Translate this written according your language!

Senin, 25 April 2016

DEKONSTRUKSI WACANA PEREMPUAN NISCAYA DI AJUKAN



Perdebatan-perdebatan tentang ketidak adilan, diskriminasi peran dan pelanggaran-pelanggaran hak-hak wanita merupakan salah satu diskursus yang selalu hangat untuk di bicarakan, karena menghiasi peta pemikiran Islam di Inedonesia. Ia merupakan bagian yang inhern dengan wacana perempuan lebih tepatnya  gender. Disatu sisi kelompok pemikiran yang menganggap perempuan sebagai system hubungan laki-laki dan perempuan didalam struktur masyarakat saat ini telah sesuai dengan ajaran Islam. Karenanya, tidak perlu diemansipasi lagi. Golongan ini, sering disebut sebagai kelompok yang menikmati dan diuntungkan oleh struktur dan system hubungan laki-laki yang ada, sehingga usaha-usaha untuk melanggengkannya sebagai yang diutamakan.
Respon ini diajukan sebagai upaya penguatan kembali system patriarki dengan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, dengan dua alasan mendasar, yaitu tidak sepenuhnya memahami tentang feminisme. Yang diyakininya sebagai aktivis perempuan anti laki-laki, perusak keluarga dan pembongkaran terhadap ideology patriarkis. Dikelompok pemikiran lain yang menggap bahwa, kaum muslimat yang berada dalam sistem diskriminasi, diperlakukan tidak adil karenanya bertentangan dengan keadilan dan prinsip dasar islam. Kelompok ini, mengasumsikan islam sebagai agama islam yang telah melakukan represi akut terhadap perempuan melalui issue terhadap perempuan melalui issu dan peran pablik terhadap perempuan, baik dalam ruang public maupun primer.
Sulitnya mengakumulasi formulasi wacana gender dikalangan masyarakat muslim, sebagai akibat dari munculnya dikotomi wacana yang selama ini masih menghegemoni sebagaian besar cendekiawan muslim. Selama ini, wacana barat (skuler) dan timur (islam) ditempatkan sebagai wacana dan paradoks antagonis di atas. kita dihadapkan pada persoalan yang dilematis. kita juga dituntut untuk selalu dapat mengajukan seting paradigma pemaknaan alternative terhadap diskusrsus gender. Karenanya berdasarkan pada seting Hasan Hanafi, melalui tiga proposalnya yang terkenal, Muafiquna min al-Tsurats al-Qadim, muafiquna min al-Tsurats al-Gharbi, dan muafiquna min al-Tsurats al- jadid, dekonstruksi wacana gender niscaya di ajukan. Paling tidak, hal itu sebagai wacana alternative yang mampu menjadi acuan dasar maensterm pemaknaan gender di lingkungan kita


Diskursus gender dikalangan barat mulai menjadi perdebatan dikalangan aktifis wanita dekade 1977, sejak lahirnya gerakan feminisme- suatu faham dalam ilmu social untuk menganalisa terjadinya penindasan dan berbagai bentuk penyimpangan relasi gender antara laki-laki dan perempuan –dilondon tidak lagi menyebut issue-issue lama misalnya patriarkhical atau axis. Tetapi mengidentifikasinya dalamm wacana gender (gender discurs). Namun yang terjadi selanjutnya adalah munculnya Wrong explanation tentang gender dimana ia di identifikasi dengan femonis. Karena redefinisi, niscaya diajukan sebagi entry-poin membuka diskursus gender.
Webster dictionary, mendefinisukan gender sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Sedangkan okley mengangkat gender sbagai kajian sosiologis untuk mengenali perbedaan-perbedaan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam wilayah biologis. Namun, pada tahap selajutnya, gender di identikan dengan seks, yang berarti konsepsi gender tidak lebih hanya berkutat pada persoalan-persoalan diskriminasi peran yang terkait dengan relasi biologis hormonal.implikasinya justru hanya menghasilkan satu wacana yang mengemilinir formulasi gender yang sesungguhnya. Gender yang pada asalnya digunakan sebagai pisau bedah analisis mengidentifikasi antara laki-laki dan perempuan dari segi social budaya, kemudian berkutat hanya pada pisau anlisis yang terkait dengan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi, biologis gender, kemudian hanya berkonsentrasi pada aspek bilogis, perbedaan komposisi kimia dan hormone dalam tubuh anatomi fisik, reproduksi dan dimensi-dimensi biologis lainnya, artinya ia kemudian menapikan konsentrasinya pada aspek-aspek social budaya. Dan aspek logical kontect lainnya.
Padahal objek kajian gender begitu luas, dimana seluruh ketetapan masyarakat yang terkait dengan penentuan seorang sebagai laki-laki dan perempuan, karenanya gender bukannya sebagai diskursus yang bersifat kodrati, tetapi lebih kepada bentuk rekayasa social. Diskursus gender dikalangan intern muslim, dikenal dengan dua wacana yang saya sekarang ini sulit terakumulasikan kedalam satu titik pemahaman, yaitu wacana barat skuler dan islam. Pada dasarnya gerakan gender pada wacana barat ditunjukan untuk mewujudkan pemberdayaan berkeadilan gender dengan rakyat dapat mengubah relitasnya dan menciptakan masyarakat dengan pola relasi kelas dan gender yang adil, egaliter dan demokratis. Hal ini dapat dikaukan untuk pemberdayaan mengubah atau meningkatkan kondisi yang terkait dengan lima unsure yang satu sama lain saling menunjang dan bergerak menyerupai spiral.
Pertama : kesejahteraan yang berarti bagaimana meningkatkan tingkat kesejahteraan yang di ukur dari tercukupinya kebutuhan dasar, makanan, penghasilan, kesehatan maupun kebutuhan-kebutuhan fundamental dan yang lainnya. Secra seimbang antara laki-laki dan perempuan. Karenanya gagasan di atas, memunculkan usaha serius mengelimir bentuk-bentuk kesenjangan gender, yang itu dapat teridentifikasi melalui tingkat kesejahteraan laki-laki dan perempuan sebagai sebagai kelompok dalam hal tingakat penghasilan, kematian, gizi, dan sebagainya. Kedua; akses, yang berarti bagaimana menghapuskan kesenjangan yang disebabkan karena tidak setaranya akses terhadap sumber daya yang dipunyai oleh mereka, yang berda dalam struktur kelas yang lebih tinggi dari struktur kelas yang lebih rendah, yang berkuasa dan dikuasai, pusat dan pinggiran. Artinya, bagaimana menghapus kesenjangan akibat perbedaan akses antara laki-laki dan perempuan terhadap human reseurches yang dimilikinya.
Ketiga: kesadaran kritis, yang melakukan penghapusan terhadap adanya anggapan bahwa posisi social ekonomi perempuan lebih rendah daripada laki-laki dan pembagian dari pembagian gender tradisional adalah, bagian dari tatanan abadi, disamping itu, pemberdayaan dapat dilakukan dengan menumbuhkan sikap kritis dan penolakan terhadap cara pandang bahwa subordinasiterhadap perempuan bukanlah pengaturan alamiah, tetapi hasil dari system  diskriminatif dari tatanan social yang berlaku. Keempat: partisipasi tang berarti penghapusan terhadap kesenjanhgan partisipasi yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan baok ditingkat keluarga maupun ditingkat masyarakat dan Negara. Disamping juga dalam konteks identifikasimasalah, perencanaan program, pengelolaan, implementasi, monitoring dan evaluasi.
Kelima: kuasa, yang berarti penghapusan kesenjangan gender yang dari adanya hubungan kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan.baik dalam ruang domestic maupun public, ending pointnya terjadi relasi kuasa setara antara laki-laki dan perempuan, tidak mendominasi atau berada dalam posisi dominan atas lainnya.
Lahirnya dua wacana gender yang paradoks antagonis, berimplikasi sangat mengalir dengan deras struktur-struktur budaya masyarakat yang mencerminkan tradisi diskriminasi peran antara laki-laki dan perempuan diruang public maupun domestic. Karenannya, niscaya mendialogkan dua wacana guna mencari titik persinggungan yang pada akhirnya mampu melahirkan formulasi konsep kesetaraan gender yang didaur dari sintetik, wacana barat dan islam. Saya kira ini bisa menjadi kaya untuk di studi. Selamat membaca, sampai jumpa besok. Di tema yang berbeda. Saven Universiti, Yogyakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar