Translate this written according your language!

Senin, 09 Mei 2016

JALAN CINTA PARA SUFI

Seorang sufiyah bernama Rabi’ah Adawiyah mengabdikan seluruh penghambaannya hanya demi cinta pada Dzat Yang Maha Indah. Dalam munajatnya, beliau menyeru “Tuhanku, sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu, biarlah aku terbakar api neraka Jahannam. Dan sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu, jauhkan aku darinya. Tapi, sekiranya aku beribadah kepada-MU hanya semata cinta kepada-Mu, Tuhanku, janganlah Kau halangi aku melihat keindahan-MU yang abadi”
Seorang sufi akan berlabuh di lautan mahabbah (cinta) ketika dia sudah mengarungi samudra makrifat (kenal) akan Dzat Yang Maha Indah. Dalam hadits  Qudsi, Tuhanpun berfirman,  “Aku adalah Dzat yang tak dikenal. Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.  Maka, untuk mengenal diri-Nya, Tuhan mengajak manusia untuk merenungi keindahan-keindahan jagad raya yang penuh fenomena dan misteri. Langit yang ditaburi bintang, gunung-gunung yang menjulang, lautan saat diterangi cahaya rembulan, bunga-bunga yang terbentang saat musim hujan.  Semua itu agar manusia semakin mengenal akan keagungan Tuhan.
Keindahan itu tentu tak hanya sebatas itu saja. Keindahan bisa dijumpai dalam segala fenomena alam. Karena itu, sebagian sufi menemukan keindahan-keindahan pada alunan musik dengan iringan suara merdu. Jalaluddin al-Rumi, misalnya, beliau menggunakan tari-tarian seraya membunyikan seruling dan drum dengan syair-syair ilahis (lagu-lagu sufi Turki) sebagai sarana penyadaran spiritual. Aktifitas ini kemudian dikenal dengan Thariqat Maulawi (Mevlevi). Sementara Umar ibn al-Faridh mengekspresikan cintanya melalui gubahan puisi dengan syair-syairnya yang amat indah.
Dewasa ini, musik yang bernuansa religi sangat banyak sekali. Lirik-liriknya banyak mengekspresikan getaran-getaran cinta dan puji-pujian. Ada Raihan, Debu, Cahaya Rasul, dan musik-musik lainnya. Hanya saja, tidak semua para sufi menggunakan musik dan puisi dalam mengekspresikan cintanya. Para sufi memiliki cara tersendiri untuk berkelana di samudra Ilahi. Dari itulah muncul beberapa pertanyaan dibenak hamba yang akan merintis jalan kesufiannya. Jalan apa yang mesti ditempuh oleh hamba yang ingin mengenal Tuhan? Lalu bekal apa saja yang harus dimiliki? Terus apakah dengan musik, kita juga bisa mengenal Tuhan?
Menelusuri lorong tasawwuf merupakan sebuah keniscayaan bagi hamba yang ingin mencapai puncak penghambaan. Kehidupan sufi atau zuhud seringkali dicontohkan oleh baginda Nabi, sahabat, tabi’in, dan  para sufi dari abad ke abad. Tentunya thariqah (jalan) yang ditempuh harus sejalan dengan al-Quran dan al-Hadits. Anjuran untuk menjalani kehidupan sufi sendiri terdapat dalam surat al-Hadid ayat 20 yang berbunyi: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.
Namun harus dicatat, kehidupan sufi atau asketisme (kezuhudan) bukan berarti memalingkan diri dari kehidupan masyarakat. Asketisme membekali tenaga-tenaga rohaniyah yang membuat para sufi mampu menghadapi kehidupan masyarakat di era modern ini. Sehingga, manusia tidak lagi diperbudak oleh harta, kekuasaaan ataupun hawa nafsu dan berpaling dari keterpesonaan kelezatan duniawi. Dan akhirnya keadilan sosial dalam bentuk yang luhur akan terwujudkan. Inilah sebenarnya makna teragung dari pengembaraan menuju dunia sufi.
Perlu diketahui pula, untuk menjelajah belantara sufi membutuhkan tekad kuat. Karena untuk menjadi seorang sufi, harus mau menanggalkan sifat-sifat insaniyyah-nya. Dengan cara menjauhkan diri dari kemaksiatan walau sekecil apapun. Berusaha melupakan semua hasrat keduniaan. Dan pada mulanya, proses menuju kehidupan sufi seringkali diawali dengan kegundahan dan kegelisahan yang luar biasa. Krisis ini pernah dialami oleh sufi terkenal, al-Ghazali. Selama enam bulan, beliau berada dalam keraguan antara daya tarik pesona duniawi dengan seruan Ilahi. Akhirnya, dalam kondisi tersudut dan tanpa daya, beliau memutuskan menuju Tuhan.
Jalan yang ditempuh seorang sufi jelas berbeda-beda. Sejak zaman Rasul (abad ke-1) sampai berdirinya thariqat (abad ke-6 dan ke-7). Namun secara umum, tahap awal yang mesti dipersiapkan oleh orang yang akan memasuki kehidupan sufi adalah penataan moral dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Seperti, latihan jiwa, taubat, kesabaran, ridha, tawakkal, taqwa, rasa takut, cinta, ingat Allah, menyucikan jiwa dari penyakit-penyakitnya, memperbaiki prilaku dan etika-etikanya serta fase-fase lainnya.
Menurut al-Qusyairi, para sufi periode pertama, disamping menggunakan terminolog thariq, thariqat, juga menggunakan istilah suluk (perjalanan). Semua itu dimaksudkan untuk mengekspresikan aspek psiko-moral dalam perjalanannya menuju Tuhan yang terdiri dari fase-fase, yaitu tingkatan dan keadaaan. Tingkatan yang dimaksud adalah taubat, sabar, ridha, yakin, cinta, tawakkal, dan lainnya. Sementara yang disebut dengan keadaan adalah fana’, baqa’, rasa takut, rasa akrab dan lainnya. Semua itu harus dilalui sampai pada tingkatan tauhid ataupun mengenal Allah sebagai ujung dari pengembaraan sang sufi. Agar seseorang bisa sampai ke Tuhan dengan benar, Al-Ghazali menyarankan bahwa, menempuh kehidupan sufi harus melalui petunjuk guru. Sebab, jalan keagamaan terkadang begitu samar, sementara jalan syetan sangat beraneka ragam. Maka guru menjadi penting untuk memberi petunjuk agar tidak sesat di jalan.
Dengan demikian, seseorang bisa mencapai Tuhannya dengan berbagai macam jalan yang dapat ia tempuh. Kunci yang paling utama dalam menuju Tuhan adalah bagaimana ia bisa menyucikan jiwanya, dan membersihkan hatinya dari berbagai penyakit yang bersarang dihatinya, serta meninggalkan kesenangan dunia dan hanya semata-mata menghadap Allah dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya dan berpaling dari selain Allah dengan cara melawan hawa nafsunya.
Untuk berkelana di belantara sufi bisa menggunakan bermacam thariqat. Semua thariqat tak masalah ditempuh, asal tidak bertentangan dengan ruh syari’ah. Begitu juga dengan musik. Tapi sekali lagi, musik hanyalah perantara bukan tujuan. Tujuan teragung yang hendak dicapai adalah berlayar di lautan ma’rifat dan berlabuh di dermaga mahabbah. Semoga kita bisa mencapainya. Semoga kita selalu istiqomah dalam menulis. sampai jumpa besok.UI, Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar