Topik pagi ini
tentang Pendidikan kritis sebagaimana tokoh-tokoh yang juga mengkaji topik
Pendidikan Kritis ini adalah : Poule
Freire, Mansour Fakih, Prof. Dr. Ahmad Tilaar dan lain-lain. Pendidikan kritis melalui pendidikan seolah-olah tidak ada habisnya
untuk diperbincangkan oleh para pemikir pendidikan hingga saat ini. Dan topik itu sendiri hingga
menjalar kedalam pendidikan ditanah air. Jika diamati lebih dalam, saya kira tidak
lebih dari apa yang disebut dengan pabrik intelektual. Sedangkan hakikat
pendidikan seutuhnya seakan terabaikan begitu saja. Mengidentifikasikan bahwa
dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai sejatinya.
Digantikan dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin
serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya
terletak pada pembentukan watak dan wawasan para intelektual kita yang hanya
terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam
kehidupan bermasyarakat.
Asumsi itu tidak lain didasarkan adanya beragam fakta
yang menunjukkan bahwa di segala jenjang dan bidang kehidupan di negeri ini
mengalami krisis filosofi hidup. Mereka yang terdidik justru menjadi koruptor
sedangkan mereka yang tidak terdidik malah menjadi maling. Ada pula golongan
yang kebingungan, lalu menjadi tukang pengisap sabu-sabu dan terjerumus pada
narkoba. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan
individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalahan
sosial di lingkungan sekitarnya. Dalam pusaran arus globalisasi misalnya,
kenyataan di lapangan memperlihatkan pendidikan kita juga belum mampu
menciptakan peserta didik yang kritis dan memiliki kemampuan dalam menghadapi
tantangan global yang kian menindas dan mencengkram. Dalam keadaan inilah
pendidikan mestinya tidak bebas nilai, sebaliknya pendidikan haruslah
berkepentingan. Kepentingan-kepentingan untuk melahirkan calon-calon penerus
bangsa ini yang mampu menghadapi segala tantangan yang akan dihadapi bangsa ini
di masa mendatang.
Pendidikan kritis transformatif pada dasarnya adalah
model pendidikan yang bersifat kooperatif. Memberikan ruang pada segenap
kemampuan peserta didik menuju proses berpikir yang lebih bebas dan kreatif.
Sebuah model pendidikan yang menghargai potensi yang ada pada setiap
individu-indvidu anak didik. Bentuk pendidikan yang memiliki arah dan tujuan
keluar dari kemelut dan problematika internal maupun eksternal yang dihadapi
oleh dunia pendidikan nasional.
Dalam pendidikan kritis transformatif, ilmu pengetahuan
adalah sesuatu yang dikomunikasikan oleh makna narasi atau yang disebut dengan
grand narasi. Grand narasi adalah sesuatu yang diklaim sebagai suatu teori yang
dapat menjelaskan segala sesuatunya. Konsep pendidikan seperti ini akan
membentuk peserta didik sebagai subjek yang akan menentang adanya struktur
hierarki ilmu pengetahuan. Secara ontologis pendidikan pada hakikatnya adalah
manusia, sebab ia merupakan hasil pemikiran untuk manusia guna mencapai
aktualisasi diri di dunia. Sebagai produk pemikiran manusia, pendidikan
bersifat relatif dan sangat tergantung pada kemampuan dan kualitas perumusnya.
Di sisi lain, secara epistemologis sebaik apapun hasil
pemikiran manusia tentang pendidikan bersifat relatif, sebab ia sangat
tergantung pada konteks sosial dan tingkat pengalaman dan pengetahuan manusia,
sementara manusia sendiri bersifat terbatas. Dengan pemahaman ini tidak ada
alasan untuk men fix kan hasil pemikiran manusia di masa lalu yang dianggap
baku dan statis, sebab ketika realitas yang dibatasi ruang dan waktu berubah
dan berbeda, maka respon manusia juga harus berubah jika tidak ingin stagnan. Sebenarnya
berbicara tentang persoalan pendidikan sama halnya membicarakan tentang
kehidupan manusia, sebab pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap
individu menuju ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi kemanusiaannya.
Selain itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses
memanusiakan manusia (humanizing human being). Karena itu, semua treatment yang
ada dalam praktek pendidikan mestinya selalu memperhatikan hakikat manusia
sebagai makhluk yang unik dan multidimensional, baik sebagai makhluk Tuhan
dengan fitrah yang dimiliki, sebagai makhluk individu yang khas dengan berbagai
potensinya, dan sebagai makhluk sosial yang hidup dalam realitas sosial yang
majemuk. Untuk itu, pemahaman yang utuh tentang karakter manusia harus
dilakukan sebelum proses pendidikan dilaksanakan.
Namun demikian, dalam realitasnya banyak praktek
pendidikan yang tidak sesuai dengan misi di atas. Dalam prakteknya, pendidikan
tidak berfungsi sebagai proses transformasi pada diri peserta didik dan
masyarakat. Bahkan, praktek pendidikan seringkali menjadi biang terjadinya
problem sosial. Hal ini antara lain dapat dilihat dari adanya kenyataan bahwa
proses pendidikan yang ada cenderung berjalan monoton, indoktrinatif,
teacher-centered, top-down, sentralistis, mekanis, verbalis, kognitif, dan misi
pendidikan telah misleading. Tidak heran jika ada kesan bahwa praktek dan
proses pendidikan Islam steril dari konteks realitas, sehingga tidak mampu
memberikan kontribusi yang jelas terhadap berbagai problem yang muncul. Praktek
pendidikan Islam yang dianggap misleading ini merupakan bukti bahwa belum ada
pemahaman yang memadai tentang konsep dan implementasi pendidikan Islam dalam
era kontemporer. Pendidikan Islam banyak mengalami reduksi, baik dari aspek
makna maupun prakteknya.
Tidak berdayanya (powerlessness) pendidikan Islam
tersebut menjadi keprihatinan bersama, mulai dari pakar dan praktisi pendidikan
di lembaga pendidikan formal, tokoh masyarakat hingga orang tua di rumah.
Pendidikan (khususnya agama) dianggap tidak cukup efektif memberikan kontribusi
dalam penyelesaian masalah. Bahkan, ia menjadi part of the problem. Karena itu,
banyak gagasan muncul tentang perlunya melakukan reinterpretasi dan
reorientasi, termasuk melakukan perubahan paradigma dari praktek pendidikan
yang selama ini berjalan.
Perubahan paradigma tersebut antara lain berkaitan
tentang pendidikan yang harus diselenggarakan dengan pendekatan akademis, bukan
birokratis, pendidikan harus berorientasi mencetak peserta didik bermental
mencari ilmu, bukan menunggu ilmu, peserta didik harus dididik mencadi orang
aktif, bukan pasif, pendidikan harus berorientasi pada peserta didik
(student-oriented), bukan pendidik atau negara (teacher and state-oriented),
manusia harus dilihat secara antroposentris yang teosentrik, bukan hanya
antroposentris, pengelolaan pendidikan tidak boleh sentralistis, tapi harus
desentralistis, pendidikan agama tidak boleh disampaikan secara dogmatis saja,
dan pendidikan harus bersifat inklusif, integralistik dan holistik.
Yang jelas, pola pendidikan Islam yang selama ini
berjalan harus dilakukan pergeseran atau perubahan menjadi pola lain yang lebih
membumi terhadap realitas empirik. Ini berarti perlu melakukan transformasi
dari the existing education ke the other new and better one Terma
transformasi dalam tulisan ini mengimplikasikan perlunya melakukan pergeseran
dari pola pendidikan Islam konvensional, menjadi pola baru yang mampu menjawab
tantangan zaman. Hanya saja, perubahan ini tidak akan berjalan efektif jika
dilakukan secara ad hoc dan fragmental, namun harus secara integrated dan
holistik, dalam arti bahwa peninjauan harus dilakukan secara menyeluruh
terhadap aspek-aspek dalam pendidikan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk
memberikan ulasan secara utuh dan instant terhadap persoalan perubahan
paradigma pendidikan, namun hanya sebagai bahan diskusi untuk mengurai benang
kusut problem pendidikan Islam, khususnya yang ada di Indonesia.
Beberapa uraian di atas paling tidak dapat dijadikan
sebagai bahan kajian selanjutnya bahwa pendidikan dalam Islam harus bersifat
dinamis, ia merupakan upaya yang dilakukan secara sadar untuk melakukan
perubahan pada diri individu dan merombak tatanan masyarakat yang menyimpang.
Karena itu, gagasan untuk merubah pola pendidikan konvensional menuju bentuk
baru yang transformatif harus dilakukan secara serius. Sampai jumpa besok,
semoga kita selalu terus istiqomah dalam membaca dan menulis. Sekian. UGM,
Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar