Translate this written according your language!

Rabu, 13 April 2016

Berpikir Sosiologis ? TERHADAP SEBUAH MASALAH


Hal tersulit dalam mempelajari sosiologi bukanlah menghafalkan, memahami ataupunmenerapkan teori-teori atau paradigma sosiologi yang ada, melainkan bagaimana berpikir sosiologis ketika bertemu pada suatu masalah, apapun itu. 
Makanya disini saya pagi ini meminjam istilahnya Macionis (1997) untuk menawarkan tiga kerangka berpikir sosiologis, yaitu:
Pertama, Melihat keseluruhan melalui sebagian. Berpikir sosiologis ibarat seorang ilmuwan mikrobiologi yang mengguna-kan mikroskop dalam melihat DNA untuk mengetahui asal-usul seorang manusia. Jadi, sosiolog tidak perlu melihat keseluruhan. Karena tidak mungkin kita akan meneliti semua anggota masyarakat. Dalam metodologi cara berpikir macam ini diturunkan menjadi teknik sampling. Cara melihat semacam ini jarang dilakukan oleh disiplin lain. Antropologi, misalnya, hanya melihat pada ‘sebagian’ itu secara mendalam. Psikologi pun cenderung melakukan hal serupa. Sosiologi berusaha melakukan generalisasi, inilah ciri khas sosiologi, sekaligus kelemahannya;
Kedua, Melihat keanehan-keanehan dalam kejadian sehari-hari. Seorang sosiolog akan melihat kejadian yang dianggap biasa oleh orang kebanyakan sebagai hal yang aneh. Bagi awam, cara berpikir ini bisa dikatakan sebagai tindakan iseng atau kurang kerjaan, namun bagi sosiolog pemula cara inilah yang sering digunakan. Tugas sosiolog, kemudian, adalah menggali lebih dalam tentang apa penyebab masalah sosial tersebut. Sosiolog berusaha mencari rasionalitas manusia yang melakukan tindakan;
Ketiga, Melihat individu dalam konteks sosialnya. Sosiolog percaya bahwa setiap tindakan manusia dibentuk oleh lingkungan yang melingkupi manusia itu. Contoh, email durkheim yang meneliti tentang fenomena bunuh diri. Lalu, apa yang dilakukannya? Jelas tidak mungkin mengorek informasi dengan cara melakukan wawancara terhadap orang yang sudah meninggal. Beruntunglah data statistik pada kantor kepolisian waktu itu cukup baik. Dari data itulah, ditambah dengan wawancara terhadap beberapa keluarga korban, Durkheim pun membangun salah satu teori sosiologi yang tetap relevan sampai sekarang tentang solidaritas sosial.
Yang paling membedakan sosiologi dengan disiplin ilmu sosial lain adalah kriteria berpikir sosiologis yang ketiga, melihat individu dalam konteks sosialnya. Pada dasarnya, segala tindakan manusia tidaklah murni muncul dari dirinya sendiri tetapi dikonstruksikan secara sosial (socially constructed). Contoh, motivasi setiap sepasang lelaki dan perempuan memutuskan untuk menikah tidak hanya ditentukan oleh alasan cinta semata, melainkan lebih ditentu-kan oleh faktor sosial, yaitu desakan dari orangtua atau tuntutan dari masyarakat sekitarnya (untuk kasus ‘kumpul kebo’ atau ‘perawan tua’). Bahkan, kesadaran pasangan suami-istri untuk punya anak pun tidak murni motif pribadi dari pasangan itu, akan tetapi telah terkonstruksi secara sosial. ‘Hubungan seks’ yang menurut anggapan banyak orang sebagai urusan privat masing-masing manusia dan dilandasi oleh insting individu ternyata tidak lepas dari konstruksi masyarakat. Lalu, bagaimana dengan tindakan sosial yang lain?
Sementara untuk modal-modal pertempuran sosial tentu berhubungan dengan kita harus tetap survive dalam medan (field) pertempuran sosial) seseorang perlu memiliki modal yang kuat. Pembicaraan tentang modal (capital) dalam sosiologi terus berkembang sejak Marx hanya mengartikan-nya sebatas sebagai kepemilikan atas alat-alat produksi. Konsep modal paling mutakhir ditawarkan Pierre Bordieu (1930-2002). Bourdieu menyebutkan empat modal yang membuat manusia bisa bertahan hidup dalam medan sosial, yaitu : pertama,  Modal ekonomi, kepemilikan atas alat-alat produksi, kedua, Modal sosial, kepemilikan atas jaringan atau relasi pertemanan, ketiga, Modal budaya, kepemilikan atas pengetahuan dan manner tertentu, keempat, Modal simbolik, hal-hal yang meng-utamakan kekuasaan simbolis untuk melegitimasi sesuatu hal.
Jelas, bahwa sosiologi tidak bisa menyediakan modal ekonomi, modal sosial, dan bahkan mungkin modal simbolik. Modal simbolik diberikan oleh pihak perguruan tinggi dalam bentuk gelar, Sarjana Sosial. Sosiologi hanya menawarkan sebagian modal budaya, yaitu melatih untuk berpikir sosiologis terhadap sebuah masalah. Itu pun kalau mahasiswa sosiolog mau berlatih untuk menggunakan-nya. Idealnya, profesi sosiolog adalah peneliti. Akan tetapi, struktur di Indonesia tidak terlalu mendukung kesejahteraan bagi pelaku di dunia penelitian. Akibatnya, sangat sedikit yang bertahan di bidang ini. Kemudian, banyak sarjana sosiologi yang misorientasi, mengalami krisis, bahkan frustasi.
Oleh karena itu, seorang mahasiswa sosiologi perlulah memperbanyak modal yang dimilikinya itu, khususnya modal sosial dan modal budaya. Modal sosial, seperti: perbanyak pertemanan (jangan hanya teman dari jurusan sosiologi saja, tapi juga dari disiplin lain), baik-baiklah dengan orang lain (kenalkan diri Anda), terlibat dalam organisasi (sebanyak mungkin), atau aktif mengikuti forum-forum diskusi yang ada. Modal budaya, seperti: kemampuan bahasa asing (Inggris, Jerman, Latin, Mandarin, Jepang dan lainnya), kebiasaan membaca dan menulis ilmiah maupun populer, penguasaan teknologi (komputer, internet, dan ponsel), kemauan untuk terus belajar, dan biasakan untuk selalu berpikir sosiologis ketika melihat masalah. Suatu saat, menurut Bourdieu, kedua modal tersebut akan lebih membantu seseorang bertahan hidup (survive) dibandingkan modal ekonomi dalam medan pertarungan sosial (field).
Jadi, apa pun profesi yang akan digeluti, jadikan kebiasaan berpikir sosiologis sebagai landasan mengembangkan profesi karena hanya itulah yang bisa diperoleh seseorang yang belajar sosiologi. Ada banyak ilmu yang mengambil manusia sebagai objek studinya. Ada kedokteran, biologi, filsafat, sastra, antropologi, pendidikan, sampai psikologi. Setiap disiplin itu menawarkan wawasan yang terbatas tentang kehidupan manusia. Namun, bukannya ingin sombong, tapi sosiologi menawarkan perspektif yang paling luas untuk melihat manusia (dan masyarakat), sehingga solusi penyelesaian masalah yang ditawarkan juga lebih banyak dan variatif.

Yang harus diingat, sosiologi ibarat ‘pisau yang membantu kita mengupas apel’. Sosiologi hanya alat untuk mempermudah kita menjelaskan sebuah peristiwa. Sosiolog harus secara konsisten dan kontekstual menggunakan ‘pisau’ itu, karena terkadang kita langsung menggigit apel, tanpa mengupasnya terlebih dahulu. Sebagai sosiolog, mana yang akan Anda pilih? Semoga dibaca, dan berkah tentunya. Sapen, UIN, 14-04-2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar