
Hal tersulit dalam mempelajari sosiologi bukanlah menghafalkan, memahami ataupunmenerapkan teori-teori atau paradigma sosiologi yang ada, melainkan bagaimana berpikir sosiologis ketika bertemu pada suatu masalah, apapun itu.
Makanya disini saya pagi ini meminjam istilahnya Macionis (1997) untuk menawarkan tiga kerangka berpikir sosiologis, yaitu:
Pertama, Melihat
keseluruhan melalui sebagian.
Berpikir sosiologis ibarat seorang ilmuwan mikrobiologi yang mengguna-kan
mikroskop dalam melihat DNA untuk mengetahui asal-usul seorang manusia. Jadi,
sosiolog tidak perlu melihat keseluruhan. Karena tidak mungkin kita akan
meneliti semua anggota masyarakat. Dalam metodologi cara berpikir macam ini
diturunkan menjadi teknik sampling. Cara melihat semacam ini jarang
dilakukan oleh disiplin lain. Antropologi, misalnya, hanya melihat pada
‘sebagian’ itu secara mendalam. Psikologi pun cenderung melakukan hal serupa.
Sosiologi berusaha melakukan generalisasi, inilah ciri khas sosiologi,
sekaligus kelemahannya;
Kedua, Melihat
keanehan-keanehan dalam kejadian sehari-hari. Seorang sosiolog akan melihat kejadian yang dianggap
biasa oleh orang kebanyakan sebagai hal yang aneh. Bagi awam, cara berpikir ini
bisa dikatakan sebagai tindakan iseng atau kurang kerjaan, namun bagi sosiolog
pemula cara inilah yang sering digunakan. Tugas sosiolog, kemudian, adalah
menggali lebih dalam tentang apa penyebab masalah sosial tersebut. Sosiolog
berusaha mencari rasionalitas manusia yang melakukan tindakan;
Ketiga, Melihat
individu dalam konteks sosialnya.
Sosiolog percaya bahwa setiap tindakan manusia dibentuk oleh lingkungan yang
melingkupi manusia itu. Contoh, email durkheim yang meneliti tentang fenomena bunuh
diri. Lalu, apa yang dilakukannya? Jelas tidak mungkin mengorek informasi
dengan cara melakukan wawancara terhadap orang yang sudah meninggal.
Beruntunglah data statistik pada kantor kepolisian waktu itu cukup baik. Dari
data itulah, ditambah dengan wawancara terhadap beberapa keluarga korban, Durkheim
pun membangun salah
satu teori sosiologi yang tetap relevan sampai sekarang tentang
solidaritas sosial.
Yang paling membedakan
sosiologi dengan disiplin ilmu sosial lain adalah kriteria berpikir sosiologis
yang ketiga, melihat individu dalam konteks sosialnya. Pada dasarnya,
segala tindakan manusia tidaklah murni muncul dari dirinya sendiri tetapi
dikonstruksikan secara sosial (socially constructed). Contoh, motivasi
setiap sepasang lelaki dan perempuan memutuskan untuk menikah tidak hanya
ditentukan oleh alasan cinta semata, melainkan lebih ditentu-kan oleh faktor
sosial, yaitu desakan dari orangtua atau tuntutan dari masyarakat sekitarnya
(untuk kasus ‘kumpul kebo’ atau ‘perawan tua’). Bahkan, kesadaran pasangan
suami-istri untuk punya anak pun tidak murni motif pribadi dari pasangan itu,
akan tetapi telah terkonstruksi secara sosial. ‘Hubungan seks’ yang menurut
anggapan banyak orang sebagai urusan privat masing-masing manusia dan dilandasi
oleh insting individu ternyata tidak lepas dari konstruksi masyarakat. Lalu,
bagaimana dengan tindakan sosial yang lain?
Sementara untuk modal-modal pertempuran sosial tentu berhubungan dengan
kita harus tetap
survive dalam medan (field) pertempuran
sosial) seseorang perlu memiliki modal yang kuat. Pembicaraan tentang modal (capital)
dalam sosiologi terus berkembang sejak Marx
hanya mengartikan-nya sebatas sebagai kepemilikan atas alat-alat
produksi. Konsep modal paling mutakhir ditawarkan Pierre Bordieu (1930-2002). Bourdieu
menyebutkan empat modal yang membuat manusia bisa bertahan hidup dalam medan
sosial, yaitu : pertama, Modal
ekonomi, kepemilikan
atas alat-alat produksi, kedua, Modal
sosial, kepemilikan
atas jaringan atau relasi pertemanan, ketiga, Modal budaya,
kepemilikan atas pengetahuan dan manner tertentu, keempat, Modal simbolik, hal-hal yang meng-utamakan
kekuasaan simbolis untuk melegitimasi sesuatu hal.
Jelas, bahwa sosiologi tidak bisa menyediakan
modal ekonomi, modal sosial, dan bahkan mungkin modal simbolik. Modal simbolik
diberikan oleh pihak perguruan tinggi dalam bentuk gelar, Sarjana Sosial. Sosiologi
hanya menawarkan sebagian modal budaya, yaitu melatih untuk berpikir
sosiologis terhadap sebuah masalah. Itu pun kalau mahasiswa sosiolog mau
berlatih untuk menggunakan-nya. Idealnya, profesi sosiolog adalah peneliti.
Akan tetapi, struktur di Indonesia tidak terlalu mendukung kesejahteraan bagi
pelaku di dunia penelitian. Akibatnya, sangat sedikit yang bertahan di bidang
ini. Kemudian, banyak sarjana sosiologi yang misorientasi, mengalami
krisis, bahkan frustasi.
Oleh karena itu, seorang
mahasiswa sosiologi perlulah memperbanyak modal yang dimilikinya itu, khususnya
modal sosial dan modal budaya. Modal sosial, seperti: perbanyak pertemanan
(jangan hanya teman dari jurusan sosiologi saja, tapi juga dari disiplin lain),
baik-baiklah dengan orang lain (kenalkan diri Anda), terlibat dalam organisasi
(sebanyak mungkin), atau aktif mengikuti forum-forum diskusi yang ada. Modal
budaya, seperti: kemampuan bahasa asing (Inggris, Jerman, Latin, Mandarin,
Jepang dan lainnya), kebiasaan membaca dan menulis ilmiah maupun populer,
penguasaan teknologi (komputer, internet, dan ponsel), kemauan untuk terus
belajar, dan biasakan untuk selalu berpikir sosiologis ketika melihat
masalah. Suatu saat, menurut Bourdieu,
kedua modal tersebut akan lebih membantu seseorang bertahan hidup (survive)
dibandingkan modal ekonomi dalam medan pertarungan sosial (field).
Jadi, apa pun profesi
yang akan digeluti, jadikan kebiasaan berpikir sosiologis sebagai
landasan mengembangkan profesi karena hanya itulah yang bisa diperoleh
seseorang yang belajar sosiologi. Ada banyak
ilmu yang mengambil manusia sebagai objek studinya. Ada kedokteran, biologi,
filsafat, sastra, antropologi, pendidikan, sampai
psikologi. Setiap disiplin itu menawarkan wawasan yang terbatas tentang
kehidupan manusia. Namun, bukannya ingin sombong, tapi sosiologi menawarkan
perspektif yang paling luas untuk melihat manusia (dan masyarakat), sehingga
solusi penyelesaian masalah yang ditawarkan juga lebih banyak dan variatif.
Yang harus diingat,
sosiologi ibarat ‘pisau yang membantu kita mengupas apel’. Sosiologi
hanya alat untuk mempermudah kita menjelaskan sebuah peristiwa. Sosiolog harus
secara konsisten dan kontekstual menggunakan ‘pisau’ itu, karena terkadang kita
langsung menggigit apel, tanpa mengupasnya terlebih dahulu. Sebagai sosiolog,
mana yang akan Anda pilih? Semoga dibaca, dan berkah tentunya. Sapen, UIN,
14-04-2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar