Setiap tahun,
perbincangan kartini akan terus hangat di bicarakan, di sini kita lihat bahwa kartini adalah
sebuah contoh ambivalensi dalam wacana kolonial. kita tahu, kolonialisme (atau
imperialisme) adalah puncak kapitalisme pada zaman itu. kapitalisme sendiri
merupakan buah dari pencerahan, yaitu ide manusia sebagai subyek yang mandiri,
yang mengalahkan alam dan yang di luar diri, yang membawa kemajuan, seperti
yang digambarkan dalam manifesto komunis, akan tetapi juga penjajahan. ketika
si kolonialis berada di negeri jajahan, dia bertemu dengan “yang lain”, pihak
yang dijajah yang di luar dirinya. harus diapakankah orang-orang ini? karena
semangat pencerahan adalah membawa kemajuan maka salah satu proyek kolonialisme
adalah pendidikan. di hindia belanda itu dicerminkan dalam “politik etis,”
untuk menularkan semangat kemajuan dan pencerahan pada yang lain.
Tetapi agenda pencerahah
seperti yang tampak dalam “politik etis” mengandung risiko: apabila proyek ini
diteruskan, ia akan mengaburkan yang menjajah dan yang terjajah, dan berbahaya
bagi identitas si penjajah. apabila proyek itu dilakukan sepenuhnya, yang
terjajah bisa menuntut kesetaraan dan kemerdekaan, yang akan mengancam
penjajahan. maka proyek itu dihambat sendiri “dari dalam”, oleh yang menjajah.
si terjajah harus tetap jadi “yang lain”, yang berbeda. di sini yang
dipertahankan pada dasarnya adalah pengukuhan dan pelembagaan esensialisme.
esensialisme adalah sebuah sikap yang membuat setiap perbedaan dan identitas
hakiki, tak berubah-ubah dan tak tergantung pada sejarah dan lokalitas. tapi
pada saat yang sama yang terjajah tak jarang memakai kesempatan ini sebagai
perlawanan. misalnya melalui pendidikan ia mengubah dirinya, dan dengan
mengubah dirinya ia menghancurkan esensialisme.
Kartini fasih berbahasa
belanda, mahir memasak masakan belanda, menulis resep-resep dengan cara barat
seperti yang dikemukakan oleh Suryatinin Ganie dalam bukunya, resep-resep putri jepara, dan rajin membaca buku
dan jurnal yang diterbitkan di barat. terkadang dilihat, sikap ini seperti
meniru si penjajah tetapi sebenarnya tidak hanya itu. inilah yang menyebabkan
setiap transplantasi budaya bisa mengandung sesuatu yang paradoksal, tak ada
lagi daya kendali yang otentik, orisinil ataupun murni; egala sesuatu
dikontaminasi atau diberdayakan oleh daya subversif imitasi. yang “lain” telah
menjadi “sesama” yang telah dilarutkan. terjadilah hibriditas. Bagi banyak wacana nasionalisme, hibriditas cenderung
dianggap dengan negatif, karena tidak murni, hingga mimikri sering nampak
seakan hanya jiplakan belaka. padahal, seperti yang ditunjukkan homi bhabha,
mimikri mengukuhkan dan mendistorsi otoritas kolonial sekaligus.
Apa yang kita lihat dalam
diri kartini adalah sebuah upaya yang konsisten untuk memaknai dirinya sebagai
aspek perlawanan dari mimikri. tak jarang kartini memposisikan stella, sang
“pasangan jiwa”, sebagai yang lain, yang tak mengerti, yang angkuh, yang hanya
tahu sedikit-sedikit, dan yang berdiri di luar realitanya, hingga kartini acap
merasa perlu mengangkat ke-jawa-an sebagai sesuatu yang luhur dan berbudaya.
ini agaknya semacam upaya mengkonstruksi sebuah identitas kolektif sebagai
subyek “budaya jawa,” tulis kartini pada stella, “tidak rendah dalam pendalaman
rohaninya.” tapi
kita tahu dalam kehendak menandaskan diri, kartini dan tak jarang kaum yang
dijajah umumya mencoba menggali tradisi, bahasa, sejarah dan agama dan
membangun ulang “sifat otentik”.
Mereka melakukan ini
karena tak sudi mengukur diri terhadap norma-norma yang dalam jargon lacan
dikenal (dalam bahasa inggris) sebagai the big other, atau “mereka” yaitu
negara, lembaga, orang tua, yang menguasai wacana atau membentuk identitas
“aku”. tapi dengan menandaskan “keotentikan” yang nota bene artifisial, pada
dasarnya kaum yang dijajah tetap berpikir dalam cengkeraman “mereka”. tapi di
sini juga kita meihat posisi kartini sebagai orang tepian. ia tak sepenuhnya
konsisten memuja-muja kebudayaan jawa apalagi dalam memuji kebudayaan jawa itu
ia mungkin hanya melakukannya sebagai strategi identitas. tulisnya pada stella:
“apa peduliku soal peraturan-peraturan adat? aku gembira sekali akhirnya dapat
mengoyak peraturan adat jawa yang konyol itu saat berbincang dalam tulisanku
ini. adat peraturan ini dibuat oleh manusia, bagiku itu menjijikkan.”
Sebagai sebuah penutup,
tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa kartini ia sosok yang
terlupakan sosok yang telah mempelopori sebuah kesadaran identitas diri yang
merupakan dasar nasionalisme indonesia kelak, yang tidak berdasarkan identitas
etnik atau budaya yang permanen. bisa jadi kartini mendahului pemikiran kaum
nasionalis di indonesia yang kemudian datang: nasionalisme yang berdasarkan
kepada sifat universal yang ada pada sesama. ia
mengatakan pada stella bahwa ia ingin “bekerja tidak hanya untuk kepuasan
dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk
kebaikan sesamanya” dan “aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara
utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di
eropa”.
Sekaligus ia menjelaskan
bahwa “bisikan itu tak hanya datang dari luar, dari mereka yang sudah beradab,
dari benua eropa”, tapi bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang membisikkan
keinginan itu jauh sebelum ia bisa mendapat akses kepada buku dan artikel eropa
tentang modernitas. artinya,
ia melihat bahwa tuntutan untuk merdeka juga bisa datang dari seorang perempuan
jawa, ketika perempuan itu tertindas. tuntutan itu universal, bisa datang dari
semua bangsa di muka bumi. Dan ini
semua hanya bisa dikemukakan oleh orang di tepian, yang identitasnya tidak
dikurung dalam sesuatu yang particular.Semoga bermanfaat, sampai jumpa lagi besok. Caffe kebon
Laras, Bangun Tapan, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar