Translate this written according your language!

Selasa, 17 Mei 2016

ILMU PENGETAHUAN BARAT PERLU DI DEKONSTRUKSI SAYED HUSEN NASR


Judul Buku      : Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syeh M. Naquib Al-Attas
Pengarang       : Wan Mohd Nor Wan Daud
Penerbit           : Mizan Pustaka
Tahun Terbit    : 2003
Kota Terbit      : Bandung
Tebal Buku      : 552 Halaman
Berbicara Islamisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam Islam sudah diperdebatkan sejak Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam di Makkah pada 1977. Tetapi sayangnya tidak ada usaha serius untuk melacak sejarah gagasan dan mengkaji atau mengevaluasi sejumlah persoalan pokok yang berkenalan dengan topik ini pada tingkat praktis. Gagasan Islamisasi sebenarnya berangkat dari asumsi bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai atau netral. Betapapun diakui pentingnya transfer ilmu Barat ke Dunia Islam, ilmu itu secara tidak terelakkan sesungguhnya mengandung nilai-nilai dan merefelksikan pandangan dunia masyarakat yang menghasilkannya, dalam hal ini masyarakat Barat.

Sebelum diajarkan lewat pendidikan, ilmu tersebut harus ditapis terlebih dahulu agar nilai-nilai yang bertentangan secara diametral dengan pandangan-dunia Islam bisa disingkirkan. Gagasan islamisasi, dengan demikian, merupakan upaya dekonstruksi terhadap ilmu pengetahuan Barat untuk kemudian direkonstruksi ke dalam sistem pengetahuan Islam. Buku ini mengupas secara detail persoalan islamisasi ilmu dan pendidikan di Dunia Islam sebagaimana digagas dan dipraktekkan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas, salah seorang pemikir Muslim kontemporer yang sangat menonjol. Penulis buku ini menempatkan Al-Attas sebagai konseptor awal tentang gagasan islamisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan. Topi-topik penting yang dibicarakan daklam buku ini meliputi:
Pandangan-dunia Islam tentang ilmu dan pendidikan Pengetahuan dan cara mengetahui Pengertian, muatan, dan metode pendidikan Konsep dan relitas universitas Islam Sejarah serta persoalan islamisasi ilmu sekarang ini, dan Pemikiran intelektual Muslim tentang ilmu, pendidikan, dan problem ilsmisasi, seperti dirumuskan oleh Muhammad 'Abduh,Iqbal, Al-Faruqi, Fazlur Rahman, dan Seyyed Hossein Nasr. Buku ini sangat berguna, tidak saja bagi para ahli dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan, tetapi juga bagi pembaca umumnya yang peduli dengan problem pendidikan Islam.
Hasrat akan keinginan akan kembali pada nilai eksistensi semakin mendesak bagi manusia Barat. Hal ini dikarenakan, dunia ilusi yang mereka ciptakan disekelilingnya untuk melupakan dimensi transenden kehidupan mereka yang hilang, mulai menunjukan watak yang sesungguhnya. Sehingga segala respon yang terjadi harus bersumber dari tradisi-tradisi suci (agama) yang otentik. Terbukti bahwa pada saat ini di Barat sebagaian besar perhatian tertuju kepada metafisika dan spritualitas Timur, dan orang-orang Eropa maupun di Amerika rajin mencari buku-buku petunjuk, syair-syair atau musik-musik yang berhubungan dengan sufisme. Dalam hal ini ada sebuah pernyataan dari Barat yang menyebut Timur sebagai negeri pagi/negeri matahari terbit. Karena itu para penulis Barat ketika menceritakan pertemuan mereka dengan Timur, menyebut dunia Timur secara roamantis; Morgenlande. Seyyed Hossein Nasr memberikan pandangan bahwa, krisis-krisis eksistensial ataupun spritual yang dialami oleh manusia adalah bermula dari pemberontakan manusia modern kepada Tuhan. Yaitu ketika manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya. Manusia telah bergerak dari pusat eksistensinya sendiri menuju wilayah pinggiran eksistensi.

Sehingga menurut Nasr manusia modern semakin lama semakin menjauh dari pusat eksistensinya, yaitu manusia sebagai "citra Tuhan" di pusat dunia. Fenomena ini tidak saja dialami oleh dunia Barat tapi juga di dunia Timur secara umum dan dunia Islam secara khususnya juga telah melakukan kesalahan-kesalahan dengan mengulangi apa yang telah dilakukan Barat. Yaitu menciptakan masyarakat kota industri dan peradaban modern yang lupa akan tradisi dan pesan-pesan suci dari Timur, mereka tenggelam dalam masyarakat konsumtif. Dalam buku ini penulis mencoba untuk menguraikan berbagai bentuk pemikiran Seyyed Hossein Nasr yang berkaitan dengan permasalahan tersebut di atas agar kita bisa lebih mendalami pemikirannya khususnya pada bidang Islamisasinya. Sampai jumpa, besok. Di review buku selanjutnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar