Kali ini saya akan sedikit
menjelaskan bagaimana isi dari buku ini, bahwa penelusuran kembali pemikiran
pendidikan di kalangan umat Islam memang amat diperlukan, Karena hal ini
setidaknya mengingatkan kembali khazanah intelektual yang pernah dimiliki oleh
umat Islam di masa lalu. Pasang surut perjalanan pemikiran kependidikan Islam,
tidak akan pernah lepas dari interaksi akumulasi dengan peradaban-peradaban di
sekitar perkembangan Islam waktu itu. Dimana perkembangan pemikiran
kependidikan lebih dijiwai oleh semangat normatif dan historis. Dikatakan
semangat normatif karena perkembangan pemikiran kependidikan dijiwai oleh
ajaran dasar yang sumbernya Al-Qur‘an dan hadits. Sedangkan semangat historis
adalah merupakan ujud respon terhadap berbagai persoalan hidup umat Islam di
berbagai bidang kehidupan.
Sesuai dengan catatan sejarah,
bahwa perkembangan pemikiran kependidikan Islam diawali pada saat Dinasti
Abbasiyah yang mengalami renaissance, sehingga berakibat pemikiran
kependidikan Islam nampak mengalami titik kulminasi. Sedang titik baliknya
terjadi pada masa-masa dimana pemikiran-pemikiran para ilmuan Islam, sebagian
besar mengalami kemandegan (stagnation) sampai abad ke-14 yaitu munculnya Ibn
Khaldun. Hal ini dikarenakan sejak pada masa Nabi Muhammad Saw. sampai pada
masa dinasti Umayyah ilmu pengetahuan belum berkembang pesat, dan masih
terpusat pada usaha pemenuhan kebutuhan untuk memahami prinsip-prinsip ajaran
Islam sebagai pedoman hidup yang waktu itu secara langsung telah dijawab dan
diselesaikan oleh Nabi. Sedangkan pada masa Khulafa al-Rasyidindan dinasti
Umayyah lebih banyak disibukkan dengan pemecahan masalah politik dan perluasan
wilayah Islam, dan belum sempat menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Sehingga bisa dibilang pada masa-masa itu patron ilmu pengetahuan belum
dimiliki oleh umat Islam. Baru setelah zaman Abbasiyah ilmu pengetahuan dalam
berbagai disiplin berkembang.
Awal perkembangannya dimulai dari
perkenalannya dengan budaya helenisme, kemudian penerjemahan karya-karya
klasik, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, Syria, Sinkrit, dan bahasa
Pahlevi ke dalam bahasa Arab yang berlangsung dari tahun 750-900 M, sejak masa
Al-Mansyur (754-775 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), dan sampai puncaknya pada
masa Al-Makmun (813-833 M). Abad-abad ini merupakan abad penerjemahan yang
meletakkan tonggak abad aukflarung Islam kawasan Timur, dan bertahan
hingga melampaui abad kesepuluh dan kesebelas (Mehdi Nakosteen, 1996: 208).
Walaupun setelah itu, ada gejala penurunan, akan tetapi sampai abad ketiga
belas perkembangan ilmu pengetahuan masih ada dan baru benar-benar
mengalami stagnasi setelah penghancuran total oleh Hulagu Khan (1258 M)
yang juga diikuti oleh jatuhnya orang-orang Muwahid di Spanyol (1268 M). Kalau
kita cermati dimasa kemunduran itu sesungguhnya masih muncul ilmuan muslim
yaitu Ibn Khaldun (1332-1406 M) sebagai ahli teori sejarah. Sejak inilah stagnation betul-betul
terjadi dan ditandai lagi dengan jatuhnya dunia Islam ke tangan Kolonial Eropa,
yang mengakibatkan ilmu Islam terbatas pada ilmu agama dan muncullah sekuler.
Baru pada abad ke-19 atau abad
kebangkitan Islam mulai ada respons terhadap ilmu-ilmu pengetahuan modern dan
termasuk filsafat walaupun ada sikap-sikap yang antagonistik dan akomodatif.
Dengan munculnya pelopor modernisasi di dunia Islam yaitu Sayyid Khan
(1817-1898 M), orang India yang pertama meyakini perlunya penafsiran baru
terhadap Islam, yaitu penafsiran bebas modern dan maju (Busthami M. Said, 1992:
119). Bahkan menimbulkan gejala yang sering ditunjukkan oleh pengamat Barat
baik secara netral, tidak senang maupun rasa takut, akan gejala kebangkitan
Islam. Naluri manusia untuk selalu ingin tahu itulah yang menjadikan pangkal
tolak perkembangan ilmu pengetahuan (Ismail Raji al-Faruqi, 1984: 35).
Pemikiran kependidikan Islam mulai muncul, kendatipun masih dalam bentuk
“embrionik”, dan berkembang hingga dewasa ini.
Buku berjudul Jejak Pemikiran
Tokoh Pendidikan Islam. Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, studi dan
penelitian buku ini dilakukan dengan tujuan mengelaborasi dan menjelaskan
mengenai konsep pendidikan yang dilontarkan para pemikir-pemikir pendidikan di
kalangan umat Islam. Buku Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, mengungkapkan
pokok-pokok pemikiran pendidikan Islam sejak permulaannya, pada masa Nabi
Muhammad Saw., sampai pada masa pembaruan pendidikan yang dilakukan setelah
masa Nabi Muhammad Saw., yaitu masa Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayyah, Bani
Abbasiyah, dan seterusnya, juga hasil para pemikir pendidikan Islam terkemuka
seperti Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan lain-lain. Ditambah lagi, hasil pemikiran
para tokoh dari tanah air yang tidak sedikit juga ikut andil memberikan
kontribusinya dalam bidang pendidikan, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim
Asy‘ari, Basiuni Imran (Tokoh dari Sambas, Kalimantan Barat), dan lain-lain.
Penelusuran kembali pemikiran
pendidikan di kalangan umat Islam memang amat diperlukan. Karena hal ini
setidaknya mengingatkan kembali khazanah intelektual yang pernah dimiliki oleh
umat Islam di masa lalu. Kesadaran historis ini pada gilirannya akan memelihara
kesinambungan atau kontinuitas keilmuan khususnya dalam kajian tentang
pendidikan Islam. Pemikiran-pemikiran kependidikan dalam Islam dan pemikiran
para tokoh dalam bidang pendidikan ini juga bisa dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam mengambil keputusan atas kebijakan sesuai dengan kondisi
zaman saat ini, sehingga hasil atau pokok-pokok pikiran para ahli ini patut
dikaji kembali dalam rangka membenahi sistem pendidikan Islam, terutama di negeri
Indonesia tercinta ini. Sampai jumpa besok. De Kandhang, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar