Kita semua tahu bahwa Indonesia,
negeri yang kaya dengan corak nilai rasa, karya, dan karsa. Termanifestasi
dalam setiap budaya, tradisi, dan adat istiadatnya. Semua itu, kini lambat laun
mulai kehilangan subtansialnya. Semangat patriotisme dan optimistis pemuda
tidak terasa lagi dalam semangat pemuda abad 21 ini. Akhirnya, bentangan
panjang impian negeri yang aman, makmur, adil, dan sejahtera tidak kunjung terwujud di
negeri ini. Realita ini bukanlah hal yang berjalan alami dan baik-baik
saja (Natured). Guncangan perubahan ini terjadi tidak lepas dari by design dan
control kolompok tertentu dengan akses kekuasaan dan kepentingan yang
mereka miliki. Semua itu tidak lain adalah
untuk melemahkan peran pemuda pada wilayah tertentu. Dan apa yang menjadi perubahan akan
perkembangan ini, sangat erat kaitannya dengan istilah Modernitas.
Modernitas
seperti halnya suatu bambu runcing yang siap menancap pada target sasarannya
tanpa memberikan kesadaran korban untuk melakukan penyerangan balik. Melalui
modernitas kesadaran pemuda didikte, dikonstruk, dan dimanjakan dengan produk
serba praktis, efektif, efisien dan sesuai dengan zaman. Dalam pemasarannya,
proses produk yang ditawarkan tidaklah berdiri sendiri. Modernitas bekerja sama
dengan media menanamkan idiologi kepentingan mereka yang telah direncanakan
kepada pemuda. Media merupakan sarana paling tepat untuk mengkonstruk kesadaran
masyarakat demi kepentingan produk modernitas. Melalui media seluruh masyarakat
akan memiliki kesadaran yang sama untuk menggunakan produk-produk tersebut.
Perubahan drastic terjadi
seiring dengan berkembangnya globalisasi tekhnologi
informasi dan komunikasi. Pemuda sebagai bagian masyarakat seharusnya meiliki
sikap kritis dan peka akan keadaan menjadi sosok yang apatis dan tidak peduli
dengan keadaan masyarakatnya. Perihal tersebut dapat dikroscek dari perubahan
pola pikir mereka yang memilih cara hidup praktis, sedikit kerja dan efisiensi
waktu, dari pada menjadi sosok yang bersusah-susah dahulu untuk mendapatkan
suatu yang diinginkan. Gaya hidup mereka dibalut dengan style glamour
yang melunturkan rasa nasionalisme, hilangnya etos, dan idealisme, serta pada
saat yang sama menyuburkan sikap konsumtif dan hedonisme pada diri mereka.
Pemuda
berlomba-lomba mengikuti alur cerita yang dirangkai oleh modernitas dengan
keinginan-keinginan yang membara. Bagai air yang mengalir tanpa adanya suatu
kuasa bendungan, mengikuti trend, bukan untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan
yang awalnya menjadi suatu kebutuhan sekunder, mereka ubah menjadi suatu
kebutuhan primer. Ironisnya pengaruh doktrin modernitas yang bekerja sama
dengan media ini, tidak cukup hanya menggejala pada kelas ekonomi menengah ke
atas, namun menjadi suatu tuntutan pula pada ekonmi kelas menengah ke bawah.
Akhir yang terjadi, pemaksaan diri untuk memiliki akan kebutuhan-kebutuhan yang
di tawarkan oleh modernitas. Mereka
memilih hidup dengan kebebasan dan kesenangan, tanpa tujuan. Mereka lepas
contol akan eksistensi jati diri mereka yang terbalut dalam ciri khas bangsa
dan budaya. Mereka lupa dengan semangat perjuangan dan cita-cita luhur para
pendahulu mereka. Mereka pun semakin tidak bangga dengan negaranya sendiri.
Pesatnya perkembangan teknologi dan media informasi memiliki andil besar dalam
permasalahan ini.
Bukanlah pemuda yang mengatakan
"inilah ayahku" Sesungguhnya pemuda adalah mereka yang berkata
"inilah aku". Pemuda merupakan generasi penerus sebuah Bangsa, kader
Bangsa, masyarakat dan keluarga. Pemuda selalu di identikan dengan perubahan
(agen of cange). Betapa tidak, peran pemuda dalam membangun bangsa ini, dalam
menegakkan keadilan, dalam
menolak kekuasaan. Di dalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang
potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi
pembangunan Bangsanya. Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tidak kenal
lelah yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa dan raga menjadi
taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda
yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Bung Tomo dan
lain-lain dengan penuh pengorbanan untuk Bangsa dan Negara. Dalam sebuah
pidatonya, Ir. Sukarno pernah mengobarkan semangat juang Pemuda. Apa kata
Sukarno? "Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan Dunia".
Begitu besar peranan pemuda di mata Sukarno. Lalu bagaimanakah dengan pemuda
kini?. Apakah tugas dan semangat pemuda
sekarang sudah mulai redup? Dalam kacamata
Negara dan Masyarakat seolah-olah pemuda sekarang malu untuk mewarisi semangat
nasionalisime.
Kebanyakan orang berpikir saat masih
muda mereka hanya menganggap tugas mereka adalah sekolah, bekerja dan menikah.
Tapi apakah sesederhana itu dalam memandang dan menjalani hidup tanpa
memikirkan apa yang sedang terjadi pada lingkungan sekitar, krisis moral,
krisis ekonomi, dan berbagai krisis yang melanda bangsa ini. Berdasarkan
berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh pemuda, tidak sepantasnya
bila ia hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan
kontribusi terhadap Bangsa dan Negaranya. Jangan pernah kita mengatakan kalau
kita pemuda sedang kita hanya duduk-duduk, diam, menonton, dan menikmati
kondisi tanpa mau peduli. Lalu apakah peran kita?
Jadi, pemuda diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh, memiliki
kemampuan yang nantinya
dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Ia
merupakan harapan bangsa untuk masa depan. Lantas sekarang apa yang kita bisa
lakukan dalam memenuhi peran tersebut ? Jawabannya tidak lain adalah dengan
memperkaya diri kita dengan berbagai ilmu baik itu dari segi agama, ilmu
pengetahuan dan sosial, serta
merefleksikan berbagai kesalahan sejarah masa lalu untuk menentukan sejarah masadepan
bangsa kita. Beberapa masukan Karakter kebudayaan bangsa merupakan
elemen yang perlu diperkokoh melalui penguatan kualitas pemuda Indonesia agar pemuda dapat hidup mandiri dan menjadi pertahanan
dari serangan budaya asing. Ia perlu memiliki
jati diri, wawasan dan jiwa nasionalis-religius yang kuat, berjiwa patriotik,
dan berkehidupan mandiri yang senantiasa berpegang teguh pada komitmen untuk
tetap bersatu dan berdaulat di bawah naungan negara kesatuan Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar