Menurut saya setelah
sekian hari saya menulis di blog pribadi saya dengan nama blog :
ezinawawi.blogspot.co.id. saya ingin mengatakan bahwa menulis itu mudah namun
juga terkadang sulit. Sehingga banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya
budaya menulis di kalangan para guru kita. Kita tidak
perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan
atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para
guru. Anda membaca surat
kabar ? Hitunglah
berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali. Bukan ?
Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak
terbiasa menulis ? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam realitasnya,
memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media
massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam
pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus
membuat karya tulis kalau mau cepat naik pangkat. Ketidak mampuan ini telah
melahirkan sebuah kebohongan baru di dalam diri sebagian guru yang ingin cepat
naik pangkat. Caranya banyak, bisa dengan meminta tanaga orang lain, dengan cara
membayar dan bahkan bahkan dengan melakukan tindakan pemalsuan.
Ini sebuah tindakan memalukan dan merendahkan
kredibilitas guru. Padahal, kalau bisa menulis karya tulis sendiri, aktivitas
ini adalah sebuah upaya pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri.
Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya,
seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian? Dilihat dari
perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki
potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan
berupa pengalaman pribadi tentang system dan model pembelajaran yang
dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga
menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula memaparkan tentang sisi-sisi
kehidupan guru dan sebagainya.
Di pihak lain, sebagai objek, selama ini banyak
orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan, sebagai bahan tulisan.
Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi
guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru
yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya,
tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru.
Padahal, kalau semua ini ditulis oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan
menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.
Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat
dipetik guru, kalau mereka mau menulis. Keuntungan-keuntungan itu antara lain: Pertama, kegiatan menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat memberikan
motivasi tinggi kepada guru. Ketika tulisan–tulisan (karya tulis)
dipublikasikan di media, kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong
untuk menulis lagi. Kita juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu. Ini
sering menjadi motivasi. Nah, bila guru banyak menulis, maka sang guru akan
sangat termotivasi bahwa akan mendapat
nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke dalam kelompok
intelektual.
Ini salah satu nilai positifnya. Kedua, kegiatan
menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai
penulis Harefa). Karena kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti harus
melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti ril seperti membaca berbagai
referensi atau literature dan juga membaca realitas social. Pada proses ini
sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar
mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan
mencari solusi. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru menjadi sosok
pendidik yang kritis. Kalau ini dilakukan, kesan guru malas belajar akan pupus. Ketiga, percaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas.
Para penulis yang sering menulis di media massa, biasanya akan dikenal oleh
banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik, pasti
para pembaca akan selalu teringat dengan si penulisnya. Guru juga akan bisa
memiliki banyak penggemar di bidang ini.
Sekali lagi, kalau guru mau menulis.
"Keempat", tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa
menambah “income”. Tidak percaya
? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis ke media. Bila tulisan dimuat, maka
kocek akan bertambah. Bagi guru menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang
dihadapi para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat
kesejahteraannya. Dan Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku,
performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar
dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya ? Silakan coba. Kelima, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru.
Dengan menulis, guru bisa menambah angka
kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar
selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel yang dimuat di media massa,
nilai kreditnya 2 point. Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu
mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk
kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru,kalau guru mau
menulis. Betapa sayangnya, kalau guru malas, atau tidak bisa menulis. Padahal,
kata Dylan Thomas "Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu
apa yang engkau pikirkan"
Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi
para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru
bisa menulis. Bukankah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam
menulis. Guru memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan
solusif ? Bukankah merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau
guru banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam
sebuah tulisan, apapun bentuknya. Apakah para guru harus diberikan dorongan
ekstra ?
Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau
guru mau berlatih, bertlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat
guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Kalau guru mau menulis,pasti akan banyak
anak didik yang bisa menjadi penulis andalan. Kiranya tidak ada kata terlambat
bagi para guru untuk menulis.
Namun ada juga yang
berpendapat bahwa menulis itu bisa sangat mudah dan bisa sangat sulit. Menulis menulis
apa pun menjadi
sangat mudah apabila seseorang, yang berniat menuliskan sesuatu itu, mengawali
kegiatan menulisnya dengan cara menulis yang ditujukan kepada dirinya sendiri
terlebih dahulu. Namun, menulis dapat tiba-tiba berubah menjadi monster yang
sangat menakutkan alias sulit sekali dilakukan apabila, sebelum mengawali
menulis, seseorang sudah memikirkan terlebih dahulu hal-hal yang berada di luar
kendalinya misalnya, bagaimana menemukan judul yang ”menggigit”, membuat
pembuka yang menarik, atau memiliki argumentasi yang meyakinkan dan sangat
kokoh.
Membuat
judul yang baik, membuka tulisan dengan sesuatu yang menarik perhatian, atau
memiliki referensi yang kokoh adalah penting. Namun, semua itu dapat dipikirkan
dan ditemukan bukan di awal kegiatan menulis. Sebaiknya, itu dipikirkan setelah
dia selesai mengeluarklan (menuliskan) bahan-bahan mentah yang ingin dijadikan
sebuah tulisan apakah itu berupa karya ilmiah, artikel opini, atau sebuah buku.
Tak sedikit orang yang telah memiliki bahan yang baik dan juga potensi menulis
yang lumayan, ujung-ujungnya, setelah kepayahan menulis, menjadi berhenti total
menulis gara-gara tidak langsung dapat menuliskan (menemukan) sesuatu yang
membuat dirinya percaya diri.
Dalam
tulisan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda beberapa hal penting terkait
dengan kegiatan menulis (menulis apa pun) dan bagaimana menghasilkan tulisan
yang membuat diri sangat percaya diri. Saya berharap, gagasan saya ini dapat
membantu Anda untuk menjadi mudah dalam menjalani kegiatan menulis dan, pada
akhirnya, Anda juga dapat menghasilkan tulisan yang benar-benar dapat
mencerminkan diri Anda. Materi tulisan ini, terutama, memang, saya tujukan
untuk membuat diri Anda dapat menulis dengan penuh percaya diri. Tak berhenti
di situ, saya berharap juga, nantinya, materi ini dapat membantu Anda dalam
memanfaatkan kegiatan menulis untuk pengembangan diri.
Ada
tiga materi yang akan saya sampaikan: Pertama, materi yang berkaitan dengan
”writer’s block” atau kebuntuan yang sering dialami oleh seorang penulis, baik
penulis pemula maupun profesional; kedua, tentang ”kotak peralatan” (tool box) menulis
yang dapat Anda miliki dan manfaatkan untuk mengatasi kebuntuan atau kemacetan
menulis yang tiba-tiba; dan ketiga tentang teknik menulis yang digagas dan
dikembangkan oleh Natalie Goldberg (dalam bukunya Writing Down the Bones:
Freeing the Writer Within), Peter Elbow (Writing without Teachers), dan James
W. Pennebaker (Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions).
Tentu,
kita semua yang pernah merasakan bagaimana repotnya menulis memahami
bahwa ada banyak sekali faktor yang membuat seseorang mengalami kemacetan atau
kebuntuan menulis. Bagi saya, faktor-faktor itu dapat dikategorikan menjadi
dua: teknis dan nonteknis. Problem-problem menulis yang bersifat teknis
biasanya dapat dipecahkan dengan teknik-teknik menulis. Beberapa contoh: Jika
seseorang tidak berhasil menemukan judul yang baik, dia dapat mendaftar pelbagai
kombinasi kata yang memberikan arti baru dan berbeda terkait dengan materi inti
atau gagasan yang ditulisnya. Lantas, jika seseorang tidak dapat menuliskan apa
pun (blank) di layar komputernya ketika ingin
mengawali menulis dia dapat, misalnya, menggunakan teknik ”free writing” (menulis bebas).
Berbeda
dengan problem-problem teknis, problem nonteknis lebih rumit untuk dipahami dan
diatasi karena sifatnya yang, kadang, tidak jelas (tidak mudah dipahami).
Sebagai contoh sederhana, terkait dengan problem nonteknis, adalah: Bagaimana
kita dapat merasa nyaman dan percaya diri ketika menuliskan sesuatu? Bagaimana
pula kita dapat menemukan gagasan yang dahsyat? Dan bagaimana agar, selama
menuliskan materi, kita dapat menjadikan gagasan awal itu berkembang sedikit
demi sedikit dan akhirnya mencapai puncak? Contoh lain adalah terkait dengan
bagaimana kita membangkitkan gairah dan semangat untuk mencicil menulis.
Menulis tidak dapat sekali jadi. Jika menulis dipaksakan dan harus segera jadi,
yang muncul adalah siksaan dan rasa frustrasi. Nah, bagaimana mengatasi
pelbagai problem nonteknis menulis ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda
dengan yang bersifat teknis. Berikut adalah daftar sebagian kecil ”writer’s block” yang terkait
dengan problem nonteknis menulis: pertama, Ketakutan mengeluarkan sesuatu yang “original” secara sangat bebas. Kedua, Kebingungan menentukan materi yang
ingin dikeluarkan.ketiga, Ketidakpercayaan diri atas apa yang
akan, sedang, dan telah dikeluarkan. Keempat, Kemacetan dalam mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat dipahami. Kelima, Ketiadaan kreativitas blank,
buntu, gelap yang memberikan tekanan. Dan di
bawah ini adalah cara mengatasinya: pertama, Tulis, tulis, tulis apa saja. Kedua, Tidak ada yang sempurna di awal. Ketiga, Pembiasaan menulis secara kontinu
dan konsisten. Keempat, “Buang” saja yang membuat macet (Elbow dan Pennebaker). Kelima, Ubah perspektif dalam memandang sesuatu
Dapat
merumuskan dan kemudian memahami ”writer’s block” tanpa harus
segera memecahkannya sesungguhnya sudah sangat menguntungkan bagi seorang penulis.
Setidaknya, dia dapat tidak memaksakan diri untuk terus menulis. Dia kemudian
sadar bahwa menulis memang tidak bisa sekali jadi. Menulis perlu dicicil dan
dikembangkan secara perlahan-lahan dan hati-hati. Terburu-buru atau
tergesa-gesa menyelesaikan sebuah tulisan akan menghalanginya untuk
menghasilkan tulisan yang baik tulisan yang dapat membuat dirinya sangat percaya diri.
Terkait dengan ”kotak peralatan”-menulis ini, marilah kita meminta bantuan Stephen King. Siapa King? King adalah penulis novel ”thriller” kondang yang sangat produktif. Beberapa novelnya telah dilayarlebarkan. Salah satu yang terkenal (dan mencekam) adalah film Green Mile yang pemeran-utamanya Tom Hanks. Pada tahun 2000, King menerbitkan karya nonfiksi satu-satunya, On Writing: A Memoir of the Craft. Karya nonfiksi King ini telah mendapatkan banyak pujian, antara lain mendapatkan penghargaan berupa ”Bram Stoker Award 2000”, ”Horror Guild 2001”, dan ”Locus Award 2001”. Dalam karyanya ini, King menceritakan secara menarik tentang pengalamannya menulis dan apa itu menulis dalam pandangannya.
Terkait dengan ”kotak peralatan”-menulis ini, marilah kita meminta bantuan Stephen King. Siapa King? King adalah penulis novel ”thriller” kondang yang sangat produktif. Beberapa novelnya telah dilayarlebarkan. Salah satu yang terkenal (dan mencekam) adalah film Green Mile yang pemeran-utamanya Tom Hanks. Pada tahun 2000, King menerbitkan karya nonfiksi satu-satunya, On Writing: A Memoir of the Craft. Karya nonfiksi King ini telah mendapatkan banyak pujian, antara lain mendapatkan penghargaan berupa ”Bram Stoker Award 2000”, ”Horror Guild 2001”, dan ”Locus Award 2001”. Dalam karyanya ini, King menceritakan secara menarik tentang pengalamannya menulis dan apa itu menulis dalam pandangannya.
Saya
menemukan istilah ”kotak perkakas”-menulis di buku On Writing. Secara sangat
impresif, King mengisahkan ihwal ”kotak perkakas”-menulis mulai di halaman 145.
Ketika itu, King berusia sembilan tahun. Dia punya paman bernama Oren. Paman
Oren berprofesi sebagai tukang kayu. Pada suatu hari, rumah yang ditempati King
pintunya rusak. Paman Oren pun diminta untuk membetulkan pintu yang rusak
tersebut. King melihat Paman Oren membawa ”kotak perkakas” (tool box) yang
beratnya dapat mencapai 60 kilogram. Ternyata, Paman Oren hanya mengambil satu
jenis obeng untuk membetulkan pintu tersebut. King merasa heran. Mengapa hanya
perlu satu obeng kok Paman Oren harus membawa-bawa ”kotak perkakas” yang sangat
berat.
”Ya;
tapi Stevie,” kata Paman Oren melihat keheranan King, ”aku tidak tahu apa lagi
yang akan kutemukan begitu aku sampai di sini. Yang paling tepat adalah aku
membawa semua peralatan itu. Jika tidak, kau biasanya akan menemukan sesuatu
yang tidak kauharapkan dan jadi kecewa.” Dari pengalaman pada masa kecilnya
itu, King kemudian menulis: ”Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan
tulisan terbaik—sesuai dengan kemampuanmu kau harus
menyediakan kotak perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu
agar kau bisa mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat
betapa sulitnya pekerjaan yang harus kau lakukan dan menjadi tidak bersemangat,
sebaiknya kau segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai
bekerja.”
Salah
satu peralatan penting menulis yang harus ada di ”kotak perkakas”-menulis,
menurut King, adalah kosakata. Saya menamakannya dengan kekayaan bahasa.
Seorang penulis mungkin sudah memiliki banyak teknik menulis. Hanya
teknik-teknik menulis itu tidak akan bermanfaat misalnya untuk
mengatasi problem teknis menulis jika dia tak
memiliki kekayaan bahasa. Menulis adalah mengeluarkan sesuatu dari dalam diri baik
itu berupa pengalaman, pengetahuan, atau gagasan dengan bantuan
kata-kata. Jika seorang penulis miskin bahasa atau kata-kata, dia akan
kesulitan mengeluarkan dan merumuskan gagasannya. Bagaimana agar kita kaya
kata-kata? Kuncinya adalah dengan rajin membaca teks-teks yang ”bergizi”.
Selain
kosakata, saya mengusulkan dua peralatan lagi yang harus tersedia di ”kotak
perkakas”: mengikat makna dan pemetaan pikiran (mind mapping). Mengikat makna
adalah sebuah konsep yang saya temukan untuk membuat kegiatan membaca seseorang
menjadi efektif dan kegiatan menulisnya pun akan menjadi mudah dan lancar. Inti
konsep mengikat makna adalah ”membaca memerlukan menulis dan menulis memerlukan
membaca”. Sementara itu, pemetaan pikiran adalah sebuah cara untuk
mengembangkan ide dan menemukan ide yang tidak biasa. Pemetaan pikiran, yang
ditemukan oleh Tony Buzan, kemudian dikembangkan oleh Dr. Gabriele L. Rico
menjadi teknik ”clustering”. Teknik ”clustering” ini sangat berguna untuk
menjalankan kegiatan menulis yang alamiah.
Kata-kata
Rhenald Kasali yang saya kutip di paling awal tulisan ini, saya peroleh dari
artikel-menariknya di Kompas edisi Selasa, 20 April 2010. Judul artikel itu
”Orang Pintar Plagiat”. Bagaimana agar kita dapat menuliskan sesuatu yang
”original” yang berasal dari pikiran kita sendiri? Gunakanlah teknik menulis
bebas (free writing) ketika Anda sedang berlatih menulis atau menjalankan
kegiatan awal menulis. Ada tiga tokoh yang saya rujuk terkait dengan teknik
menulis bebas. Pertama, Natalie Goldberg. Natalie adalah instruktur menulis
bebas yang sangat terkenal di Amerika Serikat. Kedua, Peter Elbow. Elbow adalah
profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di Universitas Massachusetts,
Amherst, Amerika Serikat. Dan ketiga, Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog
peneliti yang meneliti tentang kegiatan menulis yang dapat menyembuhkan.
Sebagaimana
telah saya tunjukkan di bagian sebelum ini, Natalie menulis buku berjudul
Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within (1986). Buku ini telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2005 dengan judul Alirkan
Jati Dirimu: Esai-Esai Ringan untuk Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis.
Natalie, dalam bukunya, memang tak hanya mengajarkan kepada kita bagaimana
menulis bebas. Dia meminta kepada siapa saja yang menggunakan tekniknya untuk
kemudian menemukan jati dirinya selama menulis bebas. Bagi saya, mengalirkan
jati diri identik dengan mengalirkan sesuatu yang “original” yang berasal dari
diri kita.
Berbeda
dengan Natalie, Elbow lebih menekankan bagaimana seorang penulis dapat meraih
kenyamanan terlebih dahulu ketika ingin memulai kegiatan menulis. Kenyamanan
menulis sangat penting untuk diraih di awal sebelum seorang penulis berhasil
mengeluarkan ide-ide hebatnya. Dalam bukunya, Writing without Teachers (terbit
pertama kali pada 1973 dan kemudian direvisi pada 1998) edisi
revisi karya Elbow sudah diterjemahkan pula dengan judul Merdeka dalam Menulis
(2007) Elbow
menginginkan agar seseorang, ketika mengawali menulis, bagaikan sedang
menyampaikan sesuatu secara lisan (berbicara). Teknik menulis bebasnya ini
ingin mengajak setiap penulis untuk tidak buru-buru mengoreksi apa yang sudah
berhasil dikeluarkannya secara tertulis. Nah, lewat
risetnya, Dr. Pennebaker menemukan bahwa kegiatan menulis yang sangat bebas
(”opening up” atau blak-blakan) dapat membantu seseorang untuk mengatasi
tekanan hebat (depresi). Riset Dr. Pennebaker kemudian dibukukan pada tahun
1990. Saya pernah mmepraktikkan saran Dr. Pennebaker ini untuk “membuang” dengan
memanfaatkan kegiatan menulis seluruh materi yang menggangu pikiran saya. Materi atau “sampah”
pikiran itu saya keluarkan secara mencicil dan setiap kali selesai (karena
lelah), saya berhenti dan tidak membaca materi tersebut. Saya biasa
mengendapkannya sehari. Materi “sampah” itu saya baca dengan cara menyeleksi
(bukan mengoreksi). Saya membuang yang tidak perlu dan kemudian mengumpulkan
materi di antara
tumpukan materi “sampah” yang benar-benar sangat penting dan berharga bagi diri saya.
Efek
yang saya rasakan dalam menjalankan kegiatan menulis dengan teknik “opening up”
ini luar biasa! ketika usia saya melewati angka 25,
saya dapat membuat buku sebanyak 5 judul. Jika
dipukul rata, setiap lima bulan sekali, lahirlah satu buku
karya saya. Bukan hasil yang banyak dan cepat itu yang ingin saya banggakan di
sini. Lewat pemanfaatan teknik ”opening up”, saya dapat membebaskan diri saya
dari segala “penjara” aturan menulis ketika saya
ingin memulai menulis. Aturan menulis tentu baik-baik saja dan dapat memandu
kita untuk menghasilkan tulisan yang baik. Hanya jika aturan menulis itu kemudian
berubah menjadi kerangkeng menjadikan kita ragu-ragu dalam mengeluarkan pikiran kita tentulah
itu dapat membuat diri kita impoten (tidak mampu) menulis. Selamat membaca, tulisan ini
disadur dari berbagai referensi. Semoga menginspirasi. Sampai jumpa besok,
ditulisan dan di segmen yang berbeda. Perpustakaan , UIN Sunan Kalijaga.
Yogyakarta.

oke, gus aku daftar hehee
BalasHapus