sosial. Karena itu, konsep kecantikan bervariasi antara satu waktu dengan waktu yang lain, antara satu kelompok sosial dengan yang lain.
Analogi yang baik untuk memahami bagaimana kecantikan dibentuk dan diwariskan secara sosial adalah bahasa. Dalam kondisi normal sehari-hari, keterampilan berbahasa seakan-akan merupakan kemampuan instingtif yang diwariskan secara genetis. Dan memang, dalam kasus bahasa ibu, manusia tidak pernah secara sadar mempelajarinya. Padahal tidak demikian halnya. Bahasa dipelajari secara sosial melalui proses pemerolehan bahasa (language acquisition) yang tidak disadari. Seorang bayi yang sejak lahir dipindahkan dan dibesarkan dalam masyarakat penutur bahasa lain, akan menguasai bahasa itu sama baiknya dengan orang asli, dan bukannya bahasa ayah-ibunya. Ini juga yang terjadi ketika seseorang mempelajari bahasa asing, meski dalam hal ini ia menyadari proses pemerolehannya.
Hal yang sama juga terjadi pada persepsi soal kecantikan. Perlahan-lahan dan tanpa disadari, manusia mempelajari kualitas-kualitas apa yang oleh lingkungan sosialnya dianggap membuat seorang perempuan menjadi cantik, membuat seorang perempuan berada lebih tinggi ketimbang perempuan lain dalam hierarki kontinum kecantikan. Mungkin ada yang keberatan dengan analogi bahasa ini. Kecantikan, berbeda dengan bahasa, berkaitan dengan soal selera yang instingtif, seperti juga selera makan dan pakaian. Untuk ini, mari kita meminjam analisis Pierre Bourdieu. Bagi sosiolog Prancis ini, “selera merupakan suatu disposisi yang diperoleh untuk bisa membedakan dan mengapresiasi”. Selera merupakan bagian dari habitus, yaitu “sistem-sistem disposisi yang tahan waktu dan dapat diwariskan, struktur-struktur yang dibentuk, yang dimaksudkan untuk berfungsi sebagai struktur yang membentuk”.
Maka dalam arti ini, disposisi untuk menilai kualitas kecantikan seorang perempuan diperoleh secara sosial. Dengan demikian, konsep kecantikan juga dibentuk secara sosial. Dan siapapun yang hendak masuk dalam ranah perjuangan (champ) kecantikan, mau tak mau, harus mengikuti aturan mainnya (konsep kecantikan, siapa yang cantik, siapa lebih cantik dari siapa, bagaimana menjadi cantik, dsb.) yang ditentukan oleh kelas yang dominan, yang menguasai banyak kapital dalam berbagai bentuknya (ekonomi, sosial, budaya, simbolik). Maka tak heran jika, konsep kecantikan yang berkembang “berpihak” pada kelas dominan. Misalnya, di Indonesia, kulit putih menjadi salah satu aturan dalam champ kecantikan karena kulit putih identik dengan kelas yang memiliki kapital ekonomi (kelas menengah-atas yang tak pernah kerja kasar di bawah terik matahari). Sementara di negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, kulit kecoklatan terbakar matahari justru diidealkan sebagai salah satu ukuran kecantikan, lagi-lagi, karena identik dengan pemilik kapital ekonomi (kelas jet-set yang punya banyak waktu luang dan uang untuk berlibur dan berjemur di pantai).
Tak hanya itu, Bourdieu lebih lanjut melihat bahwa Kapital-kapital ini dapat saling ditransformasikan (dari sosial menjadi ekonomi, ekonomi menjadi budaya, dst). Karena itu, tak heran Bourdieu menyebut-nyebut adanya investasi biologis. Misalnya, perempuan Indonesia mau menginvestasikan uangnya untuk membeli pemutih, rebonding, creambath, dan segala upaya untuk memenuhi standar kecantikan lainnya dalam rangka meraih kapital biologis, yang suatu waktu bisa ditransformasikan menjadi kapital-kapital yang lain. Perempuan (laki-laki juga) mau berlapar-lapar diet dan berlelah-lelah fitness dalam rangka investasi biologis. Ini dalam kacamata Michel Foucault (yang bundar itu:) sebenarnya adalah sebentuk kontrol atas tubuh. Hanya saja sedemikian efektifnya kontrol itu, sehingga ia diubah menjadi motivasi internal dan dibungkus dengan rasionalitas ilmu-ilmu modern. Foucault menyebutnya sistem panoptikon. Bagi Foucault, sistem perawatan tubuh modern, sama halnya dengan penjara dan rumah sakit jiwa, berawal dari hasrat untuk mengontrol dan melakukan standardisasi. Maka ditetapkanlah standar-standar. Dan yang berbeda dari standar itu dikategorikan sebagai devian.
Yang hendak ditegaskan melalui tulisan ini hanyalah bahwa tak ada kecantikan yang esensial dan substantif. Yang untuk mencapai itu orang harus menginvestasikan apapun. Yang jika tak mencapainya, orang merasa sebagai devian. Ketika Bourdieu menerapkan analisis sosiologisnya pada keindahan karya sastra Prancis, ada seorang yang protes, “apakah kita akan membiarkan ilmu-ilmu sosial mereduksi pengalaman sastra menjadi jajak pendapat mengenai waktu luang kita, padahal pengalaman sastra berkaitan erat dengan makna hidup kita?” Maka barangkali ketika analisis sosiologis diterapkan pada kecantikan, akan ada juga yang protes, “apakah kita akan membiarkan ilmu-ilmu sosial mereduksi pengalaman tentang kecantikan menjadi jajak pendapat tentang seberapa putih kulit perempuan, seberapa lurus dan hitam rambutnya, seberapa mancung hidungnya, padahal pengalaman tentang kecantikan berkaitan dengan cinta?” Mungkin saja. Selamat mebaca, semoga selalu sehat. Dan berkah. Baca buku lebih lanjut, Baca esai Herbert Marcuse, The Aesthetics Dimension: Toward A Critique of Marxist Aesthetics, Boston: Bacon Press, 1978, juga baca bukunya Francis J. Kovach, Philosophy of Beauty, Oklahoma: University of Oklahoma Press, 1974, dan Lihat tulisan Haryatmoko, “Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa”, di BASIS. Salam membaca. Baun Tapan, JEC. Yogykarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar