Translate this written according your language!

Rabu, 20 April 2016

"INILAH AKU" bukan “INILAH AYAHKU”




Kita semua tahu bahwa Indonesia, negeri yang kaya dengan corak nilai rasa, karya, dan karsa. Termanifestasi dalam setiap budaya, tradisi, dan adat istiadatnya. Semua itu, kini lambat laun mulai kehilangan subtansialnya. Semangat patriotisme dan optimistis pemuda tidak terasa lagi dalam semangat pemuda abad 21 ini. Akhirnya, bentangan panjang impian negeri yang aman, makmur, adil, dan sejahtera tidak kunjung terwujud di negeri ini. Realita ini bukanlah hal yang berjalan alami dan baik-baik saja (Natured). Guncangan perubahan ini terjadi tidak lepas dari by design dan control kolompok tertentu dengan akses kekuasaan dan kepentingan yang mereka miliki. Semua itu tidak lain adalah untuk melemahkan peran pemuda pada wilayah tertentu.  Dan apa yang menjadi perubahan akan perkembangan ini, sangat erat kaitannya dengan istilah Modernitas.
 
Modernitas seperti halnya suatu bambu runcing yang siap menancap pada target sasarannya tanpa memberikan kesadaran korban untuk melakukan penyerangan balik. Melalui modernitas kesadaran pemuda didikte, dikonstruk, dan dimanjakan dengan produk serba praktis, efektif, efisien dan sesuai dengan zaman. Dalam pemasarannya, proses produk yang ditawarkan tidaklah berdiri sendiri. Modernitas bekerja sama dengan media menanamkan idiologi kepentingan mereka yang telah direncanakan kepada pemuda. Media merupakan sarana paling tepat untuk mengkonstruk kesadaran masyarakat demi kepentingan produk modernitas. Melalui media seluruh masyarakat akan memiliki kesadaran yang sama untuk menggunakan produk-produk tersebut.
Perubahan drastic terjadi seiring dengan berkembangnya globalisasi tekhnologi informasi dan komunikasi. Pemuda sebagai bagian masyarakat seharusnya meiliki sikap kritis dan peka akan keadaan menjadi sosok yang apatis dan tidak peduli dengan keadaan masyarakatnya. Perihal tersebut dapat dikroscek dari perubahan pola pikir mereka yang memilih cara hidup praktis, sedikit kerja dan efisiensi waktu, dari pada menjadi sosok yang bersusah-susah dahulu untuk mendapatkan suatu yang diinginkan. Gaya hidup mereka dibalut dengan style glamour yang melunturkan rasa nasionalisme, hilangnya etos, dan idealisme, serta pada saat yang sama menyuburkan sikap konsumtif dan hedonisme pada diri mereka.
Pemuda berlomba-lomba mengikuti alur cerita yang dirangkai oleh modernitas dengan keinginan-keinginan yang membara. Bagai air yang mengalir tanpa adanya suatu kuasa bendungan, mengikuti trend, bukan untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan yang awalnya menjadi suatu kebutuhan sekunder, mereka ubah menjadi suatu kebutuhan primer. Ironisnya pengaruh doktrin modernitas yang bekerja sama dengan media ini, tidak cukup hanya menggejala pada kelas ekonomi menengah ke atas, namun menjadi suatu tuntutan pula pada ekonmi kelas menengah ke bawah. Akhir yang terjadi, pemaksaan diri untuk memiliki akan kebutuhan-kebutuhan yang di tawarkan oleh modernitas. Mereka memilih hidup dengan kebebasan dan kesenangan, tanpa tujuan. Mereka lepas contol akan eksistensi jati diri mereka yang terbalut dalam ciri khas bangsa dan budaya. Mereka lupa dengan semangat perjuangan dan cita-cita luhur para pendahulu mereka. Mereka pun semakin tidak bangga dengan negaranya sendiri. Pesatnya perkembangan teknologi dan media informasi memiliki andil besar dalam permasalahan ini.
Bukanlah pemuda yang mengatakan "inilah ayahku" Sesungguhnya pemuda adalah mereka yang berkata "inilah aku". Pemuda merupakan generasi penerus sebuah Bangsa, kader Bangsa, masyarakat dan keluarga. Pemuda selalu di identikan dengan perubahan (agen of cange). Betapa tidak, peran pemuda dalam membangun bangsa ini, dalam menegakkan keadilan, dalam menolak kekuasaan. Di dalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan Bangsanya. Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tidak kenal lelah yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa dan raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh pengorbanan untuk Bangsa dan Negara. Dalam sebuah pidatonya, Ir. Sukarno pernah mengobarkan semangat juang Pemuda. Apa kata Sukarno? "Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan Dunia". Begitu besar peranan pemuda di mata Sukarno. Lalu bagaimanakah dengan pemuda kini?. Apakah tugas dan semangat pemuda sekarang sudah mulai redup?  Dalam kacamata Negara dan Masyarakat seolah-olah pemuda sekarang malu untuk mewarisi semangat nasionalisime.
Kebanyakan orang berpikir saat masih muda mereka hanya menganggap tugas mereka adalah sekolah, bekerja dan menikah. Tapi apakah sesederhana itu dalam memandang dan menjalani hidup tanpa memikirkan apa yang sedang terjadi pada lingkungan sekitar, krisis moral, krisis ekonomi, dan berbagai krisis yang melanda bangsa ini. Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh pemuda, tidak sepantasnya bila ia hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap Bangsa dan Negaranya. Jangan pernah kita mengatakan kalau kita pemuda sedang kita hanya duduk-duduk, diam, menonton, dan menikmati kondisi tanpa mau peduli. Lalu apakah peran kita?
Jadi, pemuda diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh, memiliki kemampuan yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Ia merupakan harapan bangsa untuk masa depan. Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran tersebut ? Jawabannya tidak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai ilmu baik itu dari segi agama, ilmu pengetahuan dan sosial, serta merefleksikan berbagai kesalahan sejarah masa lalu untuk menentukan sejarah masadepan bangsa kita. Beberapa masukan Karakter kebudayaan bangsa merupakan elemen yang perlu diperkokoh melalui penguatan kualitas pemuda Indonesia agar pemuda dapat hidup mandiri dan menjadi pertahanan dari serangan budaya asing. Ia perlu memiliki jati diri, wawasan dan jiwa nasionalis-religius yang kuat, berjiwa patriotik, dan berkehidupan mandiri yang senantiasa berpegang teguh pada komitmen untuk tetap bersatu dan berdaulat di bawah naungan negara kesatuan Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar