Translate this written according your language!

Sabtu, 23 April 2016

KARTINI YANG TERLUPAKAN ?

Setiap tahun, perbincangan kartini akan terus hangat di bicarakan,  di sini kita lihat bahwa kartini adalah sebuah contoh ambivalensi dalam wacana kolonial. kita tahu, kolonialisme (atau imperialisme) adalah puncak kapitalisme pada zaman itu. kapitalisme sendiri merupakan buah dari pencerahan, yaitu ide manusia sebagai subyek yang mandiri, yang mengalahkan alam dan yang di luar diri, yang membawa kemajuan, seperti yang digambarkan dalam manifesto komunis, akan tetapi juga penjajahan. ketika si kolonialis berada di negeri jajahan, dia bertemu dengan “yang lain”, pihak yang dijajah yang di luar dirinya. harus diapakankah orang-orang ini? karena semangat pencerahan adalah membawa kemajuan maka salah satu proyek kolonialisme adalah pendidikan. di hindia belanda itu dicerminkan dalam “politik etis,” untuk menularkan semangat kemajuan dan pencerahan pada yang lain.

Tetapi agenda pencerahah seperti yang tampak dalam “politik etis” mengandung risiko: apabila proyek ini diteruskan, ia akan mengaburkan yang menjajah dan yang terjajah, dan berbahaya bagi identitas si penjajah. apabila proyek itu dilakukan sepenuhnya, yang terjajah bisa menuntut kesetaraan dan kemerdekaan, yang akan mengancam penjajahan. maka proyek itu dihambat sendiri “dari dalam”, oleh yang menjajah. si terjajah harus tetap jadi “yang lain”, yang berbeda. di sini yang dipertahankan pada dasarnya adalah pengukuhan dan pelembagaan esensialisme. esensialisme adalah sebuah sikap yang membuat setiap perbedaan dan identitas hakiki, tak berubah-ubah dan tak tergantung pada sejarah dan lokalitas. tapi pada saat yang sama yang terjajah tak jarang memakai kesempatan ini sebagai perlawanan. misalnya melalui pendidikan ia mengubah dirinya, dan dengan mengubah dirinya ia menghancurkan esensialisme.
Kartini fasih berbahasa belanda, mahir memasak masakan belanda, menulis resep-resep dengan cara barat seperti yang dikemukakan oleh Suryatinin Ganie dalam bukunya, resep-resep putri jepara, dan rajin membaca buku dan jurnal yang diterbitkan di barat. terkadang dilihat, sikap ini seperti meniru si penjajah tetapi sebenarnya tidak hanya itu. inilah yang menyebabkan setiap transplantasi budaya bisa mengandung sesuatu yang paradoksal, tak ada lagi daya kendali yang otentik, orisinil ataupun murni; egala sesuatu dikontaminasi atau diberdayakan oleh daya subversif imitasi. yang “lain” telah menjadi “sesama” yang telah dilarutkan. terjadilah hibriditas. Bagi banyak wacana nasionalisme, hibriditas cenderung dianggap dengan negatif, karena tidak murni, hingga mimikri sering nampak seakan hanya jiplakan belaka. padahal, seperti yang ditunjukkan homi bhabha, mimikri mengukuhkan dan mendistorsi otoritas kolonial sekaligus.

Apa yang kita lihat dalam diri kartini adalah sebuah upaya yang konsisten untuk memaknai dirinya sebagai aspek perlawanan dari mimikri. tak jarang kartini memposisikan stella, sang “pasangan jiwa”, sebagai yang lain, yang tak mengerti, yang angkuh, yang hanya tahu sedikit-sedikit, dan yang berdiri di luar realitanya, hingga kartini acap merasa perlu mengangkat ke-jawa-an sebagai sesuatu yang luhur dan berbudaya. ini agaknya semacam upaya mengkonstruksi sebuah identitas kolektif sebagai subyek “budaya jawa,” tulis kartini pada stella, “tidak rendah dalam pendalaman rohaninya.” tapi kita tahu dalam kehendak menandaskan diri, kartini dan tak jarang kaum yang dijajah umumya mencoba menggali tradisi, bahasa, sejarah dan agama dan membangun ulang “sifat otentik”.
Mereka melakukan ini karena tak sudi mengukur diri terhadap norma-norma yang dalam jargon lacan dikenal (dalam bahasa inggris) sebagai the big other, atau “mereka” yaitu negara, lembaga, orang tua, yang menguasai wacana atau membentuk identitas “aku”. tapi dengan menandaskan “keotentikan” yang nota bene artifisial, pada dasarnya kaum yang dijajah tetap berpikir dalam cengkeraman “mereka”. tapi di sini juga kita meihat posisi kartini sebagai orang tepian. ia tak sepenuhnya konsisten memuja-muja kebudayaan jawa apalagi dalam memuji kebudayaan jawa itu ia mungkin hanya melakukannya sebagai strategi identitas. tulisnya pada stella: “apa peduliku soal peraturan-peraturan adat? aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak peraturan adat jawa yang konyol itu saat berbincang dalam tulisanku ini. adat peraturan ini dibuat oleh manusia, bagiku itu menjijikkan.”


Sebagai sebuah penutup, tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa kartini ia sosok yang terlupakan sosok yang telah mempelopori sebuah kesadaran identitas diri yang merupakan dasar nasionalisme indonesia kelak, yang tidak berdasarkan identitas etnik atau budaya yang permanen. bisa jadi kartini mendahului pemikiran kaum nasionalis di indonesia yang kemudian datang: nasionalisme yang berdasarkan kepada sifat universal yang ada pada sesama. ia mengatakan pada stella bahwa ia ingin “bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya” dan “aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di eropa”.
Sekaligus ia menjelaskan bahwa “bisikan itu tak hanya datang dari luar, dari mereka yang sudah beradab, dari benua eropa”, tapi bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang membisikkan keinginan itu jauh sebelum ia bisa mendapat akses kepada buku dan artikel eropa tentang modernitas. artinya, ia melihat bahwa tuntutan untuk merdeka juga bisa datang dari seorang perempuan jawa, ketika perempuan itu tertindas. tuntutan itu universal, bisa datang dari semua bangsa di muka bumi. Dan ini semua hanya bisa dikemukakan oleh orang di tepian, yang identitasnya tidak dikurung dalam sesuatu yang particular.Semoga bermanfaat, sampai jumpa  lagi besok. Caffe kebon Laras, Bangun Tapan, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar