Translate this written according your language!

Sabtu, 30 April 2016

MENGUNJUNGI ANGKRINGAN "POSTMO" ?

Saya menyebut istilah "Posmodernisme" itu semacam hantu, bisa saja, nama posmo di taruh di berbagai materi termasuk angkringan posmo, lalu apa itu mengunjugi angkringan posmo itu sendiri ? kalau saya berpendapat namanya mengunjungi, ya semacam mengenalkan, mengantarkan, ya refleksi posmodernisme hari ini. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh soal angkringan, tapi lebih pada pengantar apa itu posmodernisme. Orang bisa ngotot menganggapnya tidak ada dan omong kosong. Meskipun orang bisa juga bersikukuh menganggapnya kenyataan paling real hari ini. Orang bisa bilang bahwa itu mode intelektual yang sudah mati, atau malah keguguran sebelum lahir. Akan tetapi, bisa juga sebaliknya: paradigma yang baru saja lahir dan sedang berkembang kini. Istilah itu menyandang demikian banyak nuansa yang campur aduk, sehingga argumentasi apa pun sepertinya bisa saja diterima.

Istilah "Posmodernisme" bisa menunjuk pada berbagai arti yang berbeda, bisa berarti : aliran pemikiran filsafati, pembabakan sejarah (erat terkait pada pergeseran paradigma); ataupun sikap dasar etos tertentu. Masing-masing membawa konsekuensi logis yang berbeda, meskipun bisa saling berkaitan juga. Apabila yang kita maksudkan adalah aliran fllsafat, maka ia menunjuk terutama pada gagasan-gagasan J.F. Lyotard, yang paling eksplisit menggunakan istilah itu. Namun bila yang kita maksud adalah babakan sejarah baru yang meninggalkan kerangka berpikir modern ("Pos" modern), maka mereka yang paling sibuk memetakannya adalah Charles Jeneks, Andreas Huysen, David Harvey dan lain-lain.
 Di sini orang bisa berdebat dengan sangat nyinyir kapan persisnya terjadi pergeseran paradigma besar-besaran dan apa persis yang bergeser itu sehingga bisa menyebut zaman ini "post" modern. Jangan-jangan segala pergeseran itu justru radikalisasi dan segala kecenderungan modern sendiri, sehingga alih-alih "post", semua gelagat itu mesti disebut "most" : most-modern. Pada titik inilah kita mesti mendudukan berbagai wacana dan orang-orang macam Habermas, Anthony Giddens, Ernest Geliner dan lain sebagainya. Akan tetapi, bila Posmodernisme kita artikan dalam arti luas, yakni sebagai segala bentuk "sikap dasar" (etos) yang mencoba kritis terhadap pola pikir dan prinsip-prinsip modernisme, maka tiba-tiba "Posmodernisme" mencakup wilayah isi, aliran filsafat dan tokoh yang amat luas. Ia menjadi istilah-payung yang memayungi demikian beragam gelagat di berbagai bidang, bahkan yang saling bertentangan sekalipun. Celakanya, karena bisa berisi apa pun orang lantas juga menganggap istilah itu kosong tanpa isi. Dan istilah "posmo" menjadi bahan olok-olok untuk apa pun yang tidak lazim, ganjil, bahkan tidak senonoh. Ia menjadi karikatur. Maka tak usah heran bila tiba-tiba "Posmo" menjadi nama sebuah tabloid kienik. Adalagi posmo tiba-tiba menjadi “Angkringan Posmo”, Dan bisa saja ada warung bakso atau situs-situs yang bernama "Posmo" juga.
Tulisan ini cenderung berbicara tentang arti yang ketiga itu, yakni posmodernisme sebagai segala bentuk sikap kritis terhadap pola pikir dan prinsip-prinsip modernisme. Saya kira sulitlah disangkal bahwa hari-hari ini memang bermunculan demikian banyak kecenderungan kritis baru, yang pada titik-titik tertentu toh memaksa kita memahami kemodernan secara berbeda. Dan ini tidak hanya mencakup satu dua aliran pemikiran. Ia mencakup demikian banyak gejala yang sangat kompleks di segala bidang. Menganggap segala istilah "the end" yang heboh bermunculan dalam begitu banyak bidang hari-hari ini (The end of philosophy, of ideology,of science, of histoiy, of art, of nation-state, etc.etc.) sekadar sebagai kelatahan modis belaka rasanya terlalu simplistik dan menunjukkan kekurangpekaan yang serius.
Sebagai istilah-payung memang posmodernisme dalam arti luas ini bisa terasa kosong, bisa diisi apapun juga. Akan tetapi barangkali ia mesti dilihat ibarat keranjang besar, kosong, meskipun keranjangnya ada. Dan itu sebetulnya sama saja dengan istilah "modern" sendiri, yang juga bisa diisi apapun juga. Orang bisa menyebut teknologi modern, pola pikir modern, pesantren modern, bahkan gaya cukuran modern atau gudeg modern,dst. Dan orang bahkan bisa menyebut berbagai aliran filsafat yang satu sama lain saling bertentangan macam rasionalisme, empirisme, materialisme dan idealisme, semua sebagai filsafat "modern", alias berada dalam satu keranjang yang sama. Artinya, keranjangnya toh ada. Ada kecenderungan-kecenderungan dasar yang sama.
Beberapa kecenderungan dasar umum posmodernisme yang bisa dianggap sebagai kerangka keranjang, misalnya: Pertama, Kecenderungan menganggap segala klaim tentang "realitas" ( diri subyek, sejarah, budaya, Tuhan, dsb.) Sebagai konstruksi semiotis, artifisial dan ideologis; kedua, Skeptis terhadap segala bentuk keyakinan tentang "substansi" objektif (meski tidak selalu menentang konsep tentang universalitas); Ketiga, Realitas bisa ditangkap dan dikelola dengan banyak cara dan sistem (pluralisme); Keempat, Paham tentang "sistem" sendiri dengan konotasi otonom dan tertutupnya cenderung dianggap kurang relevan, diganti dengan "jaringan", "relasionalitas" ataupun "proses" yang senantiasa saling-silang dan bergerak dinamis; Kelima, Dengan begitu cara pandang yang melihat segala sesuatu dan sudut oposisi biner pun (either-or) dianggap tak lagi memuaskan; segala unsur ikut saling menentukan dalam interaksi jaringan dan proses (maka istilah "postmodernisme" sendiri pun mesti dimengerti dalam interrelasinya dengan "modernisme", alih-alih melihatnya sebagai oposisi); Keenam, Melihat secara holistik berbagai kemampuan (faculties) lain selain rasionalitas, misalnya: emosi, imajinasi, intuisi, spiritualitas, dsb.; serta Ketujuh, Menghargai segala hal "lain" (otherness),yang lebih luas, yang selama ini tidak dibahas atau bahkan dipinggirkan oleh wacana modern (Kaum perempuan, tradisi-tradisi lokal, paranormal, agama, sehingga segala hal dan pengalaman yang selalu mengelak dan pola rumusan kita).
Akan tetapi, keluasan memang berarti juga kekaburan. lnilah memang masalahnya: kekaburan istilah "posmodern" sebagian besar adalah karena kekaburan istilah "modern" itu sendiri. "modern" dalam arti mana yang dikritik "posmodernisme" itu. Berbagai kekisruhan dalam menempatkan tokoh mana dijalur mana berakar pada persoalan itu. Artinya, kendati posmodernisme bisa dicanangkan prinsip-prinsip dasarnya yang sama, yang membuatnya bisa mencakup demikian banyak aliran - toh selalu bisa juga dilihat perbedaan-perbedaannya pada tingkat rincian-rincian. Dan sudut ini, Foucault misalnya bisa dilihat baik sebagai salah satu tokoh posmodern sekaligus juga tokoh modern, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.
Betapapun istilah “Postmodern” mempunyai beragam makna. Hal ini dapat diidentifikasi pada awalan kata “post” dalam istilah postmodern. Tidaklah dapat dipastikan apakah maknanya adalah kelanjutan dari, reaksi/kritik terhadap, revolusi menentang, dekonstruksi dari perpecahan dengan keterputusan dari, atau persimpangan dengan modern. Tidak ada konsensus dari para pemikir tentang makna ini. Oleh karenanya usaha dan harapan untuk mendefinisikan postmodern dengan makna tunggal dan bersifat pasti adalah sebuah kesia-siaan belaka.
Sekalipun demikian, terbentuknya teori postmodern dapat ditelusuri dalam kondisi modernitas yang merupakan hasil pencerahan (Aufklarung). Hakikat peralihan era modern menuju postmodern amat disaratkan permasalahan-permasalahan filosofis. Berkaitan permasalahan-permasalahan filosofis ini, khususnya secara epistemologis. maka terbentuknya teori postmodern tak dapat dilepaskan dari konflik dan kritiknya terhadap kondisi modernitas. Perkembangan dunia modern barat teridentifikasi sejak periode renaissance (kelahiran kembali: menangnya rasio manusia atas kepercayaan keagamaan abad pertengahan atau dogma  gereja) di Eropa. Tahap ini merupakan awal berkembangnya sains dan teknologi, perluasan dan ekspansi perdagangan, serta perkembangan wawasan modern tentang humanisme yang bersumber pada pemikiran filosofis Rene Descartes yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan rasional dengan memfungsikan akal melalui bantuan metode rasio yang termaktub dalam semboyannya cogito ergo sum (‘aku’ berpikir, maka ‘aku’ ada). ‘aku’ yang dimaksudkan Descartes adalah ‘aku’ sebagai subjek yang rasional dan terbebas dari belenggu dogmatisme. Inilah wujud awal kemandirian dan kebebasan rasio dalam rangka pemecahan permasalahan-permasalahan kehidupan manusia sekaligus sebagai tantangan atas kepercayaan keagamaan abad pertengahan.
Perkembangan selanjutnya disebut tahap pencerahan (aufklarung) Eropa. Pada tahap inilah proses penyempurnaan kumulatif kualitas subjektifitas dengan segala kemampuan objektif akal budi manusia kian berkembang dalam mencapai tingkatan kemajuan (proggressifitas) yang terlepas dari nilai-nilai mitos dan spirit ketuhanan. Proses ini kian berkembang dan mencapai momentumnya melalui landasan filosofis yang digagas oleh Auguste Comte tentang positivisme yang membangun fondasi pengetahuan dan kebenaran mutlak yang diklaim berstatus ilmiah sebagai jaminan  sistem filsafat modern. Di lain pihak, terbentuknya “teori postmodern” amat dipengaruhi kondisi perkembangan intelektual di Prancis sekaligus perkembangan paling krusial “teori postmodern” yang merupakan semangat zaman kini. Kondisi intelektual Prancis pasca Perang Dunia II didominasi oleh aliran Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, serta usaha-usaha untuk menyintesakannya. Namun pada tahun 1960-an aliran-aliran ini digantikan oleh wacana Strukturalime berorientasi linguistik dan Psikoanalisa Lacan yang mengembangkan konsep-konsep baru bahasa, teori, subjektifitas, dan masyarakat. Pada tahun ini pula Strukturalisme menjadi mode filosofis di Prancis, karena di Prancis tidak saja terdapat mode di bidang adibusana (fashion eksklusif) melainkan juga di bidang intelektual (filsafat).
Para strukturalis berusaha menerapkan konsep-konsep struktural linguistik dalam sains manusia yang mereka gunakan untuk membentuk kembali dasar atau landasan yang lebih kuat. Misalnya, Claude Levi-Strauss yang menerapkan analisa linguitik terhadap kajian sosial mitologi, sistem kekerabatan atau kekluargaan, dan fenomena antropologis lainnya. Dari sini dapat dipahami bahwa, analisa struktural memfokuskan pada aturan-aturan dasar yang mengorganisasi fenomena sistem sosial, menganalisa hal-hal seperti praktik-praktik totemik dalam pembagian antara yang profan dan yang sakral dalam masyarakat tradisional. Analisa struktural ini ditujukan pada objektifitas, koherensi, kebenaran serta mengklaim status Ilmiah teori-teori ini yang akan dimurnikan dari penilaian dan pengalaman subjektif manusia. Inilah kritik strukturalis yang berkeinginan menghapus konsep subjek yang mendominsai tradisi filsafat yang berasal dari Descartes sampai Sartre.
Perkembangan selanjutnya terjadi pada akhir tahun 1960 dan 1970-an sebagai perkembangan teori postrukturalisme yang mengecam konstruksi yang dikonsepsikan para strukturalis yang menerapkan analisa struktural dalam sains manusia dan fenomena sosial. Karena penerapan analisa struktural tersebut merupakan pembentukan sekaligus pembunuhan subjektifitas manusia melalui sistem bahasa yang lepas dari kondisi historisnya. Bagi mereka hal ini terjadi karena para strukturalis masih mengikuti asumsi humanis dan wacana hasil pencerahan, sehingga mereka cenderung menaati aturan-aturan lama yang mengandaikan ‘struktur’ maupun ‘bahasa’ berada dalam sebuah sistem keteraturan tertutup. Sedangkan bagi para postrukturalis pengertian tentang struktur dan bahasa harus dipahami sebagai sesuatu yang terbuka dan jauh dari ketepatan dan tidak dapat diberlakukan secara universal.
Postrukturalisme inilah yang membentuk acuan teori posmodern. Ketika dobrakan teoritis digambarkan sebagai posmodern yang langsung terkait dengan kritik-kritik postrukturalis, kita akan menginterpretasikan postrukturalisme sebagai sebuah rangkaian rentang luas dari kecenderungan teoritis, kebudayaan dan sosial yang membentuk wacana-wacana postmodern. Yang pasti teori postmodern menyesuaikan kritik postrukturalis, meradikalisasinya dan memperkembangkannya dalam bidang-bidang teoritis baru. Motor penggerak teori postmodern terletak pada semangat mendekonstruksi segala hal yang berbau ketepatan/kepastian. Hal ini dikarenakan  teori modern berusaha menghasilkan ‘fondasi pengetahuan’ dan ‘kebenaran absolut’ yang diklaim mempunyai status ilmiah dan berlaku objektif, universal, serta merupakan kendaraan menuju kemajuan dan emansipasi. Bagi mereka rasionalitas, institusi, dan subjektifitas modern merupakan sumber konstruksi dominasi yang dilakukan melalui penyebaran dan perbaikan pada seluruh bidang kehidupan manusia. Sehingga mereka berusaha melupakan atau bahkan meruntuhkan proyek modernitas yang dianggap telah kehilangan daya kritis dan utopisnya.
Dari sini dapat dipahami bahwa, teori postmodern menolak penggabungan atau totalisasi model-model teori seperti mitos-mitos pencerahan rasionalis yang bersifat reduksionis dan mengaburkan sifat diferensial dan plural dalam bidang kehidupan manusia. Dengan demikian cita-cita humanisme modern tak lain adalah alienasi dan terbentuknya subjek-subjek fasis, entah berskala individual maupun sosial. Inilah beberapa hal yang mendasari para postmodernis memuncuklan ketidakseragaman, diferensiasi dan entropi sebagai penangkal model-model teori dan rasionalitas modern represif. Rumah peradaban, Yogyakarta





Tidak ada komentar:

Posting Komentar