Translate this written according your language!

Minggu, 15 Mei 2016

DICARI GURU YANG MAMPU DAN MAU MENULIS


Menurut saya setelah sekian hari saya menulis di blog pribadi saya dengan nama blog : ezinawawi.blogspot.co.id. saya ingin mengatakan bahwa menulis itu mudah namun juga terkadang sulit. Sehingga banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan para guru kita. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar ? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali. Bukan ?
Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis ? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus membuat karya tulis kalau mau cepat naik pangkat. Ketidak mampuan ini telah melahirkan sebuah kebohongan baru di dalam diri sebagian guru yang ingin cepat naik pangkat. Caranya banyak, bisa dengan meminta tanaga orang lain, dengan cara membayar dan bahkan bahkan dengan melakukan tindakan pemalsuan.
Ini sebuah tindakan memalukan dan merendahkan kredibilitas guru. Padahal, kalau bisa menulis karya tulis sendiri, aktivitas ini adalah sebuah upaya pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri. Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian? Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang system dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula memaparkan tentang sisi-sisi kehidupan guru dan sebagainya.
Di pihak lain, sebagai objek, selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan, sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru. Padahal, kalau semua ini ditulis oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.
Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru, kalau mereka mau menulis. Keuntungan-keuntungan itu antara lain: Pertama, kegiatan menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada guru. Ketika tulisan–tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media, kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong untuk menulis lagi. Kita juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu. Ini sering menjadi motivasi. Nah, bila guru banyak menulis, maka sang guru akan sangat termotivasi bahwa akan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke dalam kelompok intelektual.
Ini salah satu nilai positifnya. Kedua, kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai penulis Harefa). Karena kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti ril seperti membaca berbagai referensi atau literature dan juga membaca realitas social. Pada proses ini sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan mencari solusi. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru menjadi sosok pendidik yang kritis. Kalau ini dilakukan, kesan guru malas belajar akan pupus. Ketiga, percaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yang sering menulis di media massa, biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan si penulisnya. Guru juga akan bisa memiliki banyak penggemar di bidang ini.
Sekali lagi, kalau guru mau menulis. "Keempat", tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa menambah income. Tidak percaya ? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis ke media. Bila tulisan dimuat, maka kocek akan bertambah. Bagi guru menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat kesejahteraannya. Dan Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku, performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya ? Silakan coba. Kelima, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru.
Dengan menulis, guru bisa menambah angka kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel yang dimuat di media massa, nilai kreditnya 2 point. Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru,kalau guru mau menulis. Betapa sayangnya, kalau guru malas, atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas "Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan"
Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru bisa menulis. Bukankah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Guru memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solusif ? Bukankah merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau guru banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah tulisan, apapun bentuknya. Apakah para guru harus diberikan dorongan ekstra ?
Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau guru mau berlatih, bertlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Kalau guru mau menulis,pasti akan banyak anak didik yang bisa menjadi penulis andalan. Kiranya tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk menulis.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa menulis itu bisa sangat mudah dan bisa sangat sulit. Menulis menulis apa pun menjadi sangat mudah apabila seseorang, yang berniat menuliskan sesuatu itu, mengawali kegiatan menulisnya dengan cara menulis yang ditujukan kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. Namun, menulis dapat tiba-tiba berubah menjadi monster yang sangat menakutkan alias sulit sekali dilakukan apabila, sebelum mengawali menulis, seseorang sudah memikirkan terlebih dahulu hal-hal yang berada di luar kendalinya misalnya, bagaimana menemukan judul yang ”menggigit”, membuat pembuka yang menarik, atau memiliki argumentasi yang meyakinkan dan sangat kokoh.
Membuat judul yang baik, membuka tulisan dengan sesuatu yang menarik perhatian, atau memiliki referensi yang kokoh adalah penting. Namun, semua itu dapat dipikirkan dan ditemukan bukan di awal kegiatan menulis. Sebaiknya, itu dipikirkan setelah dia selesai mengeluarklan (menuliskan) bahan-bahan mentah yang ingin dijadikan sebuah tulisan apakah itu berupa karya ilmiah, artikel opini, atau sebuah buku. Tak sedikit orang yang telah memiliki bahan yang baik dan juga potensi menulis yang lumayan, ujung-ujungnya, setelah kepayahan menulis, menjadi berhenti total menulis gara-gara tidak langsung dapat menuliskan (menemukan) sesuatu yang membuat dirinya percaya diri.
Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda beberapa hal penting terkait dengan kegiatan menulis (menulis apa pun) dan bagaimana menghasilkan tulisan yang membuat diri sangat percaya diri. Saya berharap, gagasan saya ini dapat membantu Anda untuk menjadi mudah dalam menjalani kegiatan menulis dan, pada akhirnya, Anda juga dapat menghasilkan tulisan yang benar-benar dapat mencerminkan diri Anda. Materi tulisan ini, terutama, memang, saya tujukan untuk membuat diri Anda dapat menulis dengan penuh percaya diri. Tak berhenti di situ, saya berharap juga, nantinya, materi ini dapat membantu Anda dalam memanfaatkan kegiatan menulis untuk pengembangan diri.
Ada tiga materi yang akan saya sampaikan: Pertama, materi yang berkaitan dengan ”writer’s block” atau kebuntuan yang sering dialami oleh seorang penulis, baik penulis pemula maupun profesional; kedua, tentang ”kotak peralatan” (tool box) menulis yang dapat Anda miliki dan manfaatkan untuk mengatasi kebuntuan atau kemacetan menulis yang tiba-tiba; dan ketiga tentang teknik menulis yang digagas dan dikembangkan oleh Natalie Goldberg (dalam bukunya Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within), Peter Elbow (Writing without Teachers), dan James W. Pennebaker (Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions).
Tentu, kita semua yang pernah merasakan bagaimana repotnya menulis memahami bahwa ada banyak sekali faktor yang membuat seseorang mengalami kemacetan atau kebuntuan menulis. Bagi saya, faktor-faktor itu dapat dikategorikan menjadi dua: teknis dan nonteknis. Problem-problem menulis yang bersifat teknis biasanya dapat dipecahkan dengan teknik-teknik menulis. Beberapa contoh: Jika seseorang tidak berhasil menemukan judul yang baik, dia dapat mendaftar pelbagai kombinasi kata yang memberikan arti baru dan berbeda terkait dengan materi inti atau gagasan yang ditulisnya. Lantas, jika seseorang tidak dapat menuliskan apa pun (blank) di layar komputernya ketika ingin mengawali menulis dia dapat, misalnya, menggunakan teknik  ”free writing” (menulis bebas).
Berbeda dengan problem-problem teknis, problem nonteknis lebih rumit untuk dipahami dan diatasi karena sifatnya yang, kadang, tidak jelas (tidak mudah dipahami). Sebagai contoh sederhana, terkait dengan problem nonteknis, adalah: Bagaimana kita dapat merasa nyaman dan percaya diri ketika menuliskan sesuatu? Bagaimana pula kita dapat menemukan gagasan yang dahsyat? Dan bagaimana agar, selama menuliskan materi, kita dapat menjadikan gagasan awal itu berkembang sedikit demi sedikit dan akhirnya mencapai puncak? Contoh lain adalah terkait dengan bagaimana kita membangkitkan gairah dan semangat untuk mencicil menulis. Menulis tidak dapat sekali jadi. Jika menulis dipaksakan dan harus segera jadi, yang muncul adalah siksaan dan rasa frustrasi. Nah, bagaimana mengatasi pelbagai problem nonteknis menulis ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda dengan yang bersifat teknis. Berikut adalah daftar sebagian kecil ”writer’s block” yang terkait dengan problem nonteknis menulis: pertama, Ketakutan mengeluarkan sesuatu yang “original” secara sangat bebas. Kedua, Kebingungan menentukan materi yang ingin dikeluarkan.ketiga, Ketidakpercayaan diri atas apa yang akan, sedang, dan telah dikeluarkan. Keempat, Kemacetan dalam mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat dipahami. Kelima, Ketiadaan kreativitas blank, buntu, gelap yang memberikan tekanan. Dan di bawah ini adalah cara mengatasinya: pertama, Tulis, tulis, tulis apa saja. Kedua, Tidak ada yang sempurna di awal. Ketiga, Pembiasaan menulis secara kontinu dan konsisten. Keempat, “Buang” saja yang membuat macet (Elbow dan Pennebaker). Kelima,  Ubah perspektif dalam memandang sesuatu
Dapat merumuskan dan kemudian memahami ”writer’s block” tanpa harus segera memecahkannya sesungguhnya sudah sangat menguntungkan bagi seorang penulis. Setidaknya, dia dapat tidak memaksakan diri untuk terus menulis. Dia kemudian sadar bahwa menulis memang tidak bisa sekali jadi. Menulis perlu dicicil dan dikembangkan secara perlahan-lahan dan hati-hati. Terburu-buru atau tergesa-gesa menyelesaikan sebuah tulisan akan menghalanginya untuk menghasilkan tulisan yang baik tulisan yang dapat membuat dirinya sangat percaya diri.
Terkait dengan ”kotak peralatan”-menulis ini, marilah kita meminta bantuan Stephen King. Siapa King? King adalah penulis novel ”thriller” kondang yang sangat produktif. Beberapa novelnya telah dilayarlebarkan. Salah satu yang terkenal (dan mencekam) adalah film Green Mile yang pemeran-utamanya Tom Hanks. Pada tahun 2000, King menerbitkan karya nonfiksi satu-satunya, On Writing: A Memoir of the Craft. Karya nonfiksi King ini telah mendapatkan banyak pujian, antara lain mendapatkan penghargaan berupa ”Bram Stoker Award 2000”, ”Horror Guild 2001”, dan ”Locus Award 2001”. Dalam karyanya ini, King menceritakan secara menarik tentang pengalamannya menulis dan apa itu menulis dalam pandangannya.
Saya menemukan istilah ”kotak perkakas”-menulis di buku On Writing. Secara sangat impresif, King mengisahkan ihwal ”kotak perkakas”-menulis mulai di halaman 145. Ketika itu, King berusia sembilan tahun. Dia punya paman bernama Oren. Paman Oren berprofesi sebagai tukang kayu. Pada suatu hari, rumah yang ditempati King pintunya rusak. Paman Oren pun diminta untuk membetulkan pintu yang rusak tersebut. King melihat Paman Oren membawa ”kotak perkakas” (tool box) yang beratnya dapat mencapai 60 kilogram. Ternyata, Paman Oren hanya mengambil satu jenis obeng untuk membetulkan pintu tersebut. King merasa heran. Mengapa hanya perlu satu obeng kok Paman Oren harus membawa-bawa ”kotak perkakas” yang sangat berat.
”Ya; tapi Stevie,” kata Paman Oren melihat keheranan King, ”aku tidak tahu apa lagi yang akan kutemukan begitu aku sampai di sini. Yang paling tepat adalah aku membawa semua peralatan itu. Jika tidak, kau biasanya akan menemukan sesuatu yang tidak kauharapkan dan jadi kecewa.” Dari pengalaman pada masa kecilnya itu, King kemudian menulis: ”Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan tulisan terbaik—sesuai dengan kemampuanmu kau harus menyediakan kotak perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu agar kau bisa mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat betapa sulitnya pekerjaan yang harus kau lakukan dan menjadi tidak bersemangat, sebaiknya kau segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai bekerja.”
Salah satu peralatan penting menulis yang harus ada di ”kotak perkakas”-menulis, menurut King, adalah kosakata. Saya menamakannya dengan kekayaan bahasa. Seorang penulis mungkin sudah memiliki banyak teknik menulis. Hanya teknik-teknik menulis itu tidak akan bermanfaat misalnya untuk mengatasi problem teknis menulis jika dia tak memiliki kekayaan bahasa. Menulis adalah mengeluarkan sesuatu dari dalam diri baik itu berupa pengalaman, pengetahuan, atau gagasan dengan bantuan kata-kata. Jika seorang penulis miskin bahasa atau kata-kata, dia akan kesulitan mengeluarkan dan merumuskan gagasannya. Bagaimana agar kita kaya kata-kata? Kuncinya adalah dengan rajin membaca teks-teks yang ”bergizi”.
Selain kosakata, saya mengusulkan dua peralatan lagi yang harus tersedia di ”kotak perkakas”: mengikat makna dan pemetaan pikiran (mind mapping). Mengikat makna adalah sebuah konsep yang saya temukan untuk membuat kegiatan membaca seseorang menjadi efektif dan kegiatan menulisnya pun akan menjadi mudah dan lancar. Inti konsep mengikat makna adalah ”membaca memerlukan menulis dan menulis memerlukan membaca”. Sementara itu, pemetaan pikiran adalah sebuah cara untuk mengembangkan ide dan menemukan ide yang tidak biasa. Pemetaan pikiran, yang ditemukan oleh Tony Buzan, kemudian dikembangkan oleh Dr. Gabriele L. Rico menjadi teknik ”clustering”. Teknik ”clustering” ini sangat berguna untuk menjalankan kegiatan menulis yang alamiah.

Kata-kata Rhenald Kasali yang saya kutip di paling awal tulisan ini, saya peroleh dari artikel-menariknya di Kompas edisi Selasa, 20 April 2010. Judul artikel itu ”Orang Pintar Plagiat”. Bagaimana agar kita dapat menuliskan sesuatu yang ”original” yang berasal dari pikiran kita sendiri? Gunakanlah teknik menulis bebas (free writing) ketika Anda sedang berlatih menulis atau menjalankan kegiatan awal menulis. Ada tiga tokoh yang saya rujuk terkait dengan teknik menulis bebas. Pertama, Natalie Goldberg. Natalie adalah instruktur menulis bebas yang sangat terkenal di Amerika Serikat. Kedua, Peter Elbow. Elbow adalah profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di Universitas Massachusetts, Amherst, Amerika Serikat. Dan ketiga, Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog peneliti yang meneliti tentang kegiatan menulis yang dapat menyembuhkan.
Sebagaimana telah saya tunjukkan di bagian sebelum ini, Natalie menulis buku berjudul Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within (1986). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2005 dengan judul Alirkan Jati Dirimu: Esai-Esai Ringan untuk Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis. Natalie, dalam bukunya, memang tak hanya mengajarkan kepada kita bagaimana menulis bebas. Dia meminta kepada siapa saja yang menggunakan tekniknya untuk kemudian menemukan jati dirinya selama menulis bebas. Bagi saya, mengalirkan jati diri identik dengan mengalirkan sesuatu yang “original” yang berasal dari diri kita.
Berbeda dengan Natalie, Elbow lebih menekankan bagaimana seorang penulis dapat meraih kenyamanan terlebih dahulu ketika ingin memulai kegiatan menulis. Kenyamanan menulis sangat penting untuk diraih di awal sebelum seorang penulis berhasil mengeluarkan ide-ide hebatnya. Dalam bukunya, Writing without Teachers (terbit pertama kali pada 1973 dan kemudian direvisi pada 1998) edisi revisi karya Elbow sudah diterjemahkan pula dengan judul Merdeka dalam Menulis (2007) Elbow menginginkan agar seseorang, ketika mengawali menulis, bagaikan sedang menyampaikan sesuatu secara lisan (berbicara). Teknik menulis bebasnya ini ingin mengajak setiap penulis untuk tidak buru-buru mengoreksi apa yang sudah berhasil dikeluarkannya secara tertulis. Nah, lewat risetnya, Dr. Pennebaker menemukan bahwa kegiatan menulis yang sangat bebas (”opening up” atau blak-blakan) dapat membantu seseorang untuk mengatasi tekanan hebat (depresi). Riset Dr. Pennebaker kemudian dibukukan pada tahun 1990. Saya pernah mmepraktikkan saran Dr. Pennebaker ini untuk “membuang” dengan memanfaatkan kegiatan menulis seluruh materi yang menggangu pikiran saya. Materi atau “sampah” pikiran itu saya keluarkan secara mencicil dan setiap kali selesai (karena lelah), saya berhenti dan tidak membaca materi tersebut. Saya biasa mengendapkannya sehari. Materi “sampah” itu saya baca dengan cara menyeleksi (bukan mengoreksi). Saya membuang yang tidak perlu dan kemudian mengumpulkan materi di antara tumpukan materi “sampah” yang benar-benar sangat penting dan berharga bagi diri saya.
Efek yang saya rasakan dalam menjalankan kegiatan menulis dengan teknik “opening up” ini luar biasa! ketika usia saya melewati angka 25, saya dapat membuat buku sebanyak 5 judul. Jika dipukul rata, setiap lima bulan sekali, lahirlah satu buku karya saya. Bukan hasil yang banyak dan cepat itu yang ingin saya banggakan di sini. Lewat pemanfaatan teknik ”opening up”, saya dapat membebaskan diri saya dari segala “penjara” aturan menulis ketika saya ingin memulai menulis. Aturan menulis tentu baik-baik saja dan dapat memandu kita untuk menghasilkan tulisan yang baik. Hanya jika aturan menulis itu kemudian berubah menjadi kerangkeng menjadikan kita ragu-ragu dalam mengeluarkan pikiran kita tentulah itu dapat membuat diri kita impoten (tidak mampu) menulis. Selamat membaca, tulisan ini disadur dari berbagai referensi. Semoga menginspirasi. Sampai jumpa besok, ditulisan dan di segmen yang berbeda. Perpustakaan , UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.


1 komentar: