Kampus adalah miniatur negara. Tentu hal ini tidaklah berlebihan, kita bisa
melihat dari segi penyebaran mahasiswa, kampus menghadirkan peserta didik dari
berbagai unsur suku, ras dan agama yang ada di negara ini. Dari segi
intelektualitas, kampus juga menghadirkan ribuan calon pemimpin yang akan
mengisi kursi-kursi kosong kepemimpinan bangsa ini. Bisa diibaratkan, kampus
adalah ruang kaderisasi bangsa. Masa depan nasib bangsa ditentukan oleh kampus
karena di situlah banyak dididik berbagai pengetahuan dan skil (termasuk
karakter dan mentalitas) generasi muda bangsa yang kelak menjadi pemimpin di
tengah–tengah masyarakat. Sebagai miniatur negara yang dimana didalamnya
terdapat banyak perangkat yang satu sama lain saling mendukung, maka di dalam
kampus juga memiliki pemerintahan dan rakyat, baik itu antara rektorat dengan
mahasiswa ataupun antara mahasiswa dengan mahasiswa.
Oleh karenanya, anda akan menemukan berbagai kelompok yang ada akan selalu
bertaruh dalam memperebutkan eksistensinya di dalam kampus. Dari level
rektorat, dekanat, dosen, pegawai akademik, mahasiswa hingga tukang sapu akan
terlibat dalam arena perebutan kekuasaan. Bisa dikatakan kampus adalah miniatur
basis produksi, distribusi dan pertarungan negara. Benturan-benturan
ideologi antar gerakan mahasiswa pun akan terjadi di kampus sehingga menjadikan
kehidupan kampus menjadi sangat kondusif bagi kontentasi semua kelompok
sehingga keberadaannya akan merepresentasikan iklim demokrasi di Indonesia.
Sejarah mencatat bahwa perubahan-perubahan mendasar di negara ini juga
berangkat dari komunitas-komunitas intelektual kampus. Hal inilah yang kemudian
melabelisasi kampus sebagai laboratorium demokrasi Indonesia.
Sistem pemerintahan dibangun berdasarkan kebutuhan dimasing-masing kampus.
Keberadaan BEM (Badan Ekskutif Mahasiswa) atau Senat Mahasiswa dengan
menempatkan Presiden Mahasiswa-nya (Presma) atau istilah lain (karena tiap
kampus berbeda) sebagai mahasiswa nomor satu di kampus adalah salah satu
cerminan dari penataan sebuah kehidupan (kampus). Maka,
sangat tidak menarik apabila sebuah kampus hanyalah dijadikan tempat
perkuliahan, kalau begitu apa bedanya dengan SD, SMP ataupun SMA? Berarti
mahasiswa akan semakin jauh dengan hal-hal yang bersifat sosial, kondisi real
yang akan di hadapi oleh mahasiswa selepas kuliah. Semangat ini pula yang
kemudian dimaknai oleh gerakan mahasiswa sebagai wadah untuk menyalurkan
aspirasi-aspirasi mereka dengan ikut aktif berpartisipasi dalam, misalnya,
PEMIWA (Pemilu Mahasiswa, atau istilah lainnya), untuk memilih pemimpin kampus
(BEM/DEMA/SEMA). Pemiwa akan menjadi momentum mengakselerasi
perubahan-perubahan yang dianggap penting oleh gerakan mahasiswa dengan segala
karakteristik perjuangannya.
Saat ini, sistem Pemiwa di beberapa kampus dilakukan dengan pemilihan
langsung. Ada di antaranya dengan cara mengharuskan mahasiswa membentuk partai
mahasiswa sebagai kendaraan politik untuk mengajukan calon-calon mereka duduk
di lembaga eksekutif atau lembaga legislatif mahasiswa (BEM/DEMA/SEMA/DPM).
Partai mahasiswa yang diharapkan merupakan representasi dari
kepentingan-kepentingan komunal mahasiswa yang harus diperjuangkan. Partai
mahasiswa tidak sekadar menjadi syarat administratif untuk bisa berpartisipasi
dalam Pemiwa yang hadir ketika Pemiwa akan berlangsung, tetapi juga bisa
menjalankan fungsi-fungsi partai yang seharusnya untuk memberikan pendidikan
dan pencerdasan politik bagi mahasiswa umum sebagaimana tertuang dalam AD/ART
partai mahasiswa. Mereka yang terpilih sebagai pimpinan BEM/DEMA/SEMA/DPM harus
bisa merepresentasikan kepentingan mahasiswa umum sebagai konstituen di suatu
daerah pemilihannya (biasanya tiap fakultas atau jurusan). Jangan sampai
ketidakprofesional pimpinan lembaga intra kampus membuat mahasiswa jenuh
terhadap sistem yang berlangsung di kampus. Karena itu, perlu adanya dinamisasi
sistem dengan membuka ruang kesempatan bagi siapa saja untuk berpatisipasi
dalam pengembangan kehidupan lembaga intra kampus.
Sebagai miniatur negara, di samping berisi lembaga politik intra kampus,
juga terdapat berbagai lembaga pengembangan bakat minat yang dikenal Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti lembaga penerbitan, lembaga olahraga, lembaga
seni budaya, lembaga bahasa, lembaga pecinta alam, lembaga perekonomian
koperasi mahasiswa, dan lain-lain. Keberadaan Pers Mahasiswa menjadi pelengkap
yang ikut mencerminkan sebuah Negara (miniatur negara). Pers bisa melakukan
kritik dan pencerdasaan mahasiswa dengan wacana dan informasi yang disampaikan.
Atas berbagai komponen dan dinamisasi yang ada tersebut itulah maka kehidupan
kampus sepenuhnya bukan hanya terpaku pada kegiatan akademik, seperti
perkuliahan ataupun aplikasi-aplikasi lain yang berkaitan dengan kuliah.
Adanya demonstrasi ataupun perebutan kekuasaan di kampus bukanlah hal
yang harus dipertentangkan, karena dengan adanya dinamika seperti itu
mencerminkan bahwa mahasiswa peka terhadap berbagai realitas yang ada.
Mahasiswa tidak harus manut-manut di hadapan dosennya walaupun ada kesalahan
dalam kinerja sang dosen. Mahasiswa tidak mesti berdiam diri ketika melihat
ataupun mendengar sebuah ketidak beresan dalam lingkungannya. Demonstrasi atas
kenaikan BBM, tarif dasar listrik, dll adalah bukti bahwa Mahasiswa juga adalah
bagian dari masyarakat. Kampus yang dikenal sebagai miniatur negara, merupakan
tempat berkumpulnya pemuda dari pelosok daerah dengan segala perbedaan dan
bentuk sosial, tentunya juga beragam potensi. Ketimpangan sosial yang terjadi
dalam kampus adalah cerminan dari kesenjangan sosial di masyarakat. Berhasil
tidaknya ideologi yang diterapkan negara dapat dilihat di kampus. Begitu juga
ketika kita harus mensensus seberapa besar kepedulian masyarakat terhadap
kondisi negara, maka lihatlah di kampus kita masing-masing, sejauh apa
mahasiswa turut andil dalam dinamisasi pergerakan lembaga kemahasiswaan.
Mahasiswa yang dikatakan sebagai sumber cadangan pemimpin masa depan
bangsanya, kini menjadi tumpuan masyarakat dalam pengolahan dan manajemen
kekayaan negara. Tidak hanya itu, tanggung jawab penuh juga diserahkan kepada
mahasiswa dalam melakukan pengawasan jalannya roda pemerintahan. Karena
disamping fungsi kontrol dan pressure terhadap pemerintah, mahasiswa tentunya
dituntut mampu memberikan solusi dari berbagai permasalahan bangsa.
Dewasa ini, keberadaan lembaga intra kampus seolah-olah meredup seiring
mulai stabilnya kondisi pemerintahan secara struktural. Nyatanya di lapangan
masih saja terdapat kesenjangan sosial yang terjadi di tingkatan masyarakat
umum, seperti data yang di laporkan oleh Menko Kesra
Aburizal Bakrie beberapa tahun yang lalu yang menunjukkan bahwa sekitar 60% penduduk
Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan perkapita dibawah
Rp. 500.000,-, yang dengan anggaran tersebut mereka harus mampu menghidupi
keluarga serta kebutuhan hidup lainnya.
Meskipun lembaga kemahasiswaan tidak memiliki wewenang khusus dalam
menangani masalah ini namun perlu disadari bahwa lembaga inilah yang nantinya
berperan dalam mengelola potensi SDM dalam memakmurkan dan mensejahterakan
masyarakat. Untuk itu, lembaga-lembaga ini perlu sekiranya mendapat perhatian
khusus oleh pemerintah dan birokrat kampus khususnya oleh mahasiswanya sendiri.
Paling tidak bentuk perhatiannya bisa berupa pemberian fasilitas yang mendukung
dan diserahkan sepenuhnya terkait pengelolaan kepada mahasiswa. Hingga berupa pembinaan
secara intensif terkait hal-hal yang dianggap mampu menunjang peningkatan
skills mahasiswa. Karena dikhawatirkan ketika hal ini tidak dilakukan akan
terjadi “Lost Generation”, akhirnya menyebabkan stagnasi gerakan mahasiswa.
Dimana saat pemain veteran sudah meninggalkan dunia kampus, akhirnya tidak ada
yang meneruskan perjuangan perubahan oleh mahasiswa baik dalam struktural
maupun olah pemikiran.
Bagaimana mungkin dinamisasi kampus akan terjadi tanpa adanya peran aktif
dari mahasiswa. Sementara lembaga ini didirikan dan difasilitasi untuk
mahasiswa,ironisnya justru mahasiswa yang buta dalam pengelolaan lembaga ini,
kelak akan menjadi fenomena gerakan mahasiswa khususnya internal kampus ketika
mahasiswa ‘mati’ bersama cita-cita perubahannya. Salam mahasiswa,
semangat terus ya...semoga bermanfaat.
Perpustakaan Graha Pratama, 08-04-2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar