Analisis
sosial secara sederhana dapat kita sebut sebagai sebuah alat, yang selanjutnya
bisa disebut sebagai metode untuk memahami realitas sosial-lingkungan sekitar,
global maupun lokal. Dalam studi
ilmu-ilmu sosial, untuk menganilisis kondisi sosial maka kita harus berpijak dalam
empat paradigma yang didasarkan pada perbedaan anggapan metateori tentang sifat
dasar ilmu sosial dan sifat dasar dari masyarakat. Empat
paradigma tersebut yang dibangun atas pandangan-pandangan yang berbeda mengenai dunia sosial satu dengan yang lain adalah humanis, strukturalis, fenomenologis
dan fungsionalis.
Untuk
menuju ke metode
seperti apa yang layak dimbil, maka kita harus berangkat dari asumsi dasar
yaitu ontologis, epistemologis, kecenderungan dasar manusia (human nature) dan metodologi. Asumsi
tentang ontologis dalah berawal dari pertanyaan “apa”. Jadi asumsi ontologis
ini adalah apakah kenyataan diteliti sebagai sesuatu di luar yang mempengaruhi
atau merusak di dalam seseorang ataukah kenyataan itu justru hasil dari
kesadaran seseorang. Sedangkan asumsi epistimologis berawal dari pertanyaan “bagaimana”. Jadi bagaimana seseorang mulai memahami dunia
sosial dan mengkomunikasikanya sebagai pengetahuan kepada orang lain.
Adapun
asumsi Human natur membawa kita kepada satu upaya penyadaran diri. Asumsi terakhir
sebenarnya merupkan satu muara ketika orang yang memperdebatkan di atas
akhirnya semua akan mengarah kepada perbedaan metodologis. Masing-masing asumsi di atas dalam
perkembangan selanjutnya menghasilkan cabang-cabang yang cukup banyak. Tapi yang
akhirnya tercatat adalah perdebatan masing masing asumsi yang membawa pada
aliran aliran tertentu. Perdebatan mengenai ontologis menghasilkan aliran
nominalis (yang beranggapan bahwa realitas sosial adalah sesuatu diluar diri
yang merupakan suatu pengandaian konsep dan label. Artinya benda ini diberi
nama hanya sekedar ”rekaan” manusia agar menjadi pemahaman bersama, dalam hal
ini bahasa juga termasuk di dalamnya dan aliran realisme (realitas yang di luar
“diri” itu adalah suatu kenyataan yang “hidup”dan merupakan tatanan nisbi yang
tepat. Artinya kenyataan itu lebih merupakan entitas empiris.
Debat epistimologis
melahirkan perpecahan tajam antara orang eksakta dengan orang sosial. perdebatan
ini membawa kita pada aliran positivis (satu aliran yang memahami bahwa
hipotesa tentang kondisi alam sosial dapat dibuktikan secara empirik melalui eksperimen,
dan aliran anti positivistik (yaitu satu aliran yang tidak mau menerapkan satu
tatanan sosial terhadap peristiwa sosial yang lain, jadi manusia bukanlah
pengamat tetapi satu entitas yang
terlibat dalam struktur tatanan sosial. Selanjutnya
debat mengenai human natur termasuk
debat yang cukup tua dan abadi di lingkungan umat islam. Kaum determinis (Qodariah)
menganggap bahwa manusia ditentukan oleh lingkungan, sedangkan kaum volunteris (Jabariyah)
beranggapan bahwa lingkungan ditentukan oleh kreatifitas manusia itu sendiri.
Kedua anggapan inilah yang merupakan unsur paling utama dan hakiki dalam teori
ilmu sosial.
Adapun debat
metodologis, melahirkan
dua aliran besar pula, yaitu ideografis yang menyatakan bahwa seseorang akan
memahami kondisi sosial suatu masyarakat jika dia terlibat langsung dengan
masyarakat itu. Aliran yang kedua adalah aliran nomotetis, yaitu aliran yang
mementingkan pada seperangkat tehnik dan alat sistematik
dalam penelitian (ini sering digunakan
oleh orang eksakta). Dari
semua asumsi dan perdebatan dapat di tegaskan bahwa
teori sosial terbagi menjadi dua aliran besar yaitu : pertama, positivistik yang menggunakan ontologis realis, epistemologinya
positivis, pandangan sifat manusianya deterministik dan metodeloginya
nomotetik. Kedua, Idialisme, sebaliknya ontologinya nominalis, epistimologinya
anti positivis, pandangan sifat manusianya volunteristik dan metodeloginya
idiografis. Setelah
melalui perdebatan yang panjang, para ahli sosiologi akhirnya sepakat untuk
menentukan cara baru dalam menganalisa empat paradigma (dengan tetap memasukkan
unsur-unsur penting
dari asumsi di atas). Empat paradigma itu
adalah:
- Humanis
Radikal, yaitu suatu paradigma yang dianut oleh
orang-orang yang berminat mengembangkan ilmu social perubahan radikal dari pandangan
subjektivis pendekatan yang kemudian dipakai adalah nominalis, anti
positivistik, volunteris dan idiolografis. Pandangan dasarnya bahwa ada
satu suprastruktur idiologis diluar diri yang membelenggu dan berhasil
memisahkan dirinya dengan kesadarannya (alienasi)
dan melahirkan kesadaran palsu.
- Struktural
Radikal, penganut paham ini berupaya
memperjuangkan sosilogi perubahan radikal juga yaitu perubahan yang
mendasar dengan mengabaikan semua tatanan sosial yang membelenggu
perkembanga diri manusia oleh karena pandangan ini bersifat utopis dan
hanya memandang lurus ke depan. Analisisnya cenderung menekankan
pertentangan struktural, bentuk-bentuk penguasaan dan pemerosotan harkat
manusia. pendekatan yang dipakai adalah realis, positivis, determinis dan
nomotetis.
- Paradigma
Interpretatif, penganut paradigma ini cenderung
manganut sosiologi keteraturan yaitu ilmu sosial yang mengutamakan kesatuan
dan kerapatan. Pendekatannya cenderung nominalis, anti positivis dan ideografis.
Pada perkembangan selanjutnya paradigma ini sering disebut sebagai aliran
fenomenologis.
- Paradigma
Fungsionalis. Paradigma inilah yang paling banyak di
anut di dunia mereka condong kepada pendekatan realis, positivis, deterministis
dan nomotetis. Rasionalitas merupakan “tuhan “bagi mereka dia berpijak
pada sosiologi keteraturan juga.
Fungsi
utama mengenal empat paradigma tersebut adalah
kita dapat memahami kerangka berfikir seseorang dalam teori sosial dan
merupakan alat untuk memetakan perjalanan pemikiran teori sosial seseorang
terhadap persoalan sosial. Dengan
pemahaman ini saya kira, setiap diri bisa memetakan teori-teori yang ada
untuk kemudian dengan kesadaran masing-masing melalui pengalaman dan
pemahamannya sendiri, memilih mana yang menurut anda paling tepat. Silahkan anda bebas menentukan pilihan atau anda
ditentukan lebih dulu oleh orang lain. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa besok
kembali.
Perpustakaan, Graha Pratama.
11-04-2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar